oleh

Siapa Penerus Tahta Alex Noerdin

LINGGAU POS ONLINE, LUBUKLINGGAU – Suksesi pergantian kursi kepemimpinan Sumsel 1 kian bergejolak. Sehubungan berakhirnya masa jabatan Gubernur dan Wakil Gubernur Sumatera Selatan (Sumsel) 2018 nanti.

Siapakah penerus tahta H Alex Noerdin yang tidak dapat mencalonkan diri kembali (sudah 2 periode,red)?. Apakah akan diteruskan Putra Mahkota H Dodi Reza Alex?. Atau H Herman Deru ‘lawan berat’ Alex Noerdin saat Pemilihan Gubernur (Pilgub) 2013.

Selain dua tokoh tersebut jangan lupakan H Ishak Mekki, incumbent Wakil Gubernur Sumsel, yang ingin ‘naik kelas’.

Sementara H Saifudin Aswari Rivai, Bupati Lahat dua periode dapat menjadi kuda hitam. Akankah koalisi dengan PKS, pada menit-menit terakhir Pilkada Jakarta 2017 terulang di Bumi Sriwijaya?

Selanjutnya, Giri Ramanda Kiemas. Ketua DPRD Sumsel sekaligus Ketua DPD PDIP Sumsel dengan 13 kursi.

Inilah liputan mendalam dari Tim Linggau Pos. Disajikan dalam bentuk infografis peta Pilkada serentak Sumsel 2018.

Untuk memastikan bagaimana respon publik mengenai Pilgub Sumsel 2018. Tim menyebar ratusan angket, khususnya wilayah edar cetak Linggau Pos. Kabupaten Musi Rawas, Kota Lubuklinggau, Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara), Kabupaten Empat Lawang dan Kabupaten Lahat.

Diawali dengan Kabupaten Musi Rawas, 18 orang mengaku kenal dengan Ishak Mekki, Herman Deru 16, H Saifudin Aswari Rivai 15, Dodi Reza Alex 10 dan Giri Ramanda Kiemas 5.

Soal kelayakan jadi gubernur, Herman Deru dan H Saifudin Aswari Rivai memperoleh nilai yang sama, yakni sama-sama dipilih oleh 7 peserta kuisioner, diikuti Ishak Mekki 5, dan Dodi Reza Alex hanya 1, sedangkan Giri kosong.

Mengenai program yang dipilih, menginginkan pendidikan gratis SD, SMP, SMA dan PT (6 suara), kenaikan harga karet (5), kenaikan upah minimum dan lapangan pekerjaan masing-masing (3), menciptakan kondisi aman (2) dan pemerataan pembangunan (1).

Selanjutnya, Kota Lubuklinggau Herman Deru paling dikenal (12). Diikuti Ishak Mekki (7), selanjutnya H Saifudin Aswari Rivai dan Dodi Reza Alex masing-masing 5 orang, sedangkan Giri Ramanda Kiemas hanya 3 kuisioner yang mengenalnya.

Soal tingkat keterpilihan, cukup menarik. Sebab hanya (6) yang menentukan pilihan dan 6 pula belum menentukan arah dukungan. Uniknya, dari nama kandidat yang beredar semuanya dipilih masing-masing (1). Hanya Herman Deru (2).

Mengenai program, untuk di Lubuklinggau lapangan pekerjaan, paling diharapkan dengan 8 suara. Disusul kenaikan upah minimum 7 suara, pendidikan gratis SD, SMP, SMA dan perguruan tinggi dan menciptakan kondisi aman di Sumsel, masing-masing 5 suara, kenaikan harga karet 4 suara dan pemerataan pembangunan 3 suara.

Di Lahat, dari 20 responden, sebanyak 18 orang lebih mengenal H Saifuddin Aswari Rivai. Mereka juga menilai paling layak untuk memimpin Sumsel. Karena telah berhasil menghidupkan geliat ekonomi selama memimpin. Dua periode kepemimpinannya di Lahat, membawa banyak kemajuan.

