oleh

Seks Bebas, 285 Pasangan Menikah Dini

LINGGAUPOS.CO.ID – Angka dispensasi nikah tahun ini menunjukkan kenaikan yang signifikan. Per 28 Juli 2020, Pengadilan Agama Lubuklinggau mencatat ada 285 perkara dispensasi nikah. Padahal tahun 2019, hanya 110 pasangan.

Ini diungkapkan Ketua Pengadilan Agama Lubuklinggau Kiagus Ishak, Z.A melalui Panitera Pengadilan Agama Lubuklinggau, Yuli Suryadi, Selasa (28/7/2020).

Dispensasi adalah pemberian hak kepada seseorang untuk menikah meskipun usianya belum mencapai batas minimal 19 tahun.

Sebab menurut Undang-Undang (UU) Nomor 16 Tahun 2019 tentang Perkawinan, seorang laki-laki dan seorang perempuan diizinkan menikah jika mereka sudah berusia 19 tahun ke atas.

Jika ternyata keadaan menghendaki, perkawinan dapat dilangsungkan meskipun salah satu dari pasangan atau keduanya belum mencapai usia dimaksud.

Menurut UU Perkawinan yang baru, penyimpangan hanya dapat dilakukan melalui pengajuan permohonan dispensasi oleh orang tua dari salah satu atau kedua belah pihak calon mempelai.

Bagi pasangan yang beragama Islam, permohonan diajukan ke Pengadilan Agama. Bagi pemeluk agama lain diajukan ke Pengadilan Negeri.

Jika orang tua akan mengajukan dispensasi nikah, harus memiliki surat penolakan dari Kantor Urusan Agama (KUA), buku nikah orang tua, kartu keluarga, KTP dan akta kelahiran calon pengantin yang akan menikah bawah usia pernikahan.

Pasal 7 ayat (2) UU Perkawinan yang baru menegaskan bahwa dispensasi perkawinan dapat diberikan atas alasan mendesak. Alasan mendesak itu tak bisa sekadar klaim. Harus ada bukti-bukti pendukung yang cukup.

Dijelaskan oleh Yuli Suryadi bahwa kasus dispensasi nikah merupakan perkara mayoritas yang terjadi pada perkara permohonan, yakni dari 310 perkara permohonan kurang lebih 91 persennya merupakan perkara dispensasi nikah.

“Jadi per 28 Juli 2020 ini, ada 1.037 perkara yang diajukan ke PA Lubuklinggau, meliputi 310 perkara permohonan dan 727 perkara gugatan. Dari 310 perkara permohonan, terdapat 285 perkara dispensasi nikah, atau sekitar 91 persen dari jumlah perkara permohonan,” jelasnya.

Yuli Suryadi mengatakan, beberapa faktor penyebab meningkatnya perkara dispensasi nikah, meliputi pertama, faktor UU Nomor 16 Tahun 2019 sebagai Perubahan Atas UU Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan seperti yang diamanatkan Mahkamah Konstitusi (MK). Di mana, UU Perkawinan yang baru mengubah batas minimal menikah laki-laki dan perempuan yang akan menikah minimal usia 19 tahun.

Sebelumnya, batas usia menikah bagi laki-laki ialah 19 tahun dan perempuan 16 tahun.

“Dalam tahun ini saja, perkara dispensasi nikah meningkat karena faktor penambahan usia untuk kawin, dan penambahan usia boleh kawin. Dan rata-rata alasan orang tua yang mengajukan permohonan dispensasi nikah ini adalah takut anaknya terjerumus ke dalam hal-hal yang tidak memungkinkan,” jelasnya.

Namun, lanjutnya, ada juga yang mengajukan dispensasi nikah karena kondisi anak perempuan hamil.

“Dan tidak sedikit pula yang mengajukan dispensasi karena antara calon pengantin perempuan dan calon pengantin laki-laki sudah melakukan hubungan layaknya suami istri. Dan alasan ini yang banyak terjadi,” jelasnya. (*)

Sumber: Harian Pagi Linggau Pos

Rekomendasi Berita