oleh

SDN Air Lesing Bocor

Kepala SDN Air Lesing, Jamri
“Kami berharap kalau ada pengecekan dari Disdik, mereka tahu dengan kondisi sekolah kami ini. Karena sampai saat ini kita belum tahu kendalanya, kenapa setiap diajukan proposal tidak pernah terealisasi…”

LINGGAU POS ONLINE – SDN Air Lesing, Kecamatan Muara Beliti kondisinya sangat memprihatinkan. Sebagian besar atap sekolah tersebut rusak. Plafonnya jebol. Kalau hujan bocor. Sehingga mengganggu aktivitas anak-anak belajar.

“Saat hujan, sekolah kami bocor pak!” aku salah seorang murid SDN Air Lesing, saat saya datang ke sekolah tersebut Jumat (6/9) pagi.

Kepala SDN Air Lesing, Jamri mengatakan sebelum tahun 2017 kondisi sekolah yang dipimpinnya itu sudah sangat memprihatinkan.

“Meski kondisinya begini (banyak plafon rusak, red) Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) masih lancar. Kami mendidik 75 murid, mulai kelas I-VI. Dalam mendidik anak-anak ini, saya dibantu sembilan guru, enam ASN dan tiga honorer,” jelasnya.

Menurut Jamri, SDN Air Lesing berdiri tahun 1980-an. Namun sampai saat ini belum pernah mendapatkan bantuan.

“Awal saya masuk ke sini terkejut, padahal di sini dekat dengan ibukota kabupaten. Tetapi bangunannya sangat memprihatinkan, dan jauh dari kata layak untuk belajar,” jelas Jamri.

Selain itu, pihaknya sudah dua kali melakukan pengajuan proposal kepada Dinas Pendidikan (Disdik). Tetapi, proposal yang diajukan tidak pernah terealisasi. Kalau mau memaksakan pakai dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS), kata Jamri, tentu tidak cukup untuk merehab bangunan yang rusak berat ini.

“Dana BOS yang ada, kami pakai untuk biaya perawatan, seperti mengecat pagar dan hal lainnya. Kalau untuk merenovasi bangunan, tentu tidak wajar, apalagi jumlah siswa sangat minim sekali,” ucapnya.

Dirinya berharap kepada pemerintah, khususnya Disdik Kabupaten Mura untuk turun ke lapangan dan mengecek langsung bangunan SD yang ada saat ini.

“Ya, Disdik jarang mengecek SD kami. Padahal kami berharap kalau ada pengecekan dari Disdik, mereka tahu dengan kondisi sekolah kami ini. Karena sampai saat ini kita belum tahu kendalanya, kenapa setiap diajukan proposal tidak pernah terealisasi,” keluhnya.

Seorang guru SDN Air Lesing, Ima menambahkan ia sendiri miris dengan kondisi di tempatnya mengabdi itu.

“Kita mohon supaya bisa direhab secepatnya. Kalau untuk usulan rehab sudah kami lakukan setiap tahun, agar sekolah kami dapat bantuan. Tetapi tidak pernah dapat,” keluhnya Ima.

Ditambahkan, akibat banyaknya atap yang bocor dan berlobang. Saat musim hujan tiba, terkadang anak dipulangkan karena di ruangan penuh dengan air.

“Saat mengajar kami selalu membawa sekop, untuk membersihkan air. Kalau tidak seperti itu, maka tidak bisa belajar,” ungkapnya.

Tanggapan Dinas Pendidikan
Operator Diminta Sinkronkan Data

Plt Kepala Disdik Mura, Hartoyo saat dikonfirmasi mengatakan pihaknya sudah tahu persis kondisi SDN Air Lesing. Ia menganalisa, kerusakan di sekolah tersebut masuk kategori sedang. Sudah diatas 30 persen.

Lantas, mengapa tak segera dapat bantuan rehab?

Hartoyo menerangkan ia sudah menjelaskan kendala belum direhabnya SDN Air Lesing sampai sekarang.

“Sudah saya panggil Kepala SDN Air Lesing. Ada data-data di Dapodik dengan data yang diajukan ke kami tidak sinkron. Jadi tertolak sistem komputer. Bukan hanya SDN Air Lesing. Ada 50 persen lebih dari jumlah SD yang mengajukan rehab, tertolak gara-gara data yang diinput operator beda dengan yang diajukan kepala sekolah kepada kami,” terang Hartoyo, Jumat (6/9) malam.

Kasus di SDN Air Lesing, kategori rusak yang terinput di Dapodik rusak ringan.

“Ya mungkin operatornya menganggap sekolahnya masih dalam kondisi baik-baik saja. Namun data yang diajukan kepala sekolahnya sebenarnya sudah masuk kategori rusak ringan. Saat diinput di Aplikasi KRISNA (Kolaborasi Perencanaan dan Informasi Kinerja Anggaran) lalu disinkronkan dengan Dapodik, ternyata tidak sinkron. Ini yang menyebabkan kadang tidak bisa terealisasi pengajuan rehabnya,” tutur Hartoyo.

Jadi kata Hartoyo, kategori rusak ringan itu dibawah angka 30 persen. Kalau di atas itu, sudah masuk kategori sekolah rusak sedang. Sementara kalau sudah diatas 50 persen maka sudah bisa dikatakan rusak berat dan harus dirombak habis. Ia berharap kepala sekolah dan operator bisa lebih intens komunikasi.

Masalah inilah yang saat ini sedang ditertibkannya. Dengan cara mengumpulkan seluruh operator sekolah, lalu diberikan arahan gar konsisten dengan data.

Kesalahan input data antara yang ada di Dapodik dengan yang diusulkan, meski kadang dianggap sepele, bisa berakibat fatal.

Jadi, Hartoyo menegaskan, bukan berarti Disdik yang tidak perhatian, tapi memang sistem yang menolak.

“Saya sudah sampaikan ini ke Kepala SDN Air Lesing. Selama ini mungkin kepala sekolah fokusnya saat input ke Dapodik itu terkait data jumlah siswa dan jumlah guru saja. Padahal data terkait kondisi sarana sekolah juga sangat penting diperhatikan saat pelaporan di Dapodik. Harus terus diperbarui,” tuturnya.

Tahun 2019 ini, ada 54 lokasi yang diproyeksikan akan menerima bantuan rehab baik ruang kelas maupun kantor guru dengan Dana Alokasi Khusus (DAK) 2019. Ada juga sekolah yang membangun perpustakaan dan WC.

“Sebab saat ini setiap sekolah harus punya sanitasi yang layak anak. Khusus SDN Air Lesing kami sudah coba lagi untuk usulan 2020, mudah-mudahan SDN Air Lesing bisa dapat. Tapi dengan catatan tadi, harus sinkron antara kondisi sebenarnya dengan Dapodik,” kata Hartoyo, kemarin.

Laporan Daulat/Sulis

Rekomendasi Berita