oleh

Salahgunakan Komik untuk Ngefly

-Pendidikan, Utama-1.517 dibaca

 

LINGGAU POS ONLINE, LUBUKLINGGAU – Tak mampu beli narkoba, membuat beberapa anak jalanan menjajal cara baru untuk bisa nge-fly. Yakni dengan meminum komik (obat batuk) dalam jumlah banyak.

“Kadang ada saja anak-anak yang datang mau beli komik dalam jumlah banyak. Enggak kami layani. Khawatirnya untuk mabuk,” jelas seorang Manajemen Pengelola Apotek K-24 Kota Lubuklinggau, Putra beberapa waktu lalu.

Penjualan komik juga obat-obatan di Apotek K-24 diawasi dengan ketat.

Penyalahgunaan komik juga dibenarkan Ketua Ikatan Apoteker Kota Lubuklinggau, Rahmadi.

“Memang komik kerap disalahgunakan. Namun kami (Ikatan Apoteker, red) belum bisa membatasi peredaran komik masing-masing apotek. Saat ini, tergantung kebijakan apotek. Karena dari pemerintah seperti Kementerian Kesehatan (Kemenkes) belum mengeluarkan regulasi pembatasan pembelian komik setiap pelanggan,” jelas Rahmadi.

Komik dalam dunia apoteker masuk dalam kategori obat jenis bebas terbatas.

“Jadi maksudnya boleh dikonsumsi tanpa dengan resep dokter. Juga boleh dibeli dengan jumlah tertentu. Untuk saat ini memang ada beberapa apotek yang sudah peka dengan masalah ini. Dan membatasi jumlah penjualan komik pada setiap pembeli,” kata Rahmadi.

Komik untuk pereda batuk saja, kata dia, sudah ditarik oleh pemerintah. Namun, komik yang bisa dikonsumsi bersama produk lain, masih diperjualbelikan.

“Selama ini, edukasi yang kami lakukan kepada 60 apoteker di Kota Lubuklinggau, belum sampai pada pembatasan beli komik. Namun lebih pada mengingatkan masyarakat dan pelajar untuk paham cara mendapatkan obat yang benar. Misalkan, hanya mengonsumsi obat sesuai resep dokter, dan memastikan setiap obat yang dikonsumsi sudah mencantumkan izin Balai Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM),” jelasnya.

Fenomena anak nge-fly dengan komik juga jadi perhatian Komisi Perlindungan Anak Daerah (KPAD) Kota Lubuklinggau.

Ketua KPAD Kota Lubuklinggau Abdul Hamim meminta kepada semua pihak termasuk Dinas Perindustrian dan Perdagangan juga Dinas Kesehatan ikut serta mencari solusi atas masalah ini.

“Kita tidak bisa bergerak sendiri-sendiri. Harus kerja sama. Karena komik itu kalau dikonsumsi berlebihan bisa merusak saraf juga,” jelasnya. (05)

 

Komentar

Rekomendasi Berita