Sedangkan di Kabupaten Muratara, hasil angket nyaris merata. 8 responden mengakui lebih mengenal Herman Deru, dan 7 responden lebih mengenal Ishak Mekki. Selain itu 4 responden mengaku mengenal H Saifudin Aswari Rivai dan 1 responden mengaku mengenal Giri Ramanda Kiemas. Sebagian besar dari responden menilai Herman Deru layak untuk memimpin Sumsel 2018-2023 mendatang. Sebagian warga Muratara juga berharap program pemerataan pembangunan dan pendidikan gratis untuk SD, SMP, SMA dan perguruan tinggi.

Lalu Kabupaten Empat Lawang, dari 20 angket yang disebar semuanya menuliskan, bahwa lebih mengenal H Saifudin Aswari Rivai dibanding empat kandidat lain. Seperti Dodi Reza Alex, Herman Deru, Ishak Mekki, dan Giri Ramanda Kiemas. Harapan terbesar dari 20 responden yang membuat mereka tertarik memilih calon gubernur adalah tersedianya lapangan pekerjaan dan menciptakan kondisi aman di Sumsel.

Selain melalui angket, tim Linggau Pos juga mencoba melakukan wawancara terhadap beberapa narasumber di beberapa kabupaten/kota lain wilayah Sumsel, terkait Pilgub 2018.

Andes (45) tokoh masyarakat yang juga tetua di Kota Pagaralam menjelaskan, nama Saifudin Aswari Rivai cukup populer di wilayahnya. Sebab, Pagaralam juga dinilai memiliki kedekatan emosional dengan Kota Lahat.

“Kalau Pilgub 2013 lalu, H Alex Noerdin mendapat suara terbanyak di Pagaralam. Namun begitu Saifudin Aswari katanya mau mencalonkan diri, banyak yang sepertinya menginginkan beliau. Kalau yang sudah ke sini (Pagaralam, red) kunjungan-kunjungan begitu Pak Herman Deru, Pak Ishak Mekki, Pak Giri Ramanda dan Pak Saifudin Aswari,” jelas Andes.

Sementara di Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan (OKUS) menurut Gie (32), seorang responden menjelaskan Pilgub 2013 Herman Deru memperoleh dukungan tertinggi. Namun sampai saat ini, Herman Deru belum menunjukkan gerakannya di OKUS.

“Kalau Pak Ishak Mekki sudah membuat tim relawan, sementara Giri Ramanda tampaknya sudah menggerakkan mesin partai. Kalau Aswari sempat besar gaungnya beberapa waktu lalu. Sekarang sepertinya mundur teratur. Masyarakat juga belum bisa mengambil kesimpulan,” jelasnya.

Masyarakat Ogan Komering Ulu Timur (OKUT), sebagai wilayah yang mayoritas etnis Jawa, masih fanatik untuk memilih Herman Deru. Hal itu disampaikan seorang tokoh masyarakat, Maman (39).

“Istilahnya kalau di sini itu, ngapain milik wong lain kalau wong kito ado. Apalagi selama dua periode memimpin OKUT Herman Deru dinilai sukses. Bahkan ada yang bilang, siapa yang komitmen membenahi jalan provinsi, itulah yang dicoblos. Nah, warga OKUT masih menaruh harapan. Menurut orang kita, Herman Deru sebagai putra daerah terbaik saat ini,” jelas Maman.

Kata dia, Herman Deru sosok pemimpin muda, dan kharismatik.

Di lain tempat, Husni (37) warga Kabupaten PALI, menilai justru sepertinya condong menginginkan Dodi Reza Alex memimpin Sumsel 2018-2023 mendatang.

“Semenjak ada informasi Dodi mau mencalonkan diri, banyak yang memperbincangkan. Jadi elektabilitasnya di sini, bisa dikatakan tinggi. Namun, yang sudah terjun langsung ke PALI ini Ishak Mekki baik acara dinas maupun partai. Kalau Aswari pernah juga ke PALI, namun untuk acara pribadi,” jelasnya.

***Tetap Mengacu Hasil Survei

Lantas bagaimana komentar mereka :
H Saifudin Aswari Rivai kepada Linggau Pos, kemarin memastikan dirinya sangat serius maju mencalonkan diri dalam Pilgub.

