oleh

Serangan Harimau Dipicu Illegal Logging

LINGGAU POS ONLINE- Serangan hewan buas, baik harimau, babi dan beruang terus terjadi dan menelan korban jiwa. Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) II Lahat, Martialis mengungkapkan ada dua faktor yang menyebabkan turunnya hewan buas ke pemukiman masyarakat.

Pertama, karena rumah mereka diusik, kedua makanan mereka diambil atau diburu oleh masyarakat. Ia menjelaskan, illegal logging yang dilakukan warga menjadi penyebab utama. Sebab, hewan-hewan buas ini seperti harimau maupun beruang sudah tidak memiliki tempat tinggal lagi.

“Perlu diketahui korban yang meninggal akibat terkaman harimau, merupakan pelaku illegal logging. Saat kejadian, korban sedang menebang kayu di hutan lindung,” katanya, Rabu (4/12).

Begitupun dengan korban kedua, yang pahanya diterkam harimau. Namun, berhasil meloloskan diri dengan naik pohon. Saat kejadian, korban beserta rekannya sedang berburu di hutan.

“Artinya, kedua korban telah mengusik mereka (hewan buas, red),” ungkapnya.

Berdasarkan pengamatannya di lapangan kondisi kerusakan hutan saat ini sudah sangat parah. Makanya, pihaknya telah mengeluarkan surat edaran yang ditujukan ke pemerintah kecamatan dan pemerintah desa, untuk melakukan sosialisasi kepada warganya, untuk tidak melakukan illegal logging maupun pemburuan. Sebab, dua perbuatan tersebut akan merugikan mereka sendiri.

“Kita telah memasang perangkat di beberapa lokasi. Tapi, hewan ini berpindah-pindah lokasi, dan ini membahayakan warga,” ujarnya.

Direktur Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Sumsel, Khoirul Sobri menambahkan, sepanjang tahun 2019 pihaknya mencatat terjadi beberapa kali konflik antara hewan buas dan manusia. Sebut saja di Pagaralam dan Lahat harimau, OKU ada Beruang dan babi.

Sobri menilai ada beberapa faktor yang menjadi penyebab, salah satunya yakni soal alih fungsi hutan. Di mana hutan di daerah tersebut jadi perkebunan hingga pertambangan.

“Yang jelas kalau hutan sudah alih fungsi perkebunan dan tambang, maka habitat harimau dan satwa lain rusak. Maka itu berdampak ke masyarakat sekitar,” kata Sobri.

Dengan begitu, Sobri menilai pembukaan industri besar-besaran itu yang akan jadi dampak bukan industrinya sendiri, tetapi masyarakat sekitar. Ini peringatan bahwa habitat hewan buas ini sudah hancur.

“Tidak mungkin hewan-hewan buas turun gunung kalau makanan mereka di hutan tercukupi. Jadi wajar hewan buas pada turun dan mencari makan, kasihan masyarakat sekitar,” katanya.

Terakhir, Sobri minta pemerintah daerah untuk melakukan evaluasi soal izin-izin terkait tambang dan perkebunan. Sebab jika tidak, konflik hewan dan manusia pasti akan terus terjadi.

Laporan Aan Sangkutiar/dtk

Rekomendasi Berita