oleh

Setop Pelototi Tayangan TV Unfaedah

LINGGAU POS ONLINE– Masih ingat dengan Aulia Kesuma? Agustus 2019 lalu sejumlah berita mengungkap sosok Aulia sebagai otak pembunuhan sang suami Edi Chandra Purnama (54) dan anak tirinya, M Adi Pradana (23). Aulia mengaku mendapat inspirasi membunuh dan membakar jasad ayah dan anak dengan tangan pembunuh bayaran dari tayangan sinetron yang sering dia tonton.

Belajar dari kasus ini, Netter mendesak Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) tegas dalam menindak stasiun TV yang menayangkan adegan tak mendidik alias unfaedah.

Namun faktanya, sampai saat ini tayangan sinetron yang menunjukkan ungkapan kasar, adegan berbahaya dan kekerasan masih kerap dijumpai. Hal itu penting jadi catatan khusus KPI berkenaan dengan Hari Televisi Sedunia yang diperingati 21 November 2019 kemarin.

Anggota KPI Sumatera Selatan (Sumsel), Yenrizal mengatakan penyebab langgengnya acara TV yang unfaedah, karena penontonnya lebih banyak.

“Semakin banyak yang nonton, semakin banyak iklan, jadi semakin lama program itu ditayangkan. Kan televisi menyiarkan program untuk mendapatkan iklan,” jelasnya, Jumat (22/11).

Dosen Komunikasi Penyiaran Islam UIN Raden Fatah Palembang itu menegaskan, mengenai aturan penyiaran, merujuk pada Pedoman Perilaku Penyiaran Standar Program Siaran (P3SPS).

Bentuk-bentuk pelanggaran yang dimaksud, bisa karena kontennya mengandung adegan kekerasan, pelecehan, SARA terhadap golongan, instansi dan lainnya. Termasuk memuat dialog dan gerakan sensual, ungkapan kasar, penayangan identitas pelaku pelecehan seksual, adegan berbahaya, privasi, serta pelecehan status kelompok tertentu itu kategori pelanggaran.

“Di P3SPS ini sudah ada mana yang boleh dan tidak boleh. Dan jika tayangannya dianggap melanggar, akan kita berikan sanksi, dan sanksinya pun bermacam-macam sesuai pelanggaran, ada yang kita kasih surat peringatan lebih dulu, perhentian secara sementara bahkan hingga perhentian tayang secara permanen,” jelasnya.

Pengurus KPI RI, Hardly Stefano saat dibincangi Linggau Pos, Jumat (22/11) menambahkan lebih kurang ada 50 program siaran yang disemprit KPI tahun 2018.

Untuk itu, saat ini KPI sedang mendorong masyarakat lebih cenderung membicarakan siaran-siaran yang baik. Menurut Hardly, beberapa siaran dianggap tidak baik, dan dengan terpaksa diberikan sanksi oleh KPI, biasanya konten yang tidak baik dicontoh untuk anak dan remaja. Banyak mengandung tentang kekerasan hingga tidak sesuai dengan norma kesopanan.

“Makanya kita dorong, masyarakat lebih cenderung menonton siaran yang berkualitas. Bisa dilihat tahun 2018 ada 105 siaran yang kita nilai berkualitas melalui Anugerah KPI. Ada Anugerah Penyiaran Ramah Anak 15 Program Siaran Anak, Anugerah Syiar Ramadhan 32 Program siaran yang ditayangkan selama Ramadhan dan 58 Program siaran reguler,” jelasnya.

Sementara yang tidak berkualitas 50 program atau sekitar 0,75 persen dari program yang ada di pertelevisian Indonesia.

“Sanksi yang KPI berikan, bisa berupa teguran tertulis hingga penundaan penayangan semata-mata bukan untuk menyetop siaran mereka. Tetapi meminta agar mereka mengubah konten tersebut agar lebih berkualitas. KPI hanya pastikan, tayangan atau siaran yang ada sesuai dengan P3SPS, serta konten yang ditayangkan, mengandung inspirasi kepada masyarakat,” tegasnya.

Saat ini ditambahkan Hardly, KPI pusat mengawasi 16 stasiun televisi. Pengawasan yang dilakukan, yakni pengawasan sistem stasiun jaringan dan mekanisme pengaduan masyarakat.

Lalu, bagaimana cara penonton melaporkan ke KPI saat mendapati ada tayangan kurang mendidik?

Caranya sangat mudah, cukup ketik nama, nama stasiun TV, jam dan tanggal tayang serta isi aduan. Bisa langsung dikirimkan ke email www.kpi.go.id, atau ke 081213070000 atau akses media sosial KPIPusat.

Anak Bawah 2 Tahun Dilarang Nonton

Sementara Psikolog Klinis, Irwan Tony mengatakan tontonan bagi anak-anak harus sesuai dengan usianya.

“Proses belajar anak-anak dengan melihat itu 40 persen sedangkan melihat dan melakukan lebih tinggi lagi 60 persen. Orang dewasa harusnya lebih matang lagi menyikapi sebuah tontonan dan belajar dari proses tontonan tersebut,” jelas Irwan Tony, Jumat (22/11).

Ia juga mengingatkan, baiknya anak-anak usia 0 hingga 2 tahun dilarang menonton atau dalam artian no gadget, no tontonan. Karena pada usia tersebut paling baik stimulasi fisik dan psikomotorik.

“Intinya mesti kasih stimulasi yang paling baik tergantung dengan usia. Kalau usia 7 tahun dia lebih kompleks, menghitung dan kosakata. Jadi harus hati-hati dan sesuai usia,” lanjutnya.

Ada Pesan Moral, Angkat Kearifan Lokal

SILAMPARI TV merupakan satu-satunya televisi lokal di Kota Lubuklinggau. Sebagai TV lokal, General Manager (GM) Silampari TV, Muhammad Yasin mengungkapkan ternyata ada tantangan besar untuk bisa terus eksis dan merangkul penonton loyal.

Muhammad Yasin, General Manager Silampari TV
FOTO : HERWINDA MARTA/ LINGGAU POS

“Karena di Lubuklinggau masyarakat mengenal TV sudah pakai parabola, sudah bisa menonton TV nasional termasuk TV Asia. Channel kita masih pakai UHF jadi belum semua masyarakat bisa nonton,” terang Yasin, Kamis (21/11).

Menurutnya, masyarakat masih awam dalam menggunakan UHF karena mereka berpikir itu cara lama.

Oleh karena itu, Silampari TV berinovasi. Dengan menggandeng media lain untuk mendukung Silampari TV agar siarannya bisa diakses via internet dan dapat ditonton secara streaming.

“Jadi Silampari TV kini bisa ditonton via streaming di internet. Kami juga kerja sama dengan TV kabel. Sehingga pelanggan TV Kabel pun bisa menonton Silampari TV di Channel 14,” jelas Yasin.

Dari sekian banyak program Silampari TV ‘Koja Bujang Juaro’ masih jadi favorit penonton. Program komedi berbahasa daerah ini setiap episodenya mengandung nilai-nilai edukasi dan mengusung kearifan lokal.

“Koja Bujang Juaro ini lebih ke hiburan, tapi untuk saat ini kita juga sudah kerja sama dengan pemerintah untuk memberikan sosialisasi ke masyarakat terkait dengan program-program pemerintah. Jadi edukasinya dapat, hiburan juga dapat,” lanjut Yasin.

Silampari TV satu-satunya TV lokal yang dimiliki Kota Lubuklinggau. Untuk itu, Yasin berharap baik Lubuklinggau, Musi Rawas dan Muratara dapat mendukung Silampari TV yang namanya menaungi tiga daerah tersebut.

“Ada kemungkinan kami ekspansi ke daerah lain seperti Empat Lawang, Tebing Tinggi atau Muara Enim. Kami sedang menyusun rencana itu, sehingga jangkauan siaran bisa meluas se-Sumsel,” target Yasin.

Laporan Qory/Riena/Herwinda

Rekomendasi Berita