oleh

SMAN 1 Unggulan Lubuklinggau Go Internasional, Jadi Tempat Belajar Siswa dari Jerman dan Italia

LINGGAUPOS.CO.ID- Penyambutan siswa-siswi program Pertukaran Pelajar (Bina Antar Budaya) yakni Ole Einar Mohring (dari Jerman), Briana Caraveo Vega (USA), Emily Louise Spatz (Italy) dan dan Azzura Giacomini (Italy) di SMAN 1 Unggulan Lubuklinggau dilakukan dengan penuh kekeluargaan, Senin (10/2). Selain disambut penampilan Sanggar Seni Lan Bege, kedatangan anak-anak dari Italia, Jerman dan Amerika juga disambut Koordinator Pengawas Pendidikan Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) Sunardi, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Lubuklinggau Dr H Tamri, Sofian Syahrun Perwakilan Komite SMAN 1 Lubuklinggau, dan Pengawas Pembina SMAN 1 Lubuklinggau Medianto.

Kepala SMAN 1 Unggulan Lubuklinggau, Zulkarnain menjelaskan Program Smansa Go Internasional sudah dirintisnya sejak 2016. Selain program sekolah, Smansa Go Internasional juga merupakan wujud dari dukungan SMAN 1 Lubuklingau pada program pemerintah Ayo Ngelong ke Lubuklinggau.

Sampai akhirnya sekolah yang terletak di Kelurahan Pelita Jaya, Kecamatan Lubuklinggau Barat I ini menyandang status Sekolah Adiwiyata Nasional dan Sekolah Adiwiyata Mandiri dari Menteri Lingkungan Hidup.

Zulkarnain menyadari, hingga tahun 2017 perjuangan yang dilakukannya bersama dewan guru dan wakil kepala untuk mewujudkan Smansa Go Internasional bukan hal mudah. Sebab, tak hanya program sekolah, tapi juga mengubah pola kebiasaan termasuk mendukung sarana prasarana yang menunjang proses ini. Lalu tahun 2017 pula, dibentuklah sekelas inovasi. Tahun 2018 tambah jadi dua kelas. Salah satunya berbasis IT, kelasnya dilengkapi wifi.

Jika mengulas program Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) RI Nadiem Makarim soal literasi, karakter dan numerasi, menurut Zulkarnain SMAN 1 Unggulan Lubuklinggau sudah lebih jauh mengarah ke situ. Saat ini, pihaknya bersama Wakil Bidang Kesiswaan Budianto, Wakil Bidang Kurikulum Marsudi, Wakil Bidang Humas Suparno, Wakil Bidang Penjaminan Mutu Yeni Yulizah dan para guru terus berinovasi untuk memberikan pendidikan terbaik bagi siswa-siswi.

Salah satu inovasi tersebut, menjaring siswa-siswi yang mau kuliah di luar negeri. Sekaligus memfasilitasi siswa-siswi SMAN 1 Unggulan Lubuklinggau untuk mengikuti program pertukaran pelajar ke luar negeri. Baik yang masa setahun maupun tiga bulan. Salah seorang siswa SMAN 1 Lubuklinggau yang sudah berhasil mengikuti program ini adalah Ghoffar, yang sukses mengikuti program pertukaran pelajar di Italia.

Zulkarnain bahagia, banyak ilmu dan pengalaman yang didapat siswanya itu selama di Italia. Khusus program pertukaran pelajar ini, sekolah juga siap mencarikan sponsor agar proses yang dijalani siswa selama di luar negeri bisa lebih mudah baik akomodasi maupun transportasi ke sana.

Salah satu bukti keberhasilan SMAN 1 Unggulan Lubuklinggau menggalakkan program ini dibuktikan dengan datangnya anak-anak dari Italia, Jerman dan Amerika ke sekolah terakreditasi A itu, kemarin (10/2). Keluarga besar sekolah unggulan tingkat Kota Lubuklinggau ini menyambut siswa-siswi asal luar negeri itu dengan hangat.

Zulkarnain bersyukur, dipercaya oleh Chapter SMAN 17 Plus Palembang jadi tempat anak-anak ini belajar selama di Lubuklinggau. Saking bahagianya menyambut siswa-siswi dari luar negeri, Zulkarnain dan tim langsung mencarikan mereka orang tua angkat untuk jadi tempat tinggal anak-anak tersebut selama di Lubuklinggau. Diantaranya orang tua angkat itu adalah Marsudi (Waka Kurikulum SMAN 1) dan H Rodi Wijaya (Ketua DPRD Kota Lubuklinggau).

“Para orang tua angkat ini, punya anak yang juga bersekolah di SMAN 1 Unggulan Lubuklinggau. Setelah itu, kami langsung sampaikan ini kepada orang tua anak-anak di Negara asal mereka tinggal. Saya berharap kita semua bisa memberikan layanan terbaik bagi empat anak ini. Karena ini bukan lagi hubungan antar daerah, tapi sudah antar negara,” jelasnya.

Dalam tiga hari ke depan, empat anak (Ole, Briana, Emily dan Azzura) akan observasi. Lalu nanti juga diagendakan untuk bertemu Wali Kota Lubuklinggau H SN Prana Putra Sohe sekaligus pengenalan potensi budaya dan kekayaan seni di Kota Lubuklinggau.

