oleh

Setelah Tiga Hari, Rencana Pulang ke Karang Dapo

Aksan (57) yang Menjadi Peminta-minta

Aksan (57) asal Karang Dapo, Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara), kini sehari-harinya hanya berkeliling dengan meminta-minta kepada para dermawan.

Laporan Gery Cipta Sebangun, Lubuklinggau

Rabu, (23/1) Aksan bertemu Linggau Pos saat sedang berkeliling meminta-minta. Ia mengaku datang ke Lubuklinggau sejak belia.

Bahkan ketika usia 17 tahun, ia sudah menjadi pemulung, dengan mencari seperti plastik dan kardus. Pada usia senja ini, karena tidak memiliki pekerjaan ia hanya bisa berkeliling dengan meminta belas kasihan kepada orang-orang.

Menjadi peminta-minta, diakuinya pendapatan tidak menentu. Ia terkadang mendapatkan Rp100 ribu, terkadang hanya Rp25 ribu yang habis untuk makan sehari.

Aksan juga menyatakan, ia menikah di usia belia.

“Saya sudah berkeluarga semenjak berumur 14 tahun menikahi Siti Nur. Dia telah meninggal usia 55 tahun,” tambahnya.

Hasil pernikahannya dengan sang istri, ia dikaruniai dua anak. Kedua anaknya sudah menikah dan mempunyai anak. Sekarang anak dan cucunya bertempat tinggal di Kabupaten Empat Lawang.

“Saya sebenarnya, punya banyak saudara dan keponakan di Lubuklinggau. Tetapi saya malu ketika bertemu dengan mereka,” ungkapnya.

Ia mengaku malu, karena sebagai orang miskin dan memiliki beberapa penyakit yang ia derita. Sehingga ia berencana untuk pulang kampung ke Karang Dapo.

Aksan mengalami beberapa penyakit, seperti penyakit asma, paru-paru basah, jantung dan rematik.

“Aku sempat berobat, tetapi tak kunjung sembuh,” katanya.

Karena kebutuhan hidup, kendati sudah tidak kuat berjalan seperti biasanya. Ia terpaksa melakukannya demi mencari nafkah untuk makan.

Sebelumnya, Aksan diajak merantau bersama orang tuanya ke Kota Lubuklinggau ketika berusianya 8 tahun. Sempat tinggal di Kali Serayu.

Kini ayahnya telah meninggal dunia, hanya ibunya yang masih hidup dan sekarang tinggal di kampung bersama kakak dan adiknya.

Setelah berkeliling tiga hari di Kota Lubuklinggau, Aksan berencana akan pulang ke kampung halamannya secepatnya.

Ia mengharapkan jika pulang ke kampung halaman pasti akan ada yang mengurusinya ataupun ia bisa mendapatkan pekerjaannya. Seperti menyadap karet di Karang Dapo.

Di Lubuklinggau ia tidak pernah sengaja meminta-minta bahkan sampai memaksa, ia hanya menunggu pemberian dari orang lain. Seperti sebelumnya, ia diberi uang sebesar Rp10 ribu dari supir mobil pribadi.

Mengenai tempat tidur, ia pernah tidur di depan salah satu toko yang ada. Namun seorang pengurus masjid, menawarinya tidur di depan masjid karena mungkin iba melihat kondisinya.(*)

Rekomendasi Berita