oleh

Segera Dibangun Dua Pasar Tradisional Baru

PEMERINTAH Kota (Pemkot) Lubuklinggau akan menambah dua pasar tradisional baru, tepatnya di Kecamatan Lubuklinggau Barat I dan Kecamatan Lubuklinggau Selatan I.

Langkah awal Pemkot Lubuklinggau melakukan rapat terkait lahan pembangunan kedua pasar tersebut. Tepatnya di Op Room Dayang Torek komplek perkantoran Walikota Lubuklinggau, Jalan Garuda, Kelurahan Kayu Ara, Kecamatan Lubuklinggau Barat II, Senin (8/1) dipimpin oleh Sekda Kota Lubuklinggau, H Rahman Sani.

Rapat ini diikuti oleh beberapa SKPD, seperti Disperindag, Bagian Pemerintahan, BKD Kota Lubuklinggau, Dishub, dan SKPD lainnya.

Rapat ini guna menindaklanjuti nota Dinas, Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian No. 005/24/Disdagrin/2017, peihal mohon persetujuan penetapan lahan pembangunan pasar tradisional .

Dalam rapat tersebut, H Rahman Sani meminta Disperindag Kota Lubuklinggau, agar kedepannya kedua pasar tersebut dapat ditata dengan baik. Menurut Rahman Sani, kedua lokasi tersebut sudah banyak penduduk dan selayaknya untuk dibangun pasar.

“Dalam rapat ini, kita semua telah menyetujui lahan pasar di Lubuklinggau Barat I dan Lubuklinggau Selatan I, dibangun pasar tradisional. Semoga kedepannya bermanfaat dan bisa berkembang, dan secepatnya pasar tersebut dibangun setelah melakukan persetujuan ini,” ungkapnya.

Sementara, Kadisperindag Kota Lubuklinggau, H M Hidayat Zaini, mengaku Pasar Watas luas tanahnya ada 6.800 hektare persegi, dan Pasar Kelurahan Rahma sekitar 21.000 hektare persegi. Dengan luas bangunan 20×30 meter.

Ini tingkat pengembangan kota, jangan seperti pasar di Moneng Sepati, yang saat ini tidak berkembang.

“Kita harap, untuk Pasar Rahma dan Watas itu kedepannya bisa perkembangan, kalau untuk Pasar Watas nanti tidak jauh dari terminal, dan Pasar Rahma nanti di dekat Bendara Silampari,” terangnya.

Ditambah Kepala Badan Keuangan Daerah (BKD) Kota Lubuklinggau, Imam Senen melalui Bidang Aset, Tarmizi Taufik mengaku di Perumnas Rahma saat ini masih banyak para warga yang mengaku haknya sendiri.

“Di Perumnas Rahma itu, masih banyak tanah yang warganya mengaku hak sendiri, jadi itulah pembangunan sedikit terhambat,” terangnya.(20)

Komentar

Rekomendasi Berita