oleh

Sengketa Lahan Belum Menemukan Titik Terang

MURATARA – Kecamatan Karang Dapo dan Polsek Karang Dapo, Selasa (22/1) memfasilitasi pelaksanaan cek lapangan, terkait sengketa lahan antara Teguh warga Desa Biaro Baru Kecamatan Karang Dapo dengan PT Pratama Palm Abadi (PPA).

Kepala Desa Biaro Baru, Sahrul Jausi menjelaskan sidang lapangan kemarin tidak membuahkan hasil, karena saat kroscek lapangan mantan Kepala Desa (Kades) Hamsah yang menjual kepada perusahaan, mengaku lahan yang dia jual berada di lahan Teguh.

“Pastinya belum ada titik terang dan hasil hari ini tidak ada dan tentunya membuat pemilik lahan kecewa,” ucapnya.

Terpisah Kuasa Hukum PT PPA, Hasnah Nasution mengatakan pihaknya melakukan pengecekan ke lokasi tanah yang dibeli oleh perusahaan PPA dari saudara Hamsa. Kemudian Hamsa menunjukkan lokasi lahan yang dijualnya kepada perusahaan.

Namun demikian, yang terjadi di lapangan adalah terdapat tidak kecocokan lahan yang ditunjuk oleh Hamsa pada saat membeli dengan saudara Tomi dan juga Dedi.

“Asal-usul tanah itu milik Dedi dan Tomi, namun tanah itu dijual mereka ke Hamsa. Kemudian Hamsa menjual tanah kepada kami,” ungkapnya.

Dijelaskannya sekarang tentunya belum bisa menentukan karena pihaknya akan mengkroscek lagi dokumen peta yang mereka dimiliki. Menurutnya tidak menutup kemungkinan masih ada tumpang tindih dengan yang lain.

Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa banyak beredar di media masa bahwa perusahaan PPA itu, ilegal atau tidak memiliki izin, dan tidak mungkin perusahaan membuka lahan tanpa ada alasan.

“Saya tegaskan bahwa perusahaan PPA legal dan memiliki izin dan pastinya setiap berani membuka lahan karena memiliki alasan dan lahan itu dibeli dari saudara Hamsa pada saat itu menjabat Kades,” tegasnya.

Terpisah Kapolres Mura, AKBP Suhendro melalui Kapolsek Karang Dapo, AKP Yani Iskandar mengungkapkan fakta di lapangan memang benar ada tanah milik Tomi dan Dedi, tapi pihaknya akan mengkroscek lagi secara fakta.

Kemungkinan ada salah tunjuk apa yang ditunjuk oleh Dedi dan itu yang ditunjuk oleh Tomi. Karena kondisi lahan masih hutan.

“Sekarang belum bisa menyimpulkan, karena masih mencari data lagi untuk mencari kebenaran dari permasalahan yang ada,” ucapnya.(cw3)

Rekomendasi Berita