oleh

Selamatkan Keluarga dari Panasnya Api Neraka

Buka Bersama Keluarga STKIP-PGRI Lubuklinggau

Ramadan merupakan momen yang patut dijadikan titik tolak untuk berubah. Agar makin beriman, dan bertakwa sehingga takut kepada Allah SWT. Hal ini pula yang diharapkan Ketua STKIP-PGRI Lubuklinggau, DR H Rudi Erwandi.

Laporan Sulis, Air Kuti

SUASANA Balai Embun Semibar, Kampus STKIP-PGRI Lubuklinggau Kamis petang (31/5) tak seperti biasa. Ambal merah dan hijau digelar di tengah-tengah gedung berkapasitas 1.000 orang tersebut. Satu per satu dosen dan keluarganya datang lalu duduk lesehan di ambal-ambal tersebut.

Dosen laki-laki di barisan depan, termasuk Ketua STKIP-PGRI Lubuklinggau, DR H Rudi Erwandi, Pembantu Ketua II Eka, Pembantu Ketua III H Sukasno dan staf. Lalu barisan belakang diisi para ibu seperti Ketua Himpunan Wanita STKIP-PGRI Hj Santi Mariami Rudi, Pembantu Ketua I Yohana Satinem, dosen putri dan anak-anak yang turut dibawa.

Acara dimulai pukul 17.10 WIB. Diawali dengan pembacaan Kalam Illahi oleh Maliha.

Mengenakan jubah berkalung sorban, DR Rudi mengajak tamu undangan yang hadir dalam momen Buka Bersama STKIP-PGRI Lubuklinggau memaknai Ramadan dengan hati yang bersih.

Ia mengharapkan, momen Ramadan ini dimanfaatkan untuk membentuk kebiasaan-kebiasaan baik. Kalau kemarin kurang membaca Alquran, maka dengan Ramadan ini kita jadikan momen mulai membiasakan lebih rutin membaca Alquran. Kalau di bulan selain Ramadan kita jarang sekali salat malam, bulan Ramadan ini kita jadikan titik start untuk menekuni salat malam. Kalau di bulan-bulan lainnya kita tidak mengenal majelis pengajian, di bulan ini kita hadiri majelis pengajian.

“Kita sadari bahwa agama ini harus dipelajari bukan cuma pengalaman menjadi pemeluk Islam,” tuturnya.

Suami Hj Santi Mariami itu berharap, seluruh hadirin yang datang mampu merengkuh rahmat, maghfirah dan seluruh anggota keluarganya terhindar dari siksa api neraka.

Sementara tausiyah, diisi oleh Ust Gunawan yang merupakan Imam Mushala Al Lukman. Ia mengajak hadirin yang hadir untuk senantiasa mengingat, bahwa kematianlah yang paling dekat. Usai kematian, kata Ust Gunawan, harta, jabatan, nama baik dan kepopuleran bukan apa-apa. Namun, hanya amal yang bisa jadi bekal.

Oleh karea itu, kata dia, selama hayat di kandung badan, gunakan untuk hal-hal yang baik.

“Ingat saja, kalau kita sering menanam kebaikan, kita akan dapat kebaikan tersebut,” jelasnya.(*)

Rekomendasi Berita