oleh

Setiap Bulan Ada 110 Janda-Duda Baru

LINGGAU POS ONLINE, AIR KUTI – Dalam sebulan perkara gugat cerai dan talak cerai yang masuk di Pengadilan Agama (PA) Lubuklinggau rata-rata mencapai 110 perkara. Namun setiap perkara perceraian yang masuk tidak serta merta langsung dikabulkan. Karena di persidangan ada proses mediasi antara kedua belah pihak dengan mempertimbangkan berbagai faktor.

Ketua Pengadilan Agama (PA) Lubuklinggau, Muchlis melalui Humas, Raden A Syarnubi, Selasa (24/7) mengatakan pihaknya berupaya agar tidak terjadi perceraian.

Apalagi angka perceraian di Kota Lubuklinggau, Kabupaten Musi Rawas (Mura), dan Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara) selama 2018 cukup banyak.

“Sampai Juni sudah diputuskan 519 perkara perceraian. Rata-rata perkara perceraian di tiga wilayah ini didominasi permasalahan ekonomi atau nafkah. Yang paling banyak gugat cerai dari pihak perempuan, dibandingkan talak cerai dari pihak laki-laki,” jelas Raden A Syarnubi.

Berdasarkan data cerai gugat, Januari hingga Juni 2018 yang sudah disidangkan 531 orang. Sedangkan untuk perkara cerai talak yang ada 150 orang, untuk keseluruhan 681 perkara perceraian.

“Jumlah yang telah selesai dan memiliki keputusan tetap berjumlah 519 perkara, dan 172 perkara lainnya masih dalam proses penyelesaian,” ungkap Raden A Syarnubi.

Ternyata perkara perceraian justru mengalami penurunan setiap bulannya selama 2018. Untuk talak cerai, Januari 2018 ada 38 perkara, Februari 27 perkara, Maret dan April 25 perkara, Mei 19 perkara, dan Juni 17 perkara. Sedangkan cerai gugat, Januari 2018 ada 138 perkara, Februari 97, Maret 104, April 77, Mei 72, dan Juni 2018 43 perkara.

Menurut Syarnubi, tingginya angka gugat cerai yang masuk disebabkan oleh banyak faktor, namun kebanyakan didominasi, faktor perselisihan karena tidak akur dengan pasangan dan karena masalah perekonomian. Namun ada juga yang disebabkan karena faktor Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) yang memang tidak harmonis sejak awal.

Syarnubi menjelaskan, perkara gugat cerai dan talak cerai hampir merata terjadi di tiga wilayah. Namun yang paling banyak datang dari Kota Lubuklinggau dan Kabupaten Mura, sedangkan Kabupaten Muratara hanya sedikit.

***Perkara yang Dibenci Allah SWT

Pendiri Pesantren Modern Ar Risalah dan Mazroillah Kota Lubuklinggau, DR (Hc) KH Syaiful Hadi Maafi menjelaskan, perkara perceraian dari sisi agama memang diperbolehkan, selagi hanya itulah satu-satunya solusi jalan keluar. Tetapi ini perbuatan yang tidak disukai Allah, bahkan dimurkai oleh Allah.

Maka sebaiknya, perceraian harus dihindarkan. Apalagi dengan bercerai senangnya hanya sesaat. Sementara dampaknya panjang. Bahkan tidak hanya terhadap suami atau istri, namun juga ke anak maupun keluarga.

“Kecuali kalau memang sudah tidak bisa dipertahankan lagi,” kata Syaiful Hadi.

Untuk mempertahankan perkawinan, kata Syaiful Hadi, suami dan istri harus saling memaafkan dan memahami. Saling mengajak ke jalan yang benar dan berkomitmen pada iman.

Karena menurutnya, selain faktor ekonomi dan perselingkuhan, faktor  era ‘istri melawan suami’ saat ini juga yang menjadi penyebab tingginya angka perceraian. Wanita menganggap haknya sama dengan suami, sehingga mudah memancing emosi suami.

“Di dalam Islam istri wajib mentaati suami, dan melayani suami. Selagi haknya sebagai istri dipenuhi suami. Ingat, jangan sampai tuntutan istri terhadap suami melebihi tuntutan syariat Islam,” jelasnya.

Sementara secara psikologi, perceraian menimbulkan stigma tentang sosok mereka sebagai janda dan duda.

“Kadang stigma negatif juga berdampak pada anak-anak mereka. Menurut saya, ini penting untuk dipikirkan,” saran Psikolog Irwan Tony, tadi malam.

Untuk mencegah terjadinya perceraian, harus dipahami menikah itu adalah menyatukan dua orang yang berbeda, baik pola asuh, adat istiadat, bahasa dan sebagainya. Jadi, menurut Irwan Tony, wajar akan ada perbedaan.

Kedua, imbuh dia, ingat memori sebelum menikah, hadirkan kembali memori indah itu sehingga bisa menguatkan kembali ikatan pernikahan itu. Khususnya bagi yang sudah punya anak, jangan karena egois diri, sehingga harus mengorbankan anak yang hilang figur ayah atau ibu dari diri mereka.

“Selain itu, penting bagi pasangan memperbaiki pola komunikasi sehingga tidak ada misspersepsi antar pasangan, buatlah waktu khusus berdua untuk menguatkan ikatan cinta di tengah kesibukan masing-masing,” saran Irwan. (13/07/02)

Rekomendasi Berita