oleh

SMPN 9 Model Juara Film Pendek

LINGGAU POS ONLINE, LUBUKLINGGAU – Film pendek karya siswa-siswi SMP Negeri 9 Lubuklinggau yang diperankan Waka Kesiswaan Junaidi Setiawan, meraih Juara 3 Festival Film Pendek Tingkat SMP Model se-Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel). Kepala SMP Negeri 9 Lubuklinggau, Nurainun mengatakan, prestasi tersebut seakan jadi hadiah sesungguhnya bagi Junaidi jelang masa pensiunnya 1 Januari 2018 mendatang.

Film pendek berdurasi 3 menit 39 detik ini disutradarai Nurainun. Dalam kisah yang tersirat dari film tersebut, mengingatkan kepada kita betapa besar perjuangan para guru untuk mendidik kita selama ini. Terlepas dari siapapun kita sekarang, presiden, insinyur, doktor, profesor, bahkan arsitek sekalipun, tidak luput dari doa dan didikan para guru.

“Keyakinan yang berbeda-beda bukan halangan bagi kami untuk terus berteman. Sebab sebagaimana pesan yang selalu disampaikan guru favorit kami ‘Kebaikan tidak mengenal agama, kebaikan juga tidak mengenal suku dan jenis kelamin,” inilah skenario awal film pendek berjudul ‘Kebaikan Tak Mengenal Agama’ karya SMP Negeri 9 Model Lubuklinggau, yang tengah mengikuti Festival Film Pendek Sekolah Model se-Sumsel, tahun 2017.

“Jadi film ini diluncurkan, inspirasinya jaman saya masih sekolah dulu. Saya punya teman beragama kristen, beragama Budha dan memang mayoritas Muslim. Tapi kami tetap punya ikatan persahabatan yang erat. Keluarnya ide cerita itu, juga karena penyelenggara Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Sumsel minta agar karakter anak harus muncul di situ. Sehingga kami inisiatif bagaimana membangun toleransi, yang juga diimplementasikan dalam proses kita mendidik. Jadi sekalipun anak-anak ini beda agama, mereka rukun, bahkan punya kepedulian yang sama dari sisi sosial,” terang Nurainun.

Film itu menceritakan tentang empat sekawan beda agama, yang dimainkan M Arif Hutomo (siswa kelas VIII.4), Yosua Firnando (siswa kelas IX.4) , Imel Tree Candy (siswi kelas IX.4) dan Rasna Puspita Sari (siswi kelas VIII.2) . Mereka memiliki seorang guru favorit yang dimainkan sosok Junaidi Setyawan.

Persahabatan erat yang dijalin empat sekawan ini tidak terlepas dari pesan yang senantiasa ditanamkan sosok Guru Junaidi. Bahwa kebaikan tak mengenal agama, kebaikan tidak mengenal ras, maupun suku.

Kesederhanaan sosok Junaidilah jadi bukti awal kekompakan empat sekawan tadi. Mereka yang begitu mengenal Guru Junaidi amat prihatin, ketika melihat guru honorer yang mengajarnya selama ini tak pernah berganti kemeja saat mengajar.

Misi sosial di sini yang mendominasi. Empat sekawan menggalang dana, mengajak teman-teman SMP Negeri 9 Lubuklinggau. Mereka menyisihkan uang jajan untuk membelikan kemeja baru untuk Guru Junaidi.

Ending kisah ini, di depan pintu sebuah rumah berdinding papan yang didiami Guru Junaidi, diletakkanlah satu kado berbungkus merah jambu. Guru Junaidi tampak terkejut dengan kado yang tetiba muncul di depan rumahnya.

Menurut Nurainun, kisah ini diangkat dengan harapan agar siswa-siswinya senantiasa menjadi insan yang menghargai perbedaan, dan senantiasa memupuk jiwa kepedulian.

Film yang skenarionya ditulis oleh Junaidi Setyawan, dengan Editor Purwanto dan Rodiallah, Kameramen Lensya Afrika, Artistik Supinah, Maryam, Clapper Mang Sule, Security Mahi itu diharapkan bisa jadi inspirasi bagi anak Indonesia, agar lebih bangga dengan kebhinekaan.

Selain prestasi Juara III Film Pendek, belum lama ini guru SMP Negeri 9 Rodiallah juga dinobatkan sebagai Guru Favorit III dalam event yang digelar Harian Silampari dan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lubuklinggau. Tak hanya itu, karena siswi atas nama Rara Ajeng Annisah Jannah juga meraih Juara III Lomba Pidato pada Peringatan Hari Anti Korupsi Internasional yang diadakan Kejaksaan Negeri Lubuklinggau di SMP Negeri 6 Lubuklinggau beberapa waktu lalu. (05)

Komentar

Rekomendasi Berita