oleh

Sakit Hati Pada Ibu, Sepupu Dibunuh Kemudian Diperkosa

LINGGAUPOS.CO.ID- Terdakwa Anto Wijaya (19) kembali menjalani persidangan Rabu (14/4) dengan agenda pemeriksaan terdakwa di Pengadilan Negeri Lubuklinggau.

Terdakwa dibekuk Anggota Polsek Nibung Minggu 27 September 2020 ini merupakan warga Blok C1, Kelurahan Karya Makmur, Kecamatan Nibung, Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara). Ia disidangkan karena membunuh sekaligua memperkosa sepupunya inisial AS (10).

Sidang yang digelar tertutup ini dipimpin Ketua Majelis Hakim Ferdinand didampingi Hakim Anggota Verdian Martin dan Marselinus serta Panitera Pengganti (PP) Armen. Karena pandemi Covid-19, sidnag diadakan dengan Meeting Zoom dan terdakwa berada di Lapas Klas IIA Lubuklinggau didampingi Penasehat Hukum (PH) Riki, SH.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Ayu Soraya mengatakan, seharusnya agenda sidang kemarin masih pemeriksaan saksi dari ibu terdakwa inisial LN. Namun karena ibu terdakwa tidak hadir, sehingga majelis hakim bersama penasehat hukum terdakwa sepakat untuk langsung melakukan pemeriksaan terhadap terdakwa.

Dalam pemeriksaan terdakwa, Anto Wijaya mengakui membunuh korban karena sakit hati kepada ibu korban, LN. Karena sebelumnya, kata terdakwa ia dituduh mencuri jaring ikan.

Maka, Kamis 22 September 2020 sekitar pukul 17.30 WIB saat terdakwa melihat korban di belakang rumahnya mengambil karung untuk menaruh bahan-bahan makanan yang akan dibawa korban ke kebun tempat ibunya bermalam.

Setelah korban selesai mengarungi bahan-bahan makanannya, korban pamitan dengan ibu terdakwa yang statusnya juga bibi dari korban. Korban saat itu ke kebun sendirian.

Namun tak lama dari korban berangkat ke kebun, terdakwa menyusul korban dengan meminta izin dengan ibunya untuk mengantar korban.

Terdakwa mengikuti korban dari belakang dengan berangkat ke tempat mandi. Namun belum sampai di tempat mandi, tiba-tiba muncul niat terdakwa, untuk membunuh korban sehingga terdakwa langsung mendahului korban yang sedang jalan dan menghadangnya.

Sampai di jalan hutan, dekat pohon nangka terdakwa langsung menarik tangan korban ke dalam hutan. Sekitar 15 meter masuk ke dalam hutan, terdakwa dua kali menampar pipi kiri korban dengan tangan kanan sampai korban terjatuh.

Korban sempat bangkit untuk meninju terdakwa tapi terdakwa menarik tangan korban membawanya dekat pohon karet, mendudukkan korban, membenturkan kepala korban ke batang karet sebanyak tiga kali.

Korban langsung berdiri dan berusaha berlari. Baru berhasil menjangkau jarak lima meter, korban terjatuh dan tidak bergerak lagi. Lalu terdakwa menyetubuhinya. Saat melihat korban tidak bernafas lagi, terdakwa langsung ketakutan dan mengakhiri aksi bejatnya.

Terdakwa langsung memakai celana, dan mengambil karung yang berisi makanan milik korban lalu meletakkannya di dekat sungai. Setelah itu terdakwa pulang ke rumahnya.

Sejak 24-25 September 2020 terdakwa bersama ibu korban mencari-cari korban namun tidak ketemu. Baru Sabtu (26/9) sekitar 07.30 WIB ditemukan jasad AS dalam keadaan tak berbalut selembar kainpun. Dari hasil penyelidikan dan otopsi yang dilakukan Polisi, korban diduga menjadi korban pembunuhan. Hingga diciduklah terdakwa saat santai dirumah.

Soal adanya ilmu Si Buruk Rupa, terdakwa menyangkal.

“Motif saya membunuh korban karena sakit hati selalu dituduh maling oleh ibu korban.” Tegas terdakwa.

Dari keterangan terdakwa, Majelis Hakim Ferdinand langsung menutup sidang dengan mengatakan sidang akan dilanjutkan Rabu (21/4) dengan agenda tuntutan.(*)

Sumber: Linggau Pos

Rekomendasi Berita