Ia juga menerangkan, ia sudah mendapatkan izin lisan dari Pimpinan Umum Partai Gerindra, H Prabowo Subianto.

“Walaupun last minutes saya rasa nggak masalah karena saya satu-satunya calon dari Partai Gerindra. Insya Allah surat rekomendasi akan keluar sesegera mungkin,” jelasnya.

Akhir-akhir ini, pria yang akrab disapa Kak Wari itu dinilai kurang terdengar gaungnya untuk mencalonkan diri. Menurutnya, penilaian itu tak begitu dirisaukan olehnya.

“Apapun yang kita lakukan kalau belum cukup kursi kan sia-sia. Jadi harus kita fix kan dulu. Dengan kata lain, saat ini saya sedang fokus pada Parpol yang bakal mendukung saya,” jelasnya lagi.

Bicara tentang koalisi, sebagai Ketua DPD Gerindra Sumsel , ia sudah memiliki 10 kursi. Kurang lima kursi lagi untuk bisa mencalonkan diri.

“Makanya, sejauh ini kami sudah menjalin komunikasi politik dengan PKS dan PKB,” imbuhnya.

Mengenai kemungkinan duet kembali dengan PKS, mengingat koalisi di Jakarta sukses mengantarkan Anis-Sandi, Saifudin Aswari Rivai sempat mengiyakan.

“Selama ini memang Gerindra-PKS harmonis. Terlebih kita juga lihat kemenangan Anis-Sandi menjadi pembelajaran. Namun mengenai pasangan nanti akan kita umumkan,” terangnya.

Ditegaskannya, ia belajar banyak dari Anies-Sandi. Mereka tidak tergesa-gesa.

“Kita masuk gelanggang, baru mereka bergerak. Intinya target kami Sumsel I. Dan Pak Prabowo sudah menghendaki demikian,” tuturnya.

Optimisme juga disampaikan H Herman Deru, yang saat ini sudah mendapatkan dukungan dari Partai Nasional Demokrat (NasDem) dan Partai Amanat Nasional (PAN).

“Setelah PAN dan NasDem, yang jelas ada lagi. Tapi saya enggan menyebutnya sekarang. Saya nggak mau klaim-klaim. Kalau kita didukung partai, jelas ada surat dan dukungannya. Saya juga belum bisa mengatakan siapa, selama surat rekomendasi belum saya pegang. Yang pasti ada!,” tegasnya.

Mengenai strategi menaikkan elektabilitas, tetap pakai ciri khas Deru yang lama. Yakni mendekat langsung ke masyarakat.

“Mengenai calon wakil, saya tetap pada mantan Bupati OI Mawardi Yahya. Pertimbangannya dia (Mawardi,red) adalah sosok politisi senior dan Pak Mawardi juga sosok senior Golkar. Selain itu, dia juga usianya lebih tua dari saya. Saat kami bersama memimpin insya Allah lebih baik,” jelasnya.

Ia juga menjelaskan, optimismenya untuk maju dalam Pilgub Sumsel tidak terlepas dari hasil hitungan ilmiah selama ini.

“Ya kita lakukan berbagai survei. Kalau dari hasil survei, potensial untuk maju dan menang. Jadi memang bukan ngawur,” terangnya.

Mengenai lawan terberat, Herman Deru mengatakan semuanya lawan berat.

“Ya semua kandidat itu lawan terberat. Karena semua nama yang muncul-muncul itu berbobot. Mengenai berat atau tidaknya persaingan ini, ukurannya pada survei,” jelasnya.

Soal isu negatif yang mengatakan Herman Deru tidak akan bisa memenuhi kursi dukungan, ia menilai itu hanya bagian dari upaya orang untuk downgrade sementara.

“Isu-isu semacam itu, untuk menurunkan semangat saya saja. Kami sudah siap dengan yang begini. Intinya, isu tersebut digulirkan, tujuannya untuk mengurangi tingkat kepercayaan publik terhadap kami,” imbuhnya.

Meski demikian, Herman Deru tetap optimis. Termasuk di Kota Lubuklinggau, Kabupaten Musi Rawas dan Kabupaten Muratara.