“Saya harap anak-anak ini betah di SMAN 1 Lubuklinggau. Kami juga berharap, nanti seluruh kelas bisa belajar bersama keempat anak ini. Dan doa kami, semoga program SMAN 1 Go Internasional berjalan dengan baik,” harapnya.

Sementara Dra. Hj. Ria Wilastri, MM Koordinator Pertukaran Pelajar SMAN 17 Plus Palembang yang hadir ke tengah penyambutan Ole, Azzura, Emily dan Briana menjelaskan, Program Bina Antar Budaya ini menerima (hosting) dan mengirimkan (sending) banyak siswa-siswi ke berbagai penjuru dunia dengan misi untuk saling mengenal kebudayaan masing-masing.

Diantara alumninya Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, Taufik Ismail, Presenter Tersohor Najwa Shihab.

Menurut Ria, peminat program Bina Antar Budaya bekerja sama dengan AFS itu makin banyak. Terutama untuk short program 3 bulan. Sehingga pelajar Indonesia tetap bisa mengikuti program ini di luar negeri tanpa kegiatannya di Indonesia. Biasanya peserta program ini SMA-nya harus empat tahun karena program ini awalnya berjalan 1 tahun. Sekarang sudah ada yang 3 bulan. Jadi masa belajar siswa di SMA tetap bisa 3 tahun.

Bahkan, di Chapter Palembang Bina Antarbudaya sudah berlangsung enam tahun. Khusus Ole, Azura, Emily dan Bryana sudah enam bulan di Provinsi Sumsel. Khusus di dalam kota, pihaknya bekerja sama dengan SMKN 6 Palembang. Sehingga anak-anak ini tak mudah jenuh sekaligus mendapat keterampilan.

Ria juga menjelaskan, enam bulan terakhir Ole belajar di SMAN 3 Palembang, sementara Bryana dan Emily dari Chapter Kerawang, Bekasi belajarnya di SMA Cikarang Pusat. Untuk Azura sekolahnya di SMAN 17 Palembang.

Anak-anak ini punya kesempatan 1 tahun bersama dengan orang tua angkat. Namun, untuk mencegah kejenuhan, maka Chapter Palembang mengajak mereka juga ke Lubuklinggau ke SMAN 1 Lubuklinggau. Ria bersyukur atas apresiasi SMAN 1 Lubuklinggau dan Pemkot Lubuklinggau menerima kedatangan mereka di Bumi Sebiduk Semare ini.

Ria menerangkan, banyak manfaat yang didapat masyarakat ketika bersedia jadi orang tua angkat pelajar asal luar negeri ini. Salah satunya bisa membiasakan keluarganya berkomunikasi dengan bahasa Inggris.

Kemarin juga Ria menunjukkan tiga Alumni Program Bina Antar Budaya, seperti Kak Kalom, Kak Nur dan Kak Putri para relawan yang sebelumnya sudah berpengalaman mengikuti program ini ke Amerika dan beberapa negara lain.

Sebagai orang tua angkat, H Rodi Wijaya yang datang ke SMAN 1 Lubuklinggau bersama sang istri, pihaknya mengaku gembira sekali. Ia janji akan memberikan yang terbaik bagi anak-anak ini. Ia berharap, meski sekarang jatahnya anak-anak ini di Lubuklinggau hanya 2 minggu, semoga ke depan bisa jadi dua bulan. Hari ini Lubuklinggau jadi destinasi mereka belajar, semoga suatu saat nanti banyak pula putra-putri Lubuklinggau yang berkesempatan mengikuti program ini ke luar negeri.

Ia yakin akan hal itu. Sebab, Lubuklinggau punya potensi SDM yang unggul. Kedatangan Ole, Azura, Bryana dan Emily ke Lubuklinggau juga mendapat apresiasi Korwas Pendidikan Sumsel Sunardi. Ia berpendapat, dari sini menunjukkan Lubuklinggau memang layak jadi kota tujuan. Bukan hanya tujuan pendidikan, tapi jadi destinasi segala bidang.

Ia juga meyakini, anak-anak dari Jerman, Amerika dan Italia ini akan mudah beradaptasi dengan Kurikulum 2013 di SMAN 1 Unggulan Lubuklinggau. Sebab, pada kurikulum ini mengedepankan spiritual dan sosial. Barulah pengetahuan.

“Saya tidak meragukan SMAN 1 Lubuklinggau. Karena program go internasionalnya sudah dirintis berapa tahun lalu. Tinggal bagaimana kita menciptakan suasana yang bisa membuat anak-anak ini nyaman. Ini ujiannya. Kalau mereka betah, kan memang boleh diperpanjang waktunya. Dengan adanya empat anak ini juga, saya yakin memotivasi anak-anak SMAN 1 Lubuklinggau berangkat ke luar negeri juga,” jelasnya.

Pada kesempatan yang sama Dr H Tamri menjelaskan, menciptakan suasana nyaman bagi empat anak ini penting didukung dengan keselamatan dan keamanan. Ia berharap, semua pihak bisa bekerja sama untuk menciptakan itu. Sebab kita membawa nama besar Kota Lubuklinggau, Sumsel dan Indonesia.(*)

Rekomendasi Berita