oleh

Santriwati Ar Risalah Wakili Sumsel MQK Nasional

LINGGAU POS ONLINE, AIR KUTI – Seorang siswi SMA Ar Risalah Lubuklinggau, Intawana berhasil meraih Juara I Musabaqah Qiroatil Kutub (MQK) Kategori Ula Tingkat Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) 20 Oktober 2017 lalu. Nilai yang dicapainya mampu mengungguli 400 lebih peserta yang ada dari 14 kabupaten/kota di Sumsel.

Berkat keberhasilannya bertanding di Pondok Pesantren Nurul Huda, Kecamatan Buay Madang, Desa Sukaraja, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) tersebut, Intawana atau lebih akrab dipanggil Intan akan mewakili Provinsi Sumsel dalam MQK Tingkat Nasional di Pondok Pesantren Balekambang Jepara, Jawa Tengah 26 November 2017 mendatang.

“Mohon doanya kepada para ustadz dan ustadzah di SMA Ar Risalah. Semoga apa yang saya cita-citakan ini membuahkan hasil yang baik,” jelas alumni SMP Ar Risalah yang kini duduk di kelas X itu.

Perjalanan Intan menekuni Kitab Kuning tergolong unik. Ia sendiri tak bisa mendeskripsikan mengapa bisa mencintai pembelajaran kitab kuning.

“Sejak SMP saya sudah ikut kelas khusus kitab kuning. Diajar oleh Ust Fahmi, Ust Budi Satriadi, Ust Minanurrohman dan Ust Hasan. Jadi selepas Isya kami selalu belajar. Sebenarnya tujuan utama saya ikut kelas khusus kitab kuning itu bukan untuk menang lomba. Tapi saya merasa butuh untuk memahami ilmu fiqih di dalam kitab tersebut,” imbuhnya, saat wawancara didampingi Kepala SMA Ar Risalah, Mariska Kurnia Putri.

Intan meniatkan, apa yang didapatnya dari belajar kitab kuning, bisa jadi bekal hidupnya kelak.

Santri yang bercita-cita menjadi dokter itu berharap, prestasi yang dicapainya ini bisa jadi motivasi baginya untuk semakin semangat belajar.

“Saat ini saya sedang berusaha keras. Semoga nanti bisa sukses mengharumkan Sumsel dan Kota Lubuklinggau,” harap putri sulung Maryadi dan Hamidah itu.

Santri asal Kecamatan Muara Lakitan itu memohon doa kepada orang tua dan para guru juga dukungan teman-temannya untuk bisa mengikuti kompetisi tingkat Nasional ini dengan baik.

Sementara itu, Pimpinan Pesantren Modern Ar Risalah, H Mohammad Atiq Fahmi, Lc menjelaskan Pesantren Modern Ar Risalah memang aktif memberikan pembelajaran kitab kuning pada santri.

“Kami berusaha meregenerasi para santri untuk memahami Bahasa Arab. Langkah yang dilakukan, memperkuat pembelajaran kitab kuning. Disamping itu memang kami juga menyadari, pelajaran kitab kuning itu ciri khasnya pesantren. Kalau pesantren tidak menyampaikan pembelajaran kitab kuning itu namanya sekolah asrama. Di Ar Risalah, kitab kuning tak hanya dikurikulumkan. Namun juga disiapkan jam khusus, setiap hari bakda Salat Isya. Saat ini ada 15 santri yang mengikutinya. 40 hari pertama, khusus pemahaman Nahwu Shorof,” terang H Moh Atiq Fahmi.

Menurut alumni Al-Ahqaaf University of Yaman ini, kitab kuning itu ilmu dasar untuk membaca semua kitab berbahasa Arab. Dengan lancar membaca kitab kuning, maka bisa jadi modal memahami semua kitab yang berbahasa Arab.

Ketua Forum Pondok Pesantren Provinsi Sumatera Selatan ini juga mengimbuhkan, jadi kalau ada referensi yang berbahasa Arab, anak yang ikut program ini lebih mudah memahami.

“Masalah cepat atau lambat menguasai kitab kuning itu bukan tujuan utama belajar. Karena butuh waktu. Dan perlu saya tegaskan, dengan belajar Kitab kuning santri akan lebih cepat memahami faedah dasar Bahasa Arab itu sendiri,” jelasnya.

“Alhamdulillah, dari pembelajaran rutin. Sudah tiga kali termasuk tahun 2017 ini, santri kami mewakili Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) dalam Musabaqah Qiroatil Kutub (MQK) Tingkat Nasional,” tutur Ust Fahmi.(05)

Komentar

Rekomendasi Berita