“Pilgub 2013 lalu, secara suara saya tidak kalah dengan Alex. Kalahnya di Mahkamah Konstitusi (MK) saja. Dan tiga wilayah ini kantong suara Herman Deru. Namun, saat Iskandar Hasan mencalonkan diri memang orang banyak tertarik dengan informasi putra daerah. Alhamdulillah Pilgub 2018 nanti, di Kabupaten Musi Rawas, Kota Lubuklinggau maupun Kabupaten Muratara tidak ada yang nyalon. Jadi kami makin bersemangat ini,” jelas Deru.

Selain itu, Ketua DPD Partai Demokrat Provinsi Sumsel, sekaligus Wakil Gubernur Sumsel H Ishak Mekki saat dikonfirmasi menegaskan sudah memantapkan diri untuk ikut bertarung di Pilgub 2018.

“Insya Allah Mantap,” ungkapnya dengan tegas, saat dibincangi Linggau Pos usai melantik pengurus DPC Partai Demokrat Kota Lubuklinggau, Minggu (10/12) lalu.

Disinggung optimiskah bisa meraup suara terbanyak, sebagai calon incumbent. Ia pun menjawab, optimis.

“Saya optimis bisa unggul dan menang. Apalagi sudah setahun ini, kita terus lakukan sosialisasi,” tegasnya kembali.

Saat ini ia mengaku, sedang mempersiapkan siapa kandidat yang akan menjadi wakilnya untuk bertarung saat Pilgub mendatang.

“Mengenai pasangan, untuk saat ini belum. Insya Allah dalam bulan ini juga akan kita umumkan,” ungkapnya.

Ditanya siapa bakal calon wakil gubernur yang akan mendampingi, ia pun belum mau memberikan informasi tersebut.

“Yang jelas, dia orang Sumsel,” ucapnya sambil tersenyum.

Senada dengan rekomendasi Parpol. Ia mengaku belum bisa memastikan mengenai dukungan Parpol sebelum menentukan pasangan.

“Karena biasanya, berbarengan dengan adanya pasangan. Nanti kita umumkan, dalam waktu dekat,” tambahnya.

Lalu bagaimana dengan Giri Ramadha Kiemas yang digadang-gadang bakal bergandengan dengan Dodi Reza Alex.

“Kalau ditanya siap maju atau tidak? Ya, kalau ditugaskan partai siap. Posisi apapun baik calon gubernur atau wakil gubernur,” tuturnya.

Mengingat kursi di DPRD Sumsel paling besar (13 kursi,red). Artinya 2 kursi lagi suaranya amat diperhitungkan.

Meski begitu, Giri tetap rendah hati. Ia menyatakan saat ini, koalisi maupun konsolidasi politik merupakan wewenang DPP partai. DPD partai hanya membuat analisa mengenai situasi dan kondisi lapangan. Dan komunikasi di antara Parpol di tingkat lokal untuk disampaikan ke DPP.

“Masalah akan berpasangan dengan siapapun siap menjalankan perintah dan instruksi DPP. Dikarenakan kajiannya ada di DPP. Semua sudah dilaporkan ke DPP partai dan menunggu kesimpulan dari DPP partai,” jelasnya.

Mengenai optimismenya itu, jika dicalonkan maka Giri menyatakan wajib mundur dari jabatan Ketua DPRD Sumsel, sesuai aturan UU.

“Kalau mengenai kekuatan kandidat lain, menurut saya, semua kandidat mempunyai kesempatan yang sama. Semua tergantung pergerakan di lapangan sampai waktu pemilihan,” jelasnya.

Setelah empat bakal kandidat tadi, H Dodi Reza Alex pun turut menyampaikan pendapatnya tentang kepastian pencalonannya dalam Pilgub Sumsel 2018 nanti.

“Iya kami sudah dapat surat rekomendasi dari DPP Partai Golkar. Namun untuk yang lain, sebentar lagi akan ada rekomendasi. Insya Allah secepatnya,” jelas Dodi Reza.

** Kesukuan Tidak Memberikan Efek Kuat

Pengamat Politik DR Joko Siswanto menilai, saat ini lobi-lobi politik sedang dilakukan oleh bakal calon gubernur Sumsel, untuk mendapatkan perahu dukungan.

“Sepertinya, yang belum menentukan sikap tinggal Gerindra dan PDIP. Harapannya Giri merapat ke Golkar, sehingga bisa terpenuhi bahkan melebihi persyaratan kursi untuk pencalonan. Sementara Wari mau ke Ishak Mekki. Namun ini belum pasti juga. Namanya politik bisa berubah sewaktu-waktu. Yang pasti untuk jadi catatan, bagaimanapun kekuatan partai, kalau elektabilitas rendah ya berat,” jelasnya.

Saat ini, yang jadi kekhawatiran, nama-nama tadi tidak berpikir mencari pasangan yang baik. Namun masih ada ‘ideologi uangisme’. Ini yang bahaya.

Dosen Fakultas Ilmu Sosial Politik (FISIP) Universitas Sriwijaya itu berharap, hal begini tidak berlarut-larut terjadi.

Bagaimana dengan isu kesukuan? Joko Siswanto menjelaskan, isu kesukuan tidak memberikan efek signifikan.

“Kalaupun ada, misalkan Komering dengan Lahat. Itupun, orang masih akan melihat figurnya. Isu kesukuan itu hanya akan memberi warna. Termasuk agama, kalau muslim sama muslim pasangannya ya tidak ada masalah. Yang mencuat itu kadang pasangan yang beda agama. Maka jadi menonjol sekali untuk menjadi pertimbangan pemilih memberikan hak suaranya,” imbuhnya.

Sementara tentang isu pewaris tahta, terkait akan majunya Dodi Reza, menurut Joko akan bergantung dengan manfaat yang bisa diperoleh masyarakat selama ini.

“Karena dinasti tidak mesti buruk. Seperti di Yogyakarta, yang dipimpin oleh trah dinasti Hamengkubuwono. Karena kepemimpinannya yang bagus dan rakyat merasa diayomi, sehingga masyarakat merasa mendapatkan manfaat. Jadi sekalipun dipimpin trah Hamengkubuwono, masyarakat sudah yakin dengan kemampuan mereka menyejahterakan rakyat Yogyakarta,” imbuhnya.

Berbeda jika pemimpin trah dinasti sebelumnya memberikan dampak yang jelek. Seperti di Banten, dinasti Atut memberikan persepsi buruk. Karena korupsi yang mereka buat.

“Coba kalau mereka yang di Banten itu memberikan contoh bagus. Tentu persepsi masyarakat terhadap politik dinasti tidak buruk,” imbuhnya.

Berkaca pada situasi saat ini, peluang masing-masing bakal calon masih sama.

“Karena politik ini, perubahan cepat sekali terjadi. Misalkan sekarang peluangnya besar. Tiba-tiba detik terakhir masalah muncul. elektabilitasnya bisa anjlok.

Kalau saya, peluang itu, ibarat sesuatu hal yang harus dijaga dan dikendalikan. Kalau dibiarkan siapa tahu yang lain menangkap peluang untuk menghancurkannya,” jelasnya.

Joko memastikan semua berpeluang sama.

“Seperti Anies (Pilgub Jakarta) diawal tidak ada apa-apa. Namun pada titik akhir elektabilitasnya justru melejit. Seolah-olah awalnya gubernurnya pasti Ahok. Ternyata akhirnya tidak. Begitu pun dengan Pilgub Sumsel 2013, saat itu Pak Alex menyangka Eddy Santana lawan terberatnya. Ternyata pada akhir-akhir justru Herman Deru yang meroket. Jadi saya tegaskan, saat ini baik peluang Dodi Reza Alex, Ishak Mekki, Herman Deru, Giri Ramanda maupun Saifudin Aswari Rivai masih sama,” imbuhnya.

Dalam kesempatan itu juga, DR Joko Siswanto mengingatkan kepada penyelenggara Pilkada Serentak Sumsel 2018 (KPU dan Bawaslu,red) agar mengantisipasi beberapa kerawanan konflik. Yang dipicu oleh money politic, Black Campaign dan isu SARA. (05/09/11/04/07/02)

Komentar

Rekomendasi Berita