oleh

SNS Jalani Sidang dengan Perut Buncit

LUBUKLINGGAU – Masih ingat dengan kasus petugas Satresnarkoba yang menggerebek salah satu rumah di Desa Semangus Baru Kecamatan Muara Lakitan Kabupaten Musi Rawas (Mura), Sabtu (13/4) sekitar pukul 20.00 WIB yang lalu.

Kini kasusnya disidangkan di Pengadilan Negeri (PN) Lubuklinggau. Rabu (3/7) sekitar pukul 13.00 WIB di ruang sidang cakra Pengadilan Negeri (PN) Lubuklinggau, terdakwanya SNS (21) menjalani sidang perdana.

Sebelumnya, dalam perjalanan menuju ruang sidang, terdakwa hanya bisa pasrah mengikuti petugas keamanan dari kejaksaan yang menuntut ke ruang sidang. Bahkan terlihat sesekali, terdakwa mengelus perutnya yang terlihat buncit.

Saat hendak memasuki pintu masuk ruang sidang, Linggau Pos sempat bertanya kepada terdakwa terkait tentang perutnya. Terdakwa sambil mengucurkan air matanya, menjawab ia sedang hamil enam bulan.

Kemudian, dilanjutkan dari ucapan terdakwa saat ada dari salah seorang bertanya suami terdakwa. Ia hanya bisa menjawab bahwa suaminya yang berinisial FK, kabur saat petugas hendak menangkapnya.

Dalam persidangan yang dipimpin oleh Ketua Majelis Yuli SH didamping Anggota Hakim Dian Triastity SH dan Syahreza Papelma SH dengan Panitera Pengganti (PP) Sofwan, mendengarkan dakwaan yang dibacakan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Rodianah SH.

Ketika JPU Rodianah SH membacakan dakwaan, terlihat dari raut wajah Majelis Hakim merasa iba saat melihat terdakwa yang menahan rasa mual dengan menghirup aroma minyak kayu putih, ditambah raut terdakwa yang sangat nampak akan kesedihannya saat menjalani perdiangan.

Dalam kronologisnya, penangkapan terhadap SNS bermula dari salah satu warga yang menginformasi kepada Sat Resnarkoba Mura tentang adanya pelaku yang diduga pengedar narkoba golongan I jenis sabu. Saat itu pun petugas langsung menuju ke lokasi.

Kemudian diketahui bahwa pelaku yang berinisial Fk sedang ada di rumah tersebut. Fk sudah lama menjadi incaran polisi dan masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) untuk kasus Narkoba. Namun pada saat polisi melakukan penggerebekan, Fk berhasil kabur dengan melewati jendela dan berlari ke sungai Musi.

Saat dalam penggerebekan berlangsung polisi langsung melakukan penggeledahan di rumah tersebut terlihat terdakwa yang sedang tertidur di atas kasur. Kemudian, di dekat terdakwa ditemukan barang bukti diduga sabu di atas kasur, bahkan saat itu ditemukannya barang bukti lain diantaranya timbangan digital, sekop kecil, tiga bal plastik klip bening. Serta uang tunai senilai Rp4 juta, yang belakangan diakui terdakwa bahwa itu uang simpanan miliknya.

Dilanjutkan JPU, adapun pasal yang dibacakan dalam dakwaan, menyatakan bahwa terdakwa terancam Pasal 112 ayat 1 Undang-Undang (UU) No.35 Tahun 2009 tentang Narkotika, dengan hukuman maksimal pidana 12 tahun dan denda maksimal sebesar Rp8 miliar.

Atau dakwaan kedua, terdakwa diancam pada Pasal 131 ayat 1 UU No.35 Tahun 2009 tentang Narkotika, dengan ancaman hukuman satu tahun penjara dan denda maksimal Rp50 juta.

Seusai pembacaan dakwaan, Ketua Majelis hakim Yuli menawarkan terhadap terdakwa,

“Dalam proses persidangan, apakah terdakwa akan ditemani dengan kuasa hukumnya,” kemudian terdakwa yang masih belum mengerti, hanya bisa berucap dengan nada memberat, untuk diminta penjelasannya.

Kemudian, Majelis Hakim menjelaskan maksud dari Majelis Hakim, dan terdakwa pun menjawab, bahwa ia akan menjalani persidangan sendiri.

Kemudian Hakim Dian Triastuty bertanya kepada terdakwa, terkait kehamilannya, hal itu langsung dijawab oleh terdakwa bahwa ia sedang mengandung. Ia baru saja menjalani masa pernikahannya selama lima bulan yang lalu.

Seusai persidangan, isak haru langsung menyelimuti terdakwa yang mana saat itu terlihat JPU Rodianah langsung menuntut terdakwa menuju ke sel tahanan wanita di PN.

SNS bercerita ia selama ditahan belum pernah ada dari pihak keluarganya yang menjenguknya. Dilanjutkan terdakwa, bahwa selama itu pun dari pihak keluarganya hanya sekali ibunya yang menjenguknya.

Hal itu membuat ia terasa terbuang, dan tidak mengerti kenapa ia harus di tahan yang mana sebelumnya ia belum pernah menjalani hukuman ataupun berurusan dengan narkoba.

Dalam sel tahanan, terdakwa hanya menangis, dan menceritakan bahwa dari pihak keluarga suaminya memang sudah tidak menyetujui hubungan mereka.

“Saya juga nggak ngerti mas, kenapa nggak suka sama saya. Mungkin karena saya dari keluarga nggak punya,” ucapnya sambil mengusap air mata yang berlinang di pipinya. (yan)

Rekomendasi Berita