oleh

Selamatkan Anak Korban Kekerasan Seksual

LINGGAUPOS.CO.ID- Pemerintah Kota (Pemkot) Lubuklinggau melalui Unit Pelaksana Teknis (UPT) Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Pemberdayaan Masyarakat (DP3APM), memiliki berbagai program untuk melakukan pendampingan terhadap anak korban kekerasan seksual.

Hal ini diungkapkan Kepala UPT PPA DP3APM, Hj Devy Riane Sari guna memastikan, tidak adanya dampak berkelanjutan dari anak korban kekerasan seksual. Apalagi terdata di UPT PPA, 2019 ada 13 kasus kekerasan seksual terhadap anak yang dilaporkan ke UPT PPA. 12 diantaranya selesai dilakukan pendampingan, sementara satu kasus tidak dapat diselesaikan, karena si korban anak yang berkebutuhan khusus. Ia tuli dan bisu sehingga sulit untuk berkomunikasi.

Sementara hingga Februari 2020, sudah ada dua kasus yang dilaporkan ke UPT PPA dan sedang dalam proses pendampingan.

Menurut Devy, beberapa upaya biasanya mereka lakukan ketika melakukan pendampingan. Setelah mendapat laporan pihaknya akan berkonsultasi dengan Psikolog untuk menghilangkan trauma mental yang dialami korban.

“Biasanya pertemuan dengan psikolog bisa sampai tiga kali. Tapi tergantung rekomendasi dari psikolog. Kalau memang dinyatakan pulih, psikolog biasanya akan mengeluarkan surat keterangan,” jelas Devy.

Setelah itu bukan berarti si korban tidak diawasi lagi. UPT PPA akan memantau dan mengawasi korban hingga tiga sampai enam bulan pasca dinyatakan pulih. Hal ini untuk memastikan si korban mentalnya betul-betul pulih, jika ada tanda-tanda belum pulih akan dilakukan konsultasi lagi ke psikolog.

“Intinya, kita ingin menyelamatkan korban jangan sampai berdampak kemudian hari,” tegas Devi.

Tidak hanya itu, program lainnya juga rutin mereka laksanakan seperti sosialisasi di setiap kecamatan serta penyuluhan pencegahan ke anak TK dan PAUD. Selain itu untuk korban yang kejadiannya di luar Kota Lubuklinggau, pihaknya juga ada program penjemputan dan pemulangan korban.

Maraknya bentuk kekerasan seksual menjadi perhatian penting bagi pemerintah dan masyarakat. Hal itu menunjukkan bahwa anak semakin rentan menjadi korban dari ancaman kekerasan seksual.

Sayangnya, terkadang sikap orang tua membuat anak segan melaporkan kekerasan seksual yang terjadi pada dirinya. Akibatnya, anak memilih diam, yang justru menimbulkan bahaya yang lebih besar terhadap perkembangan mental anak.

Psikiater anak dan remaja, Dr Suzy Yusna Dewi mengatakan kuncinya ada pada perubahan perilaku. Jika perilaku anak berubah, dipastikan ada sesuatu yang terjadi. Tugas orang tua adalah dengan mencari tahu, tapi tidak juga dengan membentak dan marah-marah.

Pasalnya, dengan agresi dari orang tua, anak akan cenderung diam dan berubah defensif. Jika sudah begitu, masalah justru bisa semakin pelik. Luka fisik bisa sembuh dalam hitungan hari, tapi luka psikis bisa menetap menahun dan berpengaruh besar terhadap perkembangan mental anak. Jika tidak ditangani, efeknya malah bisa semakin buruk. Korban bisa menjadi pelaku bahkan bisa menjadi predator.

Efek tersembunyi lainnya adalah, gangguan psikis membuat pertumbuhan terhambat, anak pun cenderung punya prestasi akademik rendah, kepribadian tertutup, kurang bisa bersosialisasi, tidak kreatif dan tidak produktif.(*)

Artikel ini sudah terbit di Harian Pagi Linggau Pos Online dengan judul”Selamatkan Anak Korban Kekerasan Seksual”

Rekomendasi Berita