oleh

Sisir Jemaah Menuju Muzdalifah

Putra Mbah Moel Sampaikan Ucapan Terima Kasih

LINGGAU POS ONLINE – Mentari belum lama tergelincir dari ufuk barat bumi Arafah. Secara bertahap jemaah haji pun mulai diberangkatkan menuju Muzdalifah untuk melaksanakan mabit, sebelum kemudian akan melanjutkan perjalanan ke Mina.

“Saya baru pulang sweeping pertama nih mba. Sudah ada beberapa sektor yang lapor kalau pemberangkatan jemaah ke Arafah telah selesai, jadi kami tim transportasi cross check ke lapangan,” ucap Kepala Bidang Transportasi Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Asep Subhana yang mengaku bersama tim baru saja memasuki kantor Daker Makkah, kemarin (11/8).

Asep mengatakan sekurangnya ada enam dari 11 sektor di Makkah yang melaporkan telah menyelesaikan pemberangkatan jemaah haji sebelum pukul 19.00 waktu Arab Saudi.

Sementara itu, Kepala Daerah kerja Makkah Subhan Cholid mengaku terus memantau pergerakan jemaah haji dari Makkah ke Arafah. Ia mengatakn, tahun ini PPIH melakukan penyisiran ulang atau sweeping jamaah haji dalam tiga tahap. Pertama dilakukan pada pukul 19.00 WAS, kedua dilakukan 21.00 WAS dan ketiga, dilakukan pada pukul 24.00 WAS. “Mengapa harus sampai tiga kali, ini untuk memastikan bahwa seluruh jemaah haji Indonesia telah terangkut semua ke Arafah,” terangnya.

Menurutnya, pemerintah bertanggung jawab untuk memastikan seluruh jemaah haji berada di bumi Arafah pada 9 Zulhijjah. “Seluruh personil dikerahkan untuk melakukan penyisiran tersebut, mulai dari petugas transportasi hingga Staf Ahli dan Staf Khusus Menteri Agama,” terangnya.

Pengendali Teknis Bidang Ibadah PPIH Oman Fathurahman menambahkan, Masjidil Haram jadi target penyisiran. “Karena dikhawatirkan ada jemaah kita yang masih melakukan ibadah di sini,” jelasanya.

Hampir dua jam Oman yang juga Staf Ahli Menteri Agama ini melakukan penyisiran di dalam dan di luar Masjidil Haram. “Insyaallah sudah tidak tampak jemaah kita. Kalaupun ada yang berwajah melayu, bukan berasal dari jemaah haji Indonesia,” terang Oman yang melakukan penyisiran bersama Staf Khusus Menag Hadi Rahman, dan Kasie Perlindungan Jemaah Daker Makkah Maskat.

Ditambahkannya, pemberangkatan jemaah ke Arafah tahun ini selesai empat jam lebih cepat dibanding tahun lalu. “Ini prestasi yang patut diapresiasi. Padahal jemaah haji Indonesia terbesar di dunia . Tapi bisa diberangkatkan ke Arafah dengan cepat,” kata Oman.

Penyisiran akhir kembali dilakukan. 173 pemondokan yang menjadi tempat tinggal jemaah haji Indonesia kembali di cek satu per satu. Penyisiran akhir ini lebih mudah. “Karena kita menyewa hotel full musim, kita cukup melihat hotel itu masih menyala tidak lampunya. Kalau masih menyala, kita turun dan tanya pihak hotel untuk memastikan sudah tidak ada jemaah kita di sana. Kalau lampunya mati, sudah dipastikan tidak ada jemaah lagi, karena memang hotel itu hanya disewa untuk jemaah kita,” ujarnya.

“Alhamdulillah, berdasarkan penyisiran yang dilakukan, kami tidak menemui ad jemaah haji Indonesia yang tertinggal di Makkah. Insyaallah semua telah terangkut ke Arafah,” kata Oman yang menyelesaikan penyisirannya pada pukul 01.30 waktu Arab Saudi.

Di tempat terpisah, putra Almarhum Mbah Moen, Gus Yasin, kemarin berkunjung ke tenda Amirul Hajj Lukman Hakim Saifuddin. Gus Yasin datang kenakan kain ihram karena akan menjalani wukuf di Arafah.

Gus Yasin dan Menag Lukman bertemu sekitar jam 09.30, ditenda tempat menginap Amirul Hajj. “Saya menyampaikan maaf karena baru bisa hadir secara pribadi untuk menyampaikan terima kasih,” kata Gus Yasin kepada Menag Lukman di Arafah, kemarin (11/08).

Gus Yasin mengaku sudah bertemu dua kali dengan Menag di Makkah, sepeninggal Mbah Moen. Pertemuan pertama di Daker Makkah saat pembacaan Yasin dan Tahlil pada malam tiga hari wafatnya ulama kharismatik NU itu. Pertemuan kedua saat keduanya menghadiri Silatirahim NU Sedunia di Jarwal, Makkah, 8 Agustus 2019.

“Saya sudah bertemu dua kali, tapi yang secara pribadi baru kali ini. Saya ingin sampaikan terima kasih karena Menag sudah mengawal proses pemakaman Mbah Moen dari awal sampai akhir,” jelas Gus Yasin.

“Belum sempurna jika keluarga belum sampaikan ucapan terima kasih ke Menag. Juga atas bantuan semuanya yang diberikan Pemerintah Indonesia,” sambungnya.

Gus Yasin mengaku mengikuti proses tahapan pemakaman secara langsung melalui tayangan live streaming. “Kita lihat terus keberadaan Menag. Terima kasih, semoga Allh membalas kebaikannya. Kita tahu beliau sangat ta’dhim sana kyai,” lanjutnya.

Kepada Menag, Gus Yasin berbagi sejumlah isyarat yang dirasakan oleh keluarga jelang wafatnya Mbah Moen. Salah satunya saat menggelar pembacaan Manaqib jelang keberangkatan almarhum ke Makkah.

Menurut Gus Yasin, biasanya doa manaqib tidak dibaca sendiri. Hari itu, doa dibaca sendiri almarhum. Doanya meminta agar khusul khatimah. “Yang hadir dalam pembacaan manaqib merasa ada yang beda. Mereka kemudian ingin ikut mengantar keberangkatan Mbah Moen ke Semarang, sampai bandara. Padahal biasanya tidak,” tutur Gus Yasin.

Menag menyambut kedatangan Gus Yasin di tendanya. Dia memohon maaf kalau kondisi tendanya apa adanya dan tidak bisa berikan penyambutan yang semestinya.

Kepada Gus Yasin, Menag berkisah momen dirinya ikut memandikan almarhum di Iskan Muhajirin. “Alhamdulillah yang memandikan sangat profesional, trampil, dan cekatan,” tutur Menag. “Kita hanya bantu-bantu. Orangnya juga ta’dhim,” lanjutnya. (*)

Sumber : Fajar Indonesia Network

Rekomendasi Berita