oleh

Siswa SMAN 1 Seminar Karya Tulis Ilmiah

LINGGAU POS ONLINE, PELITA – Budaya literasi di SMAN 1 Lubuklinggau terus digalakkan. Setelah pembuatan Karya Tulis Ilmiah (KTI), siswa diberikan penilaian melalui Seminar KTI.

“Ini salah satu program kelas inovatif, jadi siswa kelas inovatif sudah diberikan materi dan dibimbing KTI selama semester genap 2017/2018. Lalu pada 30-31 Mei 2018 diuji oleh dosen STKIP-PGRI Lubuklinggau,” terang Kepala SMAN 1 Lubuklinggau, Zulkarnain didampingi Guru KTI, Yeni Yulizah, Kamis (31/5).

Menurut Zulkarnain, uji KTI yang diikuti peserta didik kelas inovatif ini dilakukan dengan cara persentasi.

Pengujinya dosen-dosen STKIP-PGRI Lubuklinggau, seperti Fitria Lestari, dan Nova Novianti.

Penting diketahui, kelas inovatif ini baru dibuka oleh SMAN 1 Lubuklinggau tahun 2017/2018. Kelas inovatif merupakan kelas unggulan yang mengusung program unggul dibilang IT, unggul dalam literasi dan unggul di Bahasa Inggris.

Jadi, Waka Kesiswaan SMAN 1 Lubuklinggau, Suparno menambahkan, kelas inovatif memang diikuti siswa-siswi yang terpilih.

Menurutnya siswa yang masuk ke kelas inovatif ini sudah melalui seleksi yang matang. Awalnya, sekolah mengumpulkan siswa siswi peraih rangking 1-15 dari empat lokal kelas X yang ada.

Akhirnya, dari proses seleksi yang ada, 36 siswa masuk kelas inovatif ini.

Kehadiran kelas inovatif sebagai pilot project (proyek percontohan) untuk mendorong partisipasi masyarakat.

Anak-anak yang masuk ke kelas inovatif secara continue (berlanjut), sistem belajarnya berbasis pengembangan kemampuan di bidang riset melalui KTI. Program utamanya, pengembangan kompetensi dibidang sains. Ketika anak belajar didukung fasilitas yang lengkap.

“Jadi di kelas ini dibentuk tim mengurusi KTI. Dari awal anak diajarkan bagaimana menyusun KTI, bimbingan (Setiap Selasa), sampai pada akhir semester ada persentasi dan diujikan di hadapan guru,” imbuh Waka Kurikulum Marsudi.

Kelebihan kelas inovatif ini, jelasnya, sistem belajarnya berbasis penelitian, bilingual, baik yang pada pelajaran Bahasa Inggris maupun bukan.

Guru yang mengajar di kelas inovatif juga diseleksi berdasarkan hasil nilai Uji Kompetensi Guru (UKG).

“Dengan fasilitas yang lengkap ini, di kelas inovatif memang memberlakukan adanya biaya tambahan . Ini sudah kami musyawarahkan dengan Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) maupun dengan komite sekolah. Kami bersyukur, gagasan ini disetujui Disdik Sumsel. Untuk tahap awal satu lokal dulu. Targetnya, ke depan fasilitas seluruh lokal di SMA Negeri 1 Lubuklinggau ini setara kelas inovatif semua,” imbuhnya.(02)

Rekomendasi Berita