oleh

Siap Membangun Muratara

LINGGAU POS ONLINE– Ir Baikuni Anwar Mathir selama ini dikenal sukses meniti karier di engineering dan quality control di Oil Company. Namun, pria yang karib dipanggil Boy Rupit itu tetap tidak membuatnya melupakan tanah kelahirannya.

Bahkan ayah lima anak ini menunjukkan keseriusannya untuk membangun Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara). Salah satu alasannya, cucu Tokoh Agama Muratara (Alm) KH Mathir Baidjuri tertarik dengan ajakan sahabatnya Fauzi Amro.

“Dia (Fauzi Amro, red) sudah beberapa kali menyarankan saya untuk kembali ke dunia politik. Ajakan itu disampaikan Fauzi Amro saat saya bekerja di Perusahaan Amerika di Singapura. Bang Fauzi H Amro menyarankan saya agar mau kembali ke Indonesia dan bahu membahu bersamanya dalam memajukan Indonesia khususnya membangun Kabupaten Muratara. Saat itu saya hanya bisa berkata ‘bila Allah sudah berkehendak tidak ada yang tidak mungkin (sambil ketawa kecil)’. Lantaran masih fokus meniti karier dan menyelesaikan dua kontrak yang ada terhadap perusahaan sebagai Quality Supervisor,” jelas pria yang karib dipanggil Boy Rupit itu, Selasa (6/8).

Putra ketiga pasangan H Anwar Mathir dan Hj Mayuda Hon itu mengakui keinginan untuk membangun Muratara pasti ada. Namun menuntut ilmu dan fokus meniti karier pun tujuan utama pria kelahiran Desa Lawang Agung Kecamatan Rupit ini untuk membuat bangga keluarga dan Muratara.

Kini ia sudah menetap di Indonesia. Lantas, saat disinggung apakah tawaran H Fauzi Amro, pria yang memegang teguh prinsip ‘ridho Allah diatas ridho orang tua’ itu mengaku tidak bisa menolak hal ini.

“Ya saya tidak bisa menolak. Karena orang tua juga merestui. Bahkan selama di luar negeri, saya terus mengikuti pemberitaan khususnya berita perpolitikan baik di Indonesia maupun di Muratara. Dan keinginan membangun Muratara ya besar,” tutur alumni Institut Pertanian Bogor (IPB) ini.

Tetapi lanjutnya, apakah maju atau tidak saat Pilkada nanti, kita lihat kedepan. Ketika takdir menunjukkan iya, lalu masyarakat menginginkannya dan orang tua meridoi maka saya maju,” imbuhnya.

Bicara soal perjuangannya membangun karier, awalnya ia bekerja di Perusahaan Chiyoda dibawah naungan Petrochina di Area Tanjung Jabung, Provinsi Jambi.

Tak disangka, setelah itu kariernya melesat dan ia bergabung dengan Oil Company dari Eropa, Amerika, Australia dan Asia, Seperti ConocoPhillips, Exxon Mobil, Maersk Oil, Chevron, Wartsila dan beberapa perusahaan Multi Company berbasis internasional.

Kemampuannya sebagai seorang engineering dan quality certified bahkan diakui oleh perusahaan asal Eropa dan America. Hal itu dibuktikan dengan diraihnya sertifikat yang Berbasis Engineering dan Quality Control (Pengawas Mutu) dari Badan Sertifikasi Dunia seperti Amerika, Eropa dan Australia oleh Boy Rupit.

Dengan sertifikat itu, Boy Rupit bisa bekerja di semua negara pada perusahaan Oil Company bidang konstruksi, Engineering dan Quality Control.

Menurut Boy, kesuksesannya sebagai seorang Pengawas Mutu dan Engineering merupakan hasil dari keseriusannya saat menuntut ilmu di IPB. Tidak hanya dibidang akademis, di organisasi pun ia aktif. Boy menjadi Deputi Menteri Sosial Politik (Mensospol) BEM IPB, di mana Ketua BEM-nya pada saat itu Irfan Syauqi Beik , putra Dr. K.H. Didin Hafidhuddin.

“Ketika di kampus saya orangnya tidak bisa diam, saya ingat pada tahun 1998 saya bersama dengan Rekan se-Alumni Bang Fauzi H. Amro , yang saat ini jadi anggota DPR RI, menjadi satu diantara ribuan mahasiswa yang menjadi pemrakarsa tercetusnya Reformasi bersama politikus senior Amin Rais. Tentunya sampai saat ini komunikasi dengan Fauzi Amro tetap terjalin,” jelasnya.

Soal hobi, meski menyukai MOGE (Motor Gede) bahkan eksis di Inspector Rider Club (IRC) ia tetap pecinta makanan khas Muratara yaitu Pempek Ikan Lambak yang lebih di kenal Pempek Itam. (fji)

Rekomendasi Berita