oleh

Selamatkan Anak Dari Putus Sekolah

Kiat SMAN 9 Mendisiplinkan Siswa Ditengah Keterbatasan

Dua tahun memimpin SMA Negeri 9 Lubuklinggau, Hj Nurlaila memiliki cara tersendiri untuk membangun budaya disiplin pada peserta didiknya. Berikut cara yang dilakukannya untuk mengubah pola pikir siswa agar mengutamakan pendidikan.

Laporan Sulis, Kayu Ara

DIDOMINASI siswa-siswi kurang mampu, membuat guru SMA Negeri 9 Lubuklinggau terkadang harus menerapkan kebijakan khusus.

“Misalnya begini, anak tidak datang ke sekolah tanpa keterangan. Kalau di sekolah lain, bisa jadi memang anak ini nakal. Dan tidak mau sekolah. Tapi di SMA Negeri 9, kemungkinannya siswa ini tidak bisa berangkat sekolah, lantaran tidak memiliki ongkos untuk berangkat dan pulang ke sekolah,” jelas Kepala SMA Negeri 9 Lubuklinggau Nurlaila, saat dibincangi Linggau Pos, Kamis (7/12).

Sehingga, dalam menerapkan kebijakan skorsing, tidak lantas ditetapkan. Namun, melalui tahap. Karena siswa-siswi SMA Negeri 9 ada juga yang berasal dari Padang Ulak Tanding (PUT).

“Kalau alpa itu kan skornya 3. Ketika sudah sampai 60 skornya, kami panggil orang tuanya. Ketika diidentifikasi ternyata anak tidak ke sekolah lantaran tak punya ongkos. Maka sekolah harus punya kebijakan khusus. Ini demi menyelamatkan masa depan anak,” terang Nurlaila.

Lantas apakah anak tidak tertolong dengan adanya program Kartu Indonesia Pintar (KIP)?

Nurlaila yang pernah mengabdikan diri sebagai wakil kepala di SMA Negeri 1 Lubuklinggau dan SMA Negeri 5 Lubuklinggau itu memastikan KIP belum bisa meng-handel kebutuhan siswa-siswi miskin.

“KIP itu Rp 500 ribu per anak per semester. Biasanya kalau dapat KIP, ya untuk beli buku maupun seragam sekolah. Jadi untuk ongkos pulang pergi ke sekolah, ditanggung orang tua,” imbuhnya.

Namun khusus untuk siswa-siswi yang benar-benar dengan sengaja melanggar (alpa), Nurlaila memastikan ketegasan dilakukan.

“Sejak saya memimpin, bukan berarti tidak ada siswa yang dikeluarkan. Daripada dia menularkan ‘virus’ negatif ke siswa lain. Kami harus tegas. Khususnya untuk siswa yang memang tidak memiliki semangat lagi untuk belajar. Tapi ini biasanya sudah tahapan akhir, yang telah melalui proses pembinaan panjang,” jelasnya lagi.

Di tengah keterbatasan menurut Nurlaila, mereka harus bisa tetap menegakkan aturan dan kebijakan yang terbaik untuk peserta didik.

“Memang belum banyak yang bisa kami bantu. Namun kami berusaha agak siswa-siswi kami, bisa menuntaskan pendidikannya dengan baik di SMA Negeri 9 Lubuklinggau,” terang Nurlaila.

Selain menerapkan kebijakan bagi anak kurang mampu, sekolah ini juga membebaskan orang tua yang tidak mampu membayar iuran komite.

“Per bulan kan setiap orang tua wali dari 230 peserta didik kami memberikan iuran komite sekolah Rp 85 ribu. Kumpulan uang ini, kami gunakan untuk membayar gaji honorer berjumlah 16 orang. Namun karena ada juga orang tua yang benar-benar tidak mampu. Kami tidak memaksanya. Niatan kami, jangan sampai anak tidak sekolah gara-gara belum bayar iuran. Jadi yang benar-benar tidak mampu ya kami bebaskan,” jelasnya. (*)

Komentar

Rekomendasi Berita