oleh

SDA Melimpah, Tapi Belum Dikelola Optimal

LINGGAU POS ONLINE, MUSI RAWAS – Sedikitnya ada 300 orang mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Musi Rawas-Lubuklinggau mengikuti Praktik Kerja Lapangan (PKL) selama 10 hari di Yogyakarta belum lama ini.

300 mahasiswa ini mendapat kesempatan belajar di perkebunan mangga, perkebunan salak, tempat produksi pakaian sablon, pabrik Sidomuncul, tempat industri membatik, berkunjung ke Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia dan Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia.

“Memang selama ini mahasiswa STIE setiap tahun selalu mengikuti PKL, akan tetapi kali ini saya ubah strategisnya. Saya ingin melahirkan mahasiswa yang memiliki jiwa entrepreneur atau jiwa wirausaha. Makanya kita bawa mereka ke tempat-tempat yang memberikan inspirasi supaya dapat mengembangkan daerah sini nantinya,” kata Ketua STIE Musi Rawas-Lubuklinggau, H Abdullah Hehamahua kepada Linggau Pos, Sabtu (10/2).

Misalnya, lanjut Abdullah, mahasiswa diajak ke perkebunan Mangga dan buah-buahan lainnya, di Musi Rawas cukup banyak kebun buah-buahan, namun belum dilakukan dengan optimal pemanfaatannya.

Begitu juga dengan perkebunan sawit, kalau di sini, sawit hanya dikonsumsi dalam bentuk buah saja, namun di Yogyakarta dimanfaatkan semua diolah menjadi keripik, manisan, bakpia dan yang terbaru bisa dijadikan kopi dari bijinya.

“Saya sudah cek di sini, tepatnya di Musi Rawas, dulu ada perkebunan sawit. Tapi karena manajemennya kurang bagus, maka sekarang sudah tidak optimal lagi penghasilannya,” ungkapnya.

Direktur Pascasarjana STIE Musi Rawas Lubuklinggau ini mengatakan kalau potensi daerah Musi Rawas sangat besar sekali, apalagi SDA seperti Migas paling besar nomor dua di Sumsel, begitu juga dengan lumbung padinya.

Dengan demikian, lanjut Abdullah, potensi alam yang begitu luar biasa tersebut, haruslah dikelola oleh SDM yang kreatif.

“Musi Rawas itu, SDA-nya besar, tapi masih ditetapkan sebagai daerah tertinggal, di mana SDM-nya hanya berpatokan dengan mencari lapangan kerja untuk mencari makan dari gaji setiap bulan, sehingga pada akhirnya penghasilan tidak meningkat. Kalau wirausaha dilahirkan, dan bisa mengeksplorasi SDA yang ada. Kalau orang tuanya hanya petani saja, maka anaknya bisa menjadi bosnya. Kemudian, dalam industri pakaian juga para mahasiswa diajak untuk belajar tentang pembatikannya,” imbuhnya.

Bahkan, lanjut Abdullah di Yogyakarta ada daerah yang menjadi pusat perkebunan Rami, di mana rami ini menjadi bahan baku untuk pembuatan pakaian.

“Rami ini termasuk dalam tanaman perdu, ketika kulitnya dikupas, bisa menjadi benang. Jika selama ini di kampung hanya ditanam singkong saja, nah nanti para lulusan dari STIE ini, dapat menyosialisasikan cara menanam tanaman Rami ini. Rami ini hanya sekali tanam, di mana nanti sistem panennya dengan cara dipotong, lalu bisa tumbuh lagi. Kalau pemerintah daerah bisa menghitung, maka orang bisa ganti baju dua kali dalam setahun , ketika lebaran dan juga anak-anak masuk sekolah, setiap penduduk kita ambil enam meter dasar baju. Kalikan saja berapa ribu masyarakat di Musi Rawas. Apalagi kalau ada pabrik kain dan garmen, maka tukang jahit bisa menyedot tenaga kerja,” imbuhnya.

Begitu juga ketika berkunjung ke pabrik Sidomuncul, di mana nanti Abdullah akan sharing dengan pemerintah daerah untuk menyuplai bahan baku ke pabrik tersebut, seperti tanaman serai.

“Waktu saya menetap di Malaysia, saya pernah menanam tanaman serai, dua sampai tiga bulan bisa panen. Serai ini bisa menjadi bahan baku, dan tidak perlu di proses, yang lama, karena tanamannya dengan mudah bisa tumbuh,” akunya.

Kemudian, untuk melaksanakan Tri Darma Perguruan Tinggi, ketika berada di Jakarta, mahasiswa juga di ajak berkunjung ke Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia dan Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia. Di sana Abdullah melakukan MoU sebagai mitra antara STIE Mura Lubuklinggau dengan kedua universitas tersebut sebagai acuan untuk tukaran mahasiswa, dosen, bimbingan, sekaligus jurnal. (12)

Rekomendasi Berita