oleh

SDN 30 Lubuklinggau Destinasi Studi Banding Sekolah Model di Sumsel

Tim Tari Sanggar Seni SD Negeri 30 Model Lubuklinggau di bawah binaan guru Dina Salputri menampilkan Tari Sambut Silampari, sebagai simbol penyambutan terhadap tamu dari Kepala SD Model Kabupaten Banyuasin dan Kabupaten Musi Rawas Utara, Senin (18/12). Foto: Sulis/Linggau Pos

SENIN (18/12) Tim Tari Sanggar Seni SD Negeri 30 Lubuklinggau dengan pakaian merah keemasan menyambut kedatangan Rombongan Sekolah Dasar Model dari Kabupaten Banyuasin dan Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara).

Ketika menyambut kedatangan para tamu ini, Kepala SD Negeri 30 Lubuklinggau, Sri Astuti, M.Pd mengungkapkan, rasa terima kasihnya telah memilih SD Negeri 30 sebagai tujuan studi banding. Dengan rendah hati, Sri mengungkapkan beginilah situasi di SD Negeri 30 Lubuklinggau. Ia juga memaparkan secara gamblang bagaimana dengan Sumber Daya Manusia (SDM) dan kondisi yang ada di sekolah tersebut, namun tetap bisa menciptakan suasana belajar yang nyaman dan lengkap bagi 500 lebih peserta didiknya.

Mulai dari tempat penerimaan tamu, ruang UKS, ruang salat, sanitasi, pemanfaatan lahan untuk menanam Tanaman Obat Keluarga (TOGA), ruang kepala sekolah, ruang pengawas, dan masih banyak lagi.

Apa yang dilakukan Sri Astuti itu, kata Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Kadisdik) Kota Lubuklinggau diwakili Kasi Kurikulum Sutarman, membuat penampilan dan murid SD Negeri 30 Lubuklinggau berkembang pesat dibanding sebelumnya. Predikat Juara Sekolah Sanitasi se-Sumsel, Sekolah Adiwiyata Kota Lubuklinggau, juga sebagai Sekolah Model telah diraih SD Negeri 30 pada masa kepemimpinan Sri Astuti.

“Pesan kami untuk Ibu Sri dan rekan-rekan guru dan staf di SD Negeri 30 Lubuklinggau, tolong dipertahankan,” pesannya.

Mendengar laporan Sri Astuti tersebut, Pimpinan Rombongan Sekolah Dasar Model dari Kabupaten Banyuasin Usmadi mengaku bahagia selamat dan disambut dengan hangat oleh keluarga besar SD Negeri 30 Lubuklinggau.

“Sebenarnya rencana Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Sumsel itu Sekolah Model se-Sumsel ini akan di-launching di Lubuklinggau. Sejak adanya rencana itu, kami terus terngiang-ngiang dengan Kota Lubuklinggau. Oleh karena itu, karena rencana Launching Sekolah Model se-Sumsel itu kabarnya di-cancel, maka saya bersama enam kepala SD model di Kabupaten Banyuasin ingin belajar ke mari (SD Negeri 30,red). Sebenarnya di Banyuasin itu ada tujuh SD model. Namun yang satu susah studi banding ke Pagaralam,” jelas Usmadi.

Mereka memilih SD Negeri 30 Lubuklinggau sebagai destinasi studi banding, juga atas rekomendasi LPMP Sumsel.

“Kami sangat bersyukur bisa ke sini. Kami bisa menyaksikan bagaimana hasil perjuangan Bu Sri Astuti yang disentuh dengan inovasi, sehingga SDM dan sumber dana yang ada bisa dikelola dan diberdayakan maksimal untuk berprestasi.

Usmadi meyakini, sekalipun SDM-nya hebat-hebat, kalau leader (kepala sekolah,red)-nya biasa-biasa saja. Ia yakin tak akan bisa mencapai pesatnya kemajuan sekolah seperti di SD Negeri 30.

Sementara Pimpinan Rombongan Sekolah Dasar Model dari Kabupaten Muratara, Asnawi, menjelaskan mereka juga berterima kasih mendapat sambutan yang baik dan diperkenankan belajar dengan SD Negeri 30. Asnawi mengungkapkan, dari 123 SD di Kabupaten Muratara ada dua SD yang ditetapkan sebagai sekolah model 2016. Pada tahun 2017, bertambah enam SD lagi sebagai sekolah model.

“Setelah studi banding ke Bandung dan Yogyakarta, dengan biaya dari Pemkab Muratara. Kami lanjutkan belajar ke Kota Lubuklinggau, yakni ke SD Negeri 30. Ilmu yang sudah Ibu Sri Astuti berikan ini akan kami terapkan di sekolah-sekolah kami di Muratara,” imbuhnya.

Acara siang kemarin ditutup dengan kunjungan ke beberapa ruang yang ada di SD Negeri 30 Lubuklinggau. Beberapa anggota rombongan juga mendokumentasikan hal-hal unik yang sudah ada di SD Negeri 30, untuk diimplementasikan ke sekolah asal. Baik Muratara maupun Banyuasin.(05)

Komentar

Rekomendasi Berita