oleh

Sebelum Dibunuh, Korban Sempat Minta Maaf

LINGGAU POS ONLINE – Penyidik Sat Reskrim Polres Lubuklinggau terus melakukan penyidikan kasus pembunuhan dengan tersangka Al (16) warga Jalan Garuda RT.2 Kelurahan Lubuk Tanjung Kecamatan Lubuklinggau Barat I. Seperti diketahui Al diduga membunuh Wiwik Wulandari (13), warga Jalan Mahoni Blok B RT.5 Prumnas Kelurahan Tanjung Aman, Kecamatan Lubuklinggau Barat II, Jumat (17/5) sekitar pukul 12.00 WIB.

Kapolres Lubuklinggau, AKBP Dwi Hartono, Senin (20/5) menjelaskan berdasarkan pemeriksaan terhadap tersangka, ternyata korban sempat minta maaf kepada tersangka Al. Kendati korban sudah meminta maaf, tersangka tetap menikam korban di bagian perutnya menggunakan pisau. “Menurut keterangan tersangka, korban sudah minta maaf. Namun tersangka mengatakan sudah terlambat. Kemudian dia menikam korban menggunakan pisau yang memang sudah dibawanya,” ungkap AKBP Dwi Hartono.

Pengakuan tersangka, korban ditikam di bawah pepohonan di atas tebing tak jauh dari lokasi mayat ditemukan. “Setelah ditikam korban lari ke bawah tebing. Tersangka mengejarnya hingga ke di dekat tempat mayat korban ditemukan,” tambah Kapolres. Sementara itu pemeriksaan terhadap tersangka ditambahkan Kapolres, baru bisa dilakukan Senin, karena tersangka sempat sakit.

Seperti diketahui, Wiwik Wulandari (13) siswa Kelas IX SMPN 4 Lubuklinggau, Jumat (17/5) sekitar pukul 14.00 WIB ditemukan tewas di jalan setapak RT.4 Kelurahan Lubuk Tanjung Kecamatan Lubuklinggau Barat II. Korban tewas dengan tiga luka tusuk di perutnya.

Tersangka Al (16) siswa kelas X salah satu SMA swasta di Lubuklinggau. Al ditangkap di Kelurahan Ulak Lebar, Kecamatan Lubuklinggau Barat, Sabtu (18/5) sekitar pukul 02.00 WIB. Terpisah Kajari Lubuklinggau, Hj Zairida melalui Plh Kasi Pidum, Supriansyah mengatakan pihaknya siap menangani semua perkara yang dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri (Kejari) Lubuklinggau. Termasuk, dugaan pembunuhan yang dilakukan Al (16) terhadap Wiwik Wulandari (13).

Suprianyah menjelaskan khusus untuk anak-anak proses persidangannya beda dengan orang dewasa, hal itu diatur dalam Undang-Undang (UU) No.11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak (SPPA).

Dalam UU tersebut dijelaskan, pada Pasal 2 sistem peradilan pidana anak dilaksanakan berdasarkan asas pelindungan, keadilan, nondiskriminasi, kepentingan terbaik bagi anak, penghargaan terhadap pendapat anak. Kemudian, kelangsungan hidup dan tumbuh kembang anak, pembinaan dan pembimbingan anak, proporsional, perampasan kemerdekaan dan pemidanaan sebagai upaya terakhir dan penghindaran pembalasan.

Selanjutnya, dijelaskan dalam Pasal 23 ayat (1) dalam setiap tingkat pemeriksaan, anak wajib diberikan bantuan hukum dan didampingi oleh pembimbing kemasyarakatan atau pendamping lain sesuai dengan ketentuan Peraturan Perundang-undangan.

Lalu dijelaskan dalam Pasal 34 ayat (1) dalam hal penahanan dilakukan untuk kepentingan penuntutan, penuntut umum dapat melakukan penahanan paling lama lima hari. Kemudian ayat 2, jangka waktu penahanan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) atas permintaan penuntut umum dapat diperpanjang oleh hakim pengadilan negeri paling lama lima hari.

Selanjutnya, Pasal 35 ayat (1) dalam hal penahanan dilakukan untuk kepentingan pemeriksaan di sidang pengadilan, hakim dapat melakukan penahanan paling lama sepuluh hari. Kemudian, jangka waktu tersebut bisa diperpanjang oleh ketua pengadilan negeri paling lama lima belas hari. “Semua aturan ini harus dipatuhi dalam menangani perkara yang dilakukan anak-anak,” ujarnya.

Terpisah Ketua KPAID Kota Lubuklinggau, Redi Lansa menegaskan kalau pihaknya turut memantau kasus pembunuhan Wiwik Wulandari, siswi SMPN 4 Kota Lubuklinggau. Meskipun hingga saat ini diakuinya, belum ada dari pihak tersangka yang datang ke pihaknya, untuk meminta perlindungan. “KPAID sudah mendatangi rumah duka, sekaligus untuk melayat dan mencari tahu bagaimana kronologi kejadiannya. Dari apa yang kami dapat, KPAID menyarankan dan mengimbau, agar orang tua bisa lebih peka dan lebih memperhatikan anaknya. “Ya yang bisa kita ambil, kedepan orang tua harus lebih perhatian terhadap anaknya. Jangan sampai mereka keluar rumah tanpa sepengetahuan orang tuanya, termasuk pulang sekolah pastikan langsung pulang ke rumah dan perhatian-perhatian lainnya. Tentu, untuk menghindari hal-hal seperti ini,” jelas Redi.

Yang pasti dilanjutkan Redi, karena tersangka masih bawah umur pihaknya tetap mengawasi proses hukum yang dijalani saat ini. “Pendampingan kita, ya dengan mengawasi proses hukumnya apakah sesuai dengan prosedurnya atau tidak. Bila perlu ketika di tengah-tengah proses hukum kami dibutuhkan untuk hadir, kami siap,” tegasnya. Untuk 2019, ia menambahkan ada 11 kasus kekerasan terhadap anak yang sudah didampingi oleh KPAID Kota Lubuklinggau. “Untuk kasusnya merata, ada kasus tindak kriminal seperti pencurian, hak asuh anak hingga pemerkosaan,” tambahnya.

Sementara itu, Kapolres Lubuklinggau memberikan penghargaan kepada petugas yang berhasil ungkap kasus pembunuhan ini. Penghargaan tersebut diberikan secara simbolis langsung oleh Kapolres Lubuklinggau, AKBP Dwi Hartono, Senin (20/5) di halaman Mapolres Lubuklinggau. Menurut Kapolres, pemberian penghargaan diberikan karena petugas Sat Reskrim dan beberapa petugas lainnya yang ikut terlibat dalam ungkap kasus pembunuhan ini. “Patut diacungi jempol, mengingat kinerja sangat baik, dan insting pencarian data tersangka juga sangat bagus, seperti mencari Barang Bukti (BB) di lokasi dan memantau Closed Circuit Television (CCTV) warga, hal itu dapat menjadikan contoh bagi petugas lainnya,” kata Dwi Hartono.

Sementara itu salah satu petugas yang mendapatkan penghargaan, Aiptu Ibnul Subkyanto atau sering di sapa Ibnul Gondrong mengatakan suatu kebanggaan dapat menerima penghargaan. “Ini bukti bahwa untuk ungkap kasus, polisi tidak tinggal diam,” jelasnya.

Ibnul yang juga Katim Buser Polsek Lubuklinggau Barat, mengaku selama menjadi polisi sudah lima kalinya mendapatkan penghargaan. Bahkan sejak 1995 menjadi polisi, ia selalu bertugas di Reskrim. “Selama ini, kasus yang paling sulit kita tangani yakni kasus pembunuhan kemarin tulah, karena ketika kita mencari data, banyak dari warga yang tidak mengetahui korban maupun tersangka. Membuat kita sebagai petugas harus bekerja ekstra demi mengungkap kasus tersebut,” katanya.

Selain itu, ia mengucapkan terima kasih kepada para media, dan masyarakat yang telah mau membantu untuk memublikasikan, sehingga identitas korban terungkap secepatnya oleh pihak keluarganya. Sehingga memudahkan penelusuran pencarian tersangka yang telah di temukan dalam waktu kurang dari 1×24 jam. (cw4/rfm/aku)

 

Rekomendasi Berita