oleh

Sempat Ditinggal Operasi Selama Satu Tahun

Hj Nafsiyah Basri Oni, Janda Purnawirawan TNI

Keberhasilan para pahlawan dalam membela negara, tidak terlepas dari sosok sang istri yang ikhlas dan sabar mendampingi mereka dalam menjalankan tugas negara. Lantas, apa suka duka Hj Nafsiyah selama mendampingi sang suami yang merupakan anggota TNI?

Laporan Riena Fitriani Maris, Sidorejo

Istilah di balik keberhasilan seorang pria, ada wanita yang men-support dan mendukungnya dari belakang bisa tergambarkan dari sosok Hj Nafsiyah Basri Oni (78).

Sejak memutuskan menikah dengan Kapten Basri Oni, anggota TNI yang terakhir bertugas di Kota Lubuklinggau, ia setia mendampingi meskipun sering ditinggal pergi untuk bertugas.

Bahkan usai menaburkan bunga di makam sang suami, Hj Nafsiyah menceritakan, pernah ditinggal sang suami untuk melakukan operasi selama satu tahun.

“Dan itu sudah menjadi konsekuensi kita, saat memutuskan untuk menjadi istri seorang TNI.

Alhamdulillah berkat kesabaran dan keikhlasannya mendampingi sang suami, ia tidak pernah melihat suaminya mendapatkan cidera atau terluka saat ikut dalam operasi.

“Alhamdulillah, meskipun pergi lama saat pulang dia menepati janji untuk pulang ke rumah dengan selamat. Selama pergi kita tidak pernah sama sekali mendengar kabarnya. Karena pada zaman sering melakukan operasi, belum ada telepon, handphone atau alat komunikasi lainnya. Hanya ada surat, itu pun susah. Makanya selama suami bertugas, hanya bisa mendoakan agar dia selamat saat menjalankan tugas. Alhamdulillah, hingga tahun 2001 ia wafat sampai saat ini tidak pernah melihatnya terluka saat melakukan operasi,” ungkapnya.

Lantas, bagaimana wanita yang saat ini tergabung dalam warakawuri, janda yang ditinggal mati oleh suaminya (anggota TNI) ini memberikan pemahaman kepada kelima anaknya.

“Alhamdulillah, hanya diberikan pemahaman secara perlahan kalau mereka memiliki seorang ayah yang mengemban tugas atau amanah yang mulia. Turut menjaga kesatuan dan keamanan NKRI. Perlahan-lahan mereka menerima dan paham, bahkan turut mendoakan ketika ayahnya sedang bertugas di luar,” ungkapnya.

Terakhir mendapatkan tugas, sang suami yang diakuinya berasal dari Kota Prabumulih tersebut ditugaskan di Kodim Lubuklinggau.

“Sementara paling jauh melaksanakan operasi, pernah ditugaskan di Jawa Barat. Dan itu cukup lama,” tambahnya.

Di momen hari pahlawan, ia berharap sang suami bisa tenang di sana.

“Dan semangat juangnya dalam menjaga NKRI bisa ditularkan kepada anak dan cucunya, serta seluruh pemuda di Indonesia dan di Lubuklinggau khususnya,” harap Nafsiyah, dengan mata yang berkaca-kaca. (*)

Komentar

Rekomendasi Berita