oleh

Satu Menit 14 Kali Letusan

JAKARTA – Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau terus menggeliat. Lontaran lava pijar yang dominan mengarah ke tenggara mengakibatkan erupsi yang berlangsung fluktuatif. Dalam semenit letusannya sampai 14 kali. Faktor ini yang memicu tsunami sehingga Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menaikan level II (waspada) ke level III (siaga).

Sekretaris Badan Geologi Kementerian ESDM, Antonius Ratdomopurbo menjelaskan jika dihitung dalam magnitudo getaran yang ditimbulkan dari letusan itu rata-rata M 0,5 hingga 1. Saat ini, seismogram atau alat yang dipergunakan untuk merekam gerakan tanah milik badan tersebut didetailkan agar bisa menangkap getaran yang sangat kecil.

“Ya kalau 14 kali per menit itu magnitudonya 0,1 sampai 0,2, kecil banget kalau di seismogram. Jadi sebenarnya dari sisi magnitudonya itu tak ada apa-apa,” ujar Purbo di kantor Kementerian ESDM, kemarin (27/12).

Letusan Gunug Anak Krakatau berjenis strombolian yang disertai lontaran lava pijar dan awan panas. Pada Rabu (26/12) terpantau letusan berupa awan panas dan surtseyan. Awan panas itu yang mengakibatkan hujan abu mengarah ke barat daya. Ada juga yang mengarah ke timur menyebabkan hujan abu vulkanik tipis jatuh di Kota Cilegon dan sebagian Serang pada Rabu pukul 17.15 WIB.

Purbo mengungkapkan letusan saat ini memang belum bisa secara langsung memicu tsunami. Karena material lava yang keluar bersifat mengalir sehingga pelan-pelan masuk ke dalam laut. Untuk mengetahui potensi longsor pada Gunung Anak Krakatau tidak terlalu mudah. Berbeda dengan di daratan, saat sebelum longsor terlihat ada indikasi seperti retakan pada tanah.

“Di situ ada juga begitu (retakan). Tapi kan kita tidak berani mendekat. Kecuali kita mau apalah mempercepat proses dari hidup ke mati,” imbuhnya.

Sementara itu, menyusul peningkatan aktivitas Gunung Anak Krakatau (GAK), AirNav Indonesia menerbitkan Notice to Airmen (NOTAM) nomor A5446/18 kemarin (27/12).

Dalam NOTAM tersebut, termuat sejumlah informasi mengenai sejumlah jalur penerbangan yang terdampak. Meski demikian, Corporate Secretary AirNav Indonesia, Didiet KS Radityo memastikan bahwa abu vulkanik Gunung Krakatau tidak mengganggu penerbangan.

“Pelayanan navigasi serta lalu lintas penerbangan berjalan aman dan normal,” terangnya.

Ada tujuh jalur penerbangan yang terdampak. Penutupan dan Pengalihan jalur penerbangan dilakukan di wilayah yang terdampak sebaran debu vulkanik Gunung Krakatau. Setelah melalui wilayah tersebut, pesawat akan kembali ke jalur penerbangan normal.”Hal ini tidak akan sampai mengakibatkan pembatalan jadwal penerbangan,” ujar Didiet.

Nah, berdasar hasil koordinasi dengan BMKG dan PVMBG serta pengamatanDarwin Volcanic Ash Advisory Center (DVAAC), sejauh ini semburan debu vulkanik dari Gunung Krakatau bergerak ke barat daya dengan kecepatan 45 knots dan bergerak ke arah Timur Laut dengan kecepatan 15 knots.

Arah lintasan abu vulkanik dinyatakan berjarak cukup aman dari dua bandara terdekat, yakni Bandara Soekarno Hatta di Cengkareng, Tangerang dan Bandara Raden Inten II Lampung.

“Keduanya dinyatakan aman karena berjarak 28 Nautical Mile (NM) dengan batas luar area semburan debu vulkanik Gunung Krakatau,” jelasnya.

Terpisah, Kepala bagian Humas BMKG Akhmad Taufan Maulana menuturkan yang saat ini dilakukan BMKG adalah mempersiapkan pemasangan tiga unit tide gauge. Alat tersebut dilengkapi dengan sensor yang fungsinya untuk mengukur perubahan muka laut secara mekanik dan otomatis.

BMKG berupaya tiga unit tide gauge itu dipasang segera.

“Secepatnya. Januari bisa terpasang,” kata Taufan kemarin.

Dengan adanya perangat tide gauge tersebut, diharapkan mampu membaca adanya potensi-potensi tsunami. Khususnya tsunami yang dipicu longsoran bawah laut maupun erupsi GAK.
Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Rahmat Triyono menambahkan BMKG terus memantau kondisi GAK. Apalagi status level gunung tersebut sudah dinaikkan dari level II ke level III.

“Peringatan kewaspadaan potensi tsunami di wilayah pantai selat Sunda dalam radius 500 meter hingga 1 km masih tetap berlaku,” kata dia.

Ditingkatnya status ini juga sudah disampaikan Kepala Kantor KSOP Kelas I Banten, Herwanto. Kepada masyarakat maupun wisatawan dan kapal-kapal yang melintas untuk tidak mendekati Pulau Anak Krakatau. Para Nakhoda juga diharapkan untuk selalu memonitor dan memantau Berita Cuaca. Baik melalui website BMKG serta Badan Geologi.

Herwanto juga menekankan bahwa semua alat yang dapat digunakan untuk menerima berita cuaca di atas kapal, baik itu Navtex, Weather Fax, atau Weather Telex harus senantiasa aktif dan berfungsi baik.

“Para Nakhoda, wajib memastikan kondisi permesinan, kemudi dan peralatan navigasi kapal berfungsi dengan baik, demikian pula dengan kelengkapan alat keselamatan kapal,” terangnya.
Selain itu, muatan kapal juga harus diperiksa secara rutin. Kendaraan yang dimuat di atas kapal harus diikat (dilashing), serta mengecek posisi berlabuh jangkar untuk memastikan kapal tidak larat dan diawaki cukup pada saat kapal labuh jangkar. (tim/ful/fin)

Rekomendasi Berita