oleh

Sistem Penggajian Masih Amburadul

Ketua KSPIL Angkat Bicara

KETUA Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia Lubuklinggau (KSPIL), Cik Amat mengaku prihatin dengan kondisi yang dialami 23 ground handling PT MAS ini.

Saat dibincangi Linggau Pos, Minggu (3/12), Cik Amat memastikan ia akan membela tenaga ground handling tersebut. Tetapi informasi ini harus bisa dibuktikan memang benar-benar riil, nyata, terutama dari tenaga ground handling itu sendiri.

“Namun kembali lagi, kami juga bisa melakukan gerakan ataupun tindakan apabila adanya laporan dari karyawan itu baik lisan maupun secara tertulis. Kalau tidak ada laporan maka kami juga tidak bisa melakukan tindakan. Oleh karena itu, kami minta rekan-rekan ground handling lapor ke KSPIL di sebelah Hotel Masesa Kelurahan Pasar Pemiri,” jelas Cik Amat.

Ia memastikan dalam membuat laporan tersebut, gratis. Ia menyadari, terkadang tenaga kerja takut melapor, lantaran takut dipecat.

“Dan perlu masyarakat ketahui, pemecatan karyawan juga ada mekanisme yang harus dilakukan oleh perusahaan. Saya juga minta Disnaker sigap menindaklanjuti masalah ini,” ucapnya.

Dengan tangan terbuka, Cik Amat mengaku siap menerima laporan karyawan tetap maupun kontrak.

“Yang membedakan kalau karyawan tetap ada pesangon sedangkan karyawan kontrak kembali sesuai kesepakatan bersama antara karyawan dan perusahaan. Sesuai dengan Undang-Undang (UU) No. 13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan,” katanya.

Cik Amat mengungkapkan, sebenarnya di wilayah Lubuklinggau untuk gaji di perusahaan bisa dikatakan amburadul.

“Ini apabila berkaca dengan UU No. 13 Tahun 2003 UMP yakni berjumlah Rp 2.389.000. Namun nyatanya, karyawan kadang kala tidak menerima sesuai dengan UMP. Kalau berbicara mengenai sanksi sudah pasti bukan sanksi perdata melainkan sanksi pidana,” tegasnya.(16)

Komentar

Rekomendasi Berita