oleh

STIE Mura-Lubuklinggau Implementasi Tri Darma Perguruan Tinggi

* Gandeng Dosen Institut Teknologi Bandung
* Sosialisasi Pembuatan Pakan Ikan dari Larva Lalat

Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Musi Rawas-Lubuklinggau, DR H Abdullah Hehamahua melaksanakan kerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Musi Rawas, Kota Lubuklinggau, dan Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara) dibidang pengabdian masyarakat.

Program pengabdian masyarakat ini mendatangkan langsung dosen dari Institut Teknologi Bandung (ITB), DR Muhammad Yusuf Abduh, asisten dosen Nurhayati Br Tarigan, ST dan Bagoes M. Inderajaya, ST. Untuk memberikan sosialisasi pemanfaatan biji karet dan Lebah Trigona serta pembuatan pakan ikan.

Tujuan dilaksanakannya program ini untuk meningkatkan kesejahteraan petani di Kabupaten Musi Rawas, Kota Lubuklinggau dan Kabupaten Muratara.

Pelaksanaan kegiatan dilaksanakan Kamis (14/12) di Desa Sungai Kijang, Kecamatan Rawas Ulu, Kabupaten Muratara, Jumat (15/12) di Desa Pagersari, Kabupaten Musi Rawas dan di Dinas Perikanan, Kelurahan Air Kuti, Kecamatan Lubuklinggau Timur I.

Ketua STIE sekaligus Direktur Pascasarjana Musi Rawas-Lubuklinggau, H Abdullah Hehamahua mengatakan dilaksanakan program ini sebagai implementasi Tri Darma Perguruan Tinggi.

“Salah satu misi kita adalah menyelenggarakan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat sebagai pelaksanaan Tri Darma Perguruan Tinggi. Jadi ini bentuk implementasinya, karena memberikan inovasi-inovasi kepada masyarakat sangat penting dilakukan, karena kita tidak mau setengah-setengah dalam melaksanakan program maka kita bekerja sama langsung dengan dosen Institut Teknologi Bandung (ITB),” kata Abdullah Hehamahua kepada Linggau Pos, Jumat (15/12).

Karena, dari penilaian Abdullah sapaan akrab mantan penasihat KPK ini, Kabupaten Musi Rawas, Kota Lubuklinggau dan Kabupaten Muratara memiliki Sumber Daya Alam (SDA) yang sangat melimpah, khususnya sektor pertanian dengan komoditas karet. Sehingga, sudah seharusnya masyarakat berinovasi dalam memanfaatkan SDA tersebut untuk meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan para petani.

“Memang sebagian masyarakat sudah mengetahui manfaat-manfaat biji karet, namun dari pengamatan saya selama bertugas di daerah ini. Biji karet, banyak yang tidak dimanfaatkan dengan baik. Sehingga, saya mendatangkan langsung dosen ITB, yang sudah diakui Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia (Kemenristek Dikti RI) dalam menciptakan produk dengan sistem biodiesel berbasis minyak biji karet terintegrasi dengan budidaya Lalat Tentara Hitam dan Lebah Trigona,”ungkap Abdullah.

Sehingga, lanjut Abdullah, dengan kegiatan ini diharapkan masyarakat, khususnya ketua kelompok petani ikan, penyuluh pertanian dan peternakan, masyarakat, serta pemerintah daerah dapat mendukung dan mengimplementasikan apa yang sudah diberikan oleh narasumber dari ITB.

Apalagi, pihaknya tidak hanya memberikan sosialisasi saja. Akan tetapi langsung menyerahkan alat yang nantinya digunakan untuk memproduksi biodiesel berbasis minyak biji karet dengan terintegrasi budidaya Lalat Tentara Hitam dan Lebah Trigona.

“Kenapa kita memilih komoditas karet yang menjadi objek utama kita, karena karet tidak seperti sawit yang banyak menyerap air, sehingga membuat bumi terasa panas. Sehingga, dari akar hingga biji karet harus termanfaatkan dengan baik. Dengan begitu, ekonomi masyarakat dapat meningkat, dan biji karet tidak terbuang sia-sia,” imbuhnya.

Dalam pelaksanaan kegiatan, Abdullah didukung dan dibantu langsung oleh Ketua Yayasan Dwi Tunggal Palembang H Sardiyo, Pembantu Ketua I, II, dan III STIE Musi Rawas-Lubuklinggau, dosen, BNI, pemerintah Kabupaten Musi Rawas, Kota Lubuklinggau dan Kabupaten Muratara, serta mahasiswa.

Sementara itu, Dosen ITB, DR Muhammad Yusuf Abduh mengaku senang bisa bertemu langsung dengan masyarakat yang ada di tiga daerah ini. Apalagi, sambutan yang diberikan oleh masyarakat begitu baik.

“Saya bersama dua asisten saya Nurhayati Br Tarigan, ST dan Bagoes M. Inderajaya, ST memberikan materi yang berbeda-beda sesuai dengan keunggulan daerah masing-masing. Kalau di Kabupaten Muratara, tepatnya di Desa Sungai Kijang, kita memberikan materi secara full yaitu tentang sistem produksi biodiesel berbasis minyak biji karet. Kemudian, kita juga memberikan materi sekaligus praktek cara budidaya Lalat Tentara Hitam dan Lebah Trigona,”paparnya.

Kemudian, di Kabupaten Musi Rawas lanjut Yusuf, dirinya fokus memberikan materi tentang pembuatan pakan ikan dengan bahan dasar larva Lalat Tentara Hitam. Karena, memang daerah Musi Rawas selain unggul di sektor pertanian juga unggul di sektor perikanan.

Begitu juga di Lubuklinggau, dia bersama dua asistennya memberikan materi tentang budidaya larva Lalat Tentara Hitam.

“Penelitian ini berhasil dilakukan karena ada alumni-alumni ITB yang membantu saya, di mana alumni ini saya ajak langsung untuk memberikan materi kepada masyarakat. Alhamdulillah, penelitian yang sudah kita lakukan didukung langsung oleh Kemenristek Dikti. Sehingga, selain memberikan materi kita juga memberikan buku, alat-alat untuk menciptakan produk tersebut. Dan aneka produk berkhasiat yang diciptakan oleh saya dan alumni ITB,” tuturnya.

Penelitian tentang produksi biodiesel berbasis minyak biji karet terintegrasi dengan budidaya Lalat Tentara Hitam dan Lebah Trigona ini sudah mulai dilakukan sosialisasi sejak 2016 lalu. Pada saat itu, hanya Kabupaten Musi Rawas tepatnya di Kecamatan Sukakarya saja. Namun, seiring berjalannya waktu, Yusuf ingin produk ini, juga diberikan kepada masyarakat di daerah lain, dengan harapan, biji karet yang selama ini tidak termanfaatkan dengan optimal, menjadi salah satu barang yang bisa meningkatkan perekonomian masyarakat.

Yusuf mengakui, permasalahan yang dialami oleh petani ikan selama ini yaitu untuk biaya pakan ikan 50 % hingga 70 % dari total biaya produksi.Ini dikarenakan, bahan baku pembuatan yang semakin hari kian meningkat, harga pakan yang mahal, serta kebutuhan protein pakan ikan minimal 40 %.

“Kita lihat saja, media-media nasional dan lokal banyak sekali memberitakan tentang kesulitan petani dalam mendapatkan pakan ikan. Memang, secara kasat mata, pakan ikan mudah dicari, namun harganya mahal. Sehingga, antara pemasukan dengan pengeluaran yang dikeluarkan terkadang tidak seimbang. Sehingga, dengan inovasi pemanfaatan biji karet ini. Dapat mengurangi pengeluaran petani untuk membeli pakan ikan, karena sudah bisa menciptakan sendiri,” akunya.

Maka dari itu, Yusuf berharap, apa yang sudah diberikannya kepada masyarakat. Dapat diterapkan dengan baik, karena secara kontinu pihaknya bersama dengan STIE Musi Rawas-Lubuklinggau akan memantau dan terus membina, daerah-daerah yang memang unggul di sektor pertanian dan perikanan, apalagi sudah dilakukan MoU langsung dengan pemerintah daerah.

Hadir dalam pelaksanaan sosialisasi ini dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Muratara, Sekretaris Daerah H Abdullah Makcik, Kepala Dinas Perhubungan Alha Warizmi, Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Suhardiman diwakili oleh Kabid Perkebunan Mustopo, Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi H Syamsu Anwar diwakili oleh Kabid Industri Safawi, Camat Rawas Ulu Asim Nurdin, Kades Sungai Kijang Ibnu Hajar serta masyarakat desa.

Kabupaten Musi Rawas, Kepala Dinas Perikanan Musi Rawas, Ir Bambang Hariadi yang diwakili oleh Kepala Bidang Pemberdayaan Usaha Kecil Pembudidaya Ikan, Ervan Malik, penyuluh peternakan, kelompok petani ikan dari Kecamatan Megang Sakti, Tugumulyo, Purwodadi, dan Sumber Harta.

Sedangkan di Kota Lubuklinggau, hadir Walikota, H SN Prana Putra Sohe, Sekretaris Dinas Perikanan, H Sunar, Penyuluh Peternakan, Kelompok Petani Ikan, serta pengusaha kolam ikan. (12/Adv)

Komentar

Rekomendasi Berita