oleh

Sadis! Pria Ini Mengaku Tak Menyesal Bunuh Istri

Pengakuan Tersangka RS

LINGGAU POS ONLINE, MUARA BELITI – Penyidikan kasus pembunuhan yang dilakukan tersangka RS (31) terhadap istrinya Z (29), mengungkap fakta yang mengejutkan.

RS yang merupakan warga RT 01, Kelurahan Pasar Muara Beliti, Kecamatan Muara Beliti, Kabupaten Musi Rawas (Mura) itu mengaku tak menyesali perbuatan kejinya itu.

Dengan ekspresi yang datar, berlogat bahasa daerah, saat diwawancarai Linggau Pos di Mapolsek Muara Beliti, Selasa (5/12), RS menyebut dengan lantang, ia ikhlas.

RS juga mengaku sadar ketika menghujamkan pisau dapur bergagang cokelat sepanjang 15 cm hingga 17 kali ke tubuh istrinya. Z meregang nyawa di depan RS, dengan luka tusuk di punggung, bagian dada, luka sayat bagian tangan dan leher belakang.

RS yang kesehariannya penyadap karet itu beberapa kali ditanya awak media Linggau Pos. Ia juga beberapa kali menyebut tak menyesal dengan apa yang tengah dilakukannya. RS mengaku dengan sadar membunuh istri yang telah memberinya dua anak Dani (11) dan Krisna (5) .

RS berdalih pembunuhan yang dilakukannya itu sebagai bentuk rasa sayangnya kepada istrinya.

“Aku tidak menyesal dan ikhlas. Dibandingkan mikirkan dia terus sampai membuat badan aku kurus karena cemburu. Pikiranku melayang susah hati mikiri dia terus-terusan, ” kata RS.

Tersangka yang berasal dari Desa Muara Kati ini mengungkapkan, ketika ia melihat Z dekat dengan orang lain baik dengan keluarga sendiri misalkan kakak kandung, RS langsung cemburu. Maka dari itu RS jarang mengizinkan istrinya keluar rumah.

“Jujur bae, jangankan istri aku dekat dengan orang lain, dengan keluarga ataupun kakak kandungnya pun aku cemburu,” jelas RS.

RS mengaku melarang Z pergi Senin malam