oleh

Suami Pulang Sudah Jadi Jenazah

LINGGAU POS ONLINE, WATERVANG – Despi Lianty (38) tak mampu menahan kesedihannya. Warga Blok A5, Nomor 87 Kelurahan Nikan Jaya, Kecamatan Lubuklinggau Timur I itu tak menyangka, Sabtu (12/5) malam, bakal ditinggalkan sang suami Romi (39) untuk selama-lamanya.

“Saya terakhir ketemu suami Sabtu sore, pukul 15.30 WIB. Dia memang nggak pamit mau ke mana. Tapi tahu-tahu selepas Magrib, kakak suami yang kasih kabar ke saya. Bahwa dia ditelepon teman Sabtu (12/5) malam. Ngasih tahu kalau suami saya yang juga adik bungsu dia sudah meninggal. Kakak ipar saya langsung nyari ke seluruh rumah sakit di Lubuklinggau ini. Terakhir ketemunya di Kamar Jenazah, RS DR Sobirin,” terang Despi, saat datang ke Graha Pena Linggau, Kamis (17/5).

Despi yang mengenakan jilbab hitam, mengaku tak terima dengan kondisi jenazah suaminya yang luka lebam sekujur tubuh dan luka tembak di kaki kiri.

“Setelah lihat kondisi jenazah suami saya pukul 22.00 WIB di Kamar Jenazah RS DR Sobirin. Kami tahu jenazah suami di RS DR Sobirin bukan karena dapat informasi dari polisi. Tapi inisiatif kami keliling ke setiap rumah sakit. Lalu pukul 23.00 WIB jenazah kami bawa almarhum pulang ke rumah di Nikan Jaya. Keesokan harinya, Minggu (13/5) langsung dimakamkan di TPU Nikan Jaya,” jelas Despi lagi.

Sekalipun mengaku ikhlas, Despi tetap tak terima. Ia berusaha mencari tahu tentang kronologi meninggalnya sang suami, yang merupakan tulang punggung keluarga.

“Tahlilan malam pertama dan kedua, polisi ada yang datang ke rumah. Saya minta visum suami saya ke mereka. Tapi tidak dikasih. Saya mau tahu, bagaimana kronologi meninggalnya suami saya,” terang Despi lagi.

Despi didampingi kerabatnya sempat ke RS DR Sobirin, untuk tahu kapan sang suami masuk RS pertama kali. Menurut penuturan Despi, suami yang sudah menjadi teman hidupnya selama 12 tahun ini masuk ke UGD RS DR Sobirin sekitar pukul 19.00 WIB.

“Dari informasi tenaga kesehatan di RS DR Sobirin, suami saya dibawa polisi masuk pukul 19.00 WIB. Tapi saat ditanya dokter mau diberi tindakan segera, oknum polisi yang bawa suami saya ini bilang nggak usah. Lalu suami saya dibawa pergi lagi. Padahal saat itu, suami saya kondisinya sudah lemah,” jelasnya.

Lalu, lanjut Despi, suaminya kembali dibawa oknum polisi ke RS DR Sobirin satu jam kemudian, dalam kondisi sudah tidak bernyawa.

“Saya tak tahu apakah suami saya terlibat pencurian dengan kekerasan (Curas). Dia (suami,red) juga tidak pernah punya Senjata Api (Senpi). Kalau ada, saya pasti tahu. Ketika saya dapat informasi bahwa suami ditangkap di Jalan Kamboja, Kelurahan Marga Rahayu, Sabtu sore, saya lihat di foto itu tidak menunjukkan suami saya melawan. Dia duduk mengenakan kaos biru. Dengan kondisi tangan dan leher terikat,” terang Despi.

Ia yakin, sang suami tak melakukan perlawanan saat ditangkap. Karena Despi memastikan suaminya itu tak membawa senjata sama sekali, apalagi Senpi. Bahkan, Despi mengatakan, jikapun sang suami terlibat curas, belum pernah sekalipun ia membaca ada surat panggilan dari polisi terhadap suaminya.

“Saya pikir kalau suami saya benar terlibat, pasti ada surat pemanggilan 1, 2 atau 3. Ini tidak sama sekali. Saya tidak pernah baca. Padahal suami saya, sejak 2016 sebagaimana kasus yang disangkakan itu tidak pernah ke mana-mana. Nah, Kalau sudah ditangkap begitu, kenapa nggak di penjara saja. Nggak harus pulang dalam kondisi sudah jadi jenazah begini. Saya benar-benar tidak terima. Dan saya akan berjuang untuk mencari keadilan atas kematian suami saya. Sampai di manapun, saya akan melakukannya. Autopsi jenazah suami saya pun, saya siap,” tegas Despi dengan suara gemetar.

Selain itu, Despi juga mengaku sanksi dengan Surat Perintah Penangkapan yang disodorkan seorang anggota polisi pada kakak iparnya tidak tepat sebagaimana surat diterbitkan.

“Di surat perintah penangkapan itu tertanggal 12 Mei 2018 penangkapannya. Tapi kakak ipar saya baru diminta menandatanganinya dua hari kemudian, tepatnya 14 Mei 2018 pukul 12.45 WIB. Itu pun di kediaman kakak ipar saya, di Jalan KH Zahrudin, RT 02, Kelurahan Taba Jemekeh,” imbuhnya.

Keganjilan inilah yang membuat Despi makin keukeuh untuk mencari keadilan atas kematian sang suami. Yang dinilainya tidak wajar. (02)

Rekomendasi Berita