oleh

Sakit Jantung JCH Muratara Kritis

LINGGAU POS ONLINE  – Suhu cuaca di Tanah Mekkah mencapai 44 derajat celcius. Beberapa jemaah risiko tinggi (resti) khususnya yang lansia memilih beraktivitas di musala hotel.

Namun Senin (29/7/2019) sekira pukul 00.30 WAS, JCH asal Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara) atas nama Holil (73) tiba-tiba tak sadarkan diri (pingsan) di kamar hotel. JCH asal Desa Maur, Kecamatan Rupit ini mengidap penyakit jantung, asma dan masih banyak lagi.

Kontributor Haji Linggau Pos, Abdullah saat diwawancara Linggau Pos kemarin siang mengatakan, sampai sekarang Holil belum sadar.

“Sejak tadi malam langsung dirujuk ke RSAS Al Noor. Pak Holil langsung dimasukkan ke Ruang ICU,” jelas Abdullah, kemarin.

Abdullah menjelaskan, Holil berangkat ke Mekkah, tanpa didampingi istri maupun anak-anaknya. Ia seorang diri.

“Mohon doanya untuk Pak Holil, agar segera sadarkan diri. Dan bisa mengikuti lanjutan proses ibadah di Masjidil Haram,” jelas Abdullah.

Sementara JCH lainnya, saat ini banyak mengikuti pengajian agar lebih mantap mengikuti proses rukun haji. Sementara waktu istirahat yang mereka jalani, lebih kurang lima jam per hari.

Sementara Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Muratara, H Ikhsan Baidjuri menerangkan, kabar tentang kondisi kritis yang dialami Pak Holil ini sudah disampaikan kepada keluarga di Maur.

“Sudah dikabari semua. Semoga beliau lekas pulih,” harapnya.

Sementara hasil pengamatannya secara pribadi, memang kondisi Holil saat berangkat sudah ada riwayat sakit jantung.

“Kalau secara fisik sehat. Hanya dalamnya yang mungkin masih sakit. Tadi pukul 14.00 WAS kami video call dengan petugas di sana. Kondisi Pak Holil belum sadarkan diri,” terang dia.

Sementara JCH asal Kota Lubuklinggau makin bersemangat menunaikan ibadah di Masjidil Haram.

Hal ini diinformasikan Kontributor Haji Harian Pagi Linggau Pos, Ari Narsa. Ia juga menjelaskan mengenai menu makanan yang disediakan di Mekkah disesuaikan dengan selera jamaah Indonesia.

“Kami di sini mendapatkan makan dua kali sehari pada siang dan malam. Sedangkan untuk pagi hanya berupa snack. Untuk menunya disesuaikan dengan selera Indonesia, ada ikan, sayur, tempe, telur, daging, buah dan lainnya,” jelas Ari Narsa.

“Sedangkan jamaah yang menginginkan menu lain bisa membeli sarapan pagi di depan hotel, berupa nasi uduk, nasi goreng, mi, lontong dan berbagai makanan ringan seperti yang ada di Indonesia,” jelasnya.

Ari juga mengatakan ada juga yang menjual bakso, soto dan pempek di dekat hotel.

“Kalau makan ringan rata-rata harganya 1 real (Rp3.703). Sementara nasi uduk, lontong, nasi goreng, bakso dihargai 5 real (Rp18.515),” ungkapnya.

Sedangkan, untuk jemaah Lubuklinggau sebagian besar ikut Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) Lubuklinggau Mura, jadi untuk sarapan pagi bisa dipesan melalui katering.

“Sehingga kami sarapan pagi tetap makan nasi,” katanya. (lik/rrf)

Rekomendasi Berita