oleh

Sakit Tenggorokan, Awas Difteri

LINGGAU POS ONLINE, LUBUKLINGGAU – Sampai saat ini, belum terdeteksi ada pasien difteri yang ditangani oleh RSUD Dr Sobirin. Hal itu diungkapkan Direktur RSUD Dr Sobirin, dr Nawawi Akip melalui Kabid Pelayanan, dr Evi Damayanti, Sabtu (9/12).

“Memang sudah mendengar adanya penyakit itu. Tapi tidak ada pasien yang menderita penyakit itu dan kalau bisa jangan sampai ada di daerah kita ini,” kata dr Evi Damayanti, kemarin.

Dr Evi Damayanti menjelaskan, adapun salah satu gejala-gejala yang ditimbulkan penyakti difteri yakni sakit tenggorokan, demam, terbentuknya lapisan amandel dan tenggorokan.

Apabila semakin parah, infeksi bisa menyebar ke organ tubuh lain seperti jantung dan sistem saraf serta mengalami infeksi kulit.

“Karena bakteri penyebab penyakit ini menghasilkan racun yang berbahaya jika menyebar ke bagian tubuh lain,” jelas dr Evi.

Bakteri difteri dapat menyerang jaringan apa saja pada tubuh. Tanda-tanda yang paling menonjol adalah pada tenggorokan dan mulut.

Diantarannya, tenggorokan dilapisi selaput tebal berwarna abu-abu, radang tenggorokan dan serak, pembengkakan kelenjar pada leher, masalah pernapasan dan saat menelan, muncul cairan pada hidung, demam dan menggigil.

“Serta batuk yang keras, tidak nyaman, perubahan pada penglihatan, bicara yang melantur, syok, kulit yang pucat dan dingin, berkeringat dan jantung berdebar cepat,” jelas dr Evi.

Dr Evi memaparkan, adapun penyebabnya oleh corynebacterium, yaitu bakteri yang menyebarkan penyakit melalui partikel udara. Apabila orang yang menghirup partikel udara dari batuk atau bersin orang yang terinfeksi diduga terkena difteri.

“Serta juga bisa terkena difteri dengan memegang tisu bekas orang yang terinfeksi, minum dari gelas yang belum dicuci, atau kontak sejenisnya dengan benda-benda yang membawa bakteri,” papar dr berjilbab ini.

Lebih lanjut ia memaparkan, cara melakukan pengobatan ataupun mengatasi penyakit ini pasien harus diberi suntikan antitoksin, untuk melawan racun yang dihasilkan oleh bakteri.

“Namun apabila tidak bisa menyembuhkan, maka pasien harus dirawat rumah sakit untuk mengawasi reaksi terhadap pengobatan dan mencegah penyebaran penyakit,” jelasnya.

Kementerian Kesehatan akan melakukan imunisasi massal sebagai respon atas penyebaran kasus difteri di sejumlah daerah atau ORI Outbreak Response Immunization, namun program ini baru akan dilakukan di tiga provinsi mulai hari ini, 11 Desember 2017.

Direktur Surveilans dan Karantina Kementerian Kesehatan, Jane Soepardi mengatakan upaya ini dilakukan untuk mencegah meluasnya penyebaran penyakit difteri.

“Kita memang setiap ada satu kasus difteri maka kita harus berusaha untuk mencegah menyebar, satu saja kasus difteri itu sudah dinyatakan kejadian luar biasa,” jelas Jane.

Kementerian Kesehatan menyebutkan imunisasi serentak akan dilakukan mulai hari ini, di DKI Jakarta, Jawa Barat dan Banten. Karena prevelensi kasus difteri dan kepadatan penduduk di tiga provinsi cukup tinggi.

Jane menyatakan imunisasi akan dilakukan di sekolah dan juga warga bisa mendapatkan vaksinasi gratis melalui Puskesmas di tiga provinsi tersebut.

“Jadi orangtua dapat mengecek status imunisasi anaknya, dan jika belum lengkap untuk difteri dapat ke Puskesmas terdekat,” jelas Jane.

Dia mengatakan imunisasi dilakukan dengan skala lebih kecil ketika ditemukan satu kasus difteri, dan dinyatakan Kejadian Luar Biasa (KLB). Dengan begitu, maka orang yang diduga terinfeksi dan semua orang yang pernah kontak dengan penderita akan diperiksa.

“Kasus dan kontak diobati, Imunisasi seluas satu desa di mana dia berada, namun saat ini mobilitas lebih luas, jadi penyebarannya sulit,” kata Jane.

Dia menyatakan imunisasi lokal tak lagi efektif karena mobilitas warga Indonesia cukup tinggi. Sampai November, menurut catatan Kementerian Kesehatan penyebaran difteri terjadi di 20 provinsi dengan 593 kasus dan 32 orang meninggal.

Sejak tahun 1990an kasus difteri di Indonesia ini sudah hampir tidak ada, namun baru muncul lagi pada tahun 2009.

Untuyk mencegah penyebaran difteri pemerintah menerbitkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 1501/ MENKES/PER/X/2010 tentang Jenis Penyakit Menular Tertentu, apabila ditemukan 1 kasus difteria klinis dinyatakan sebagai KLB. (16/Bc)

Komentar

Rekomendasi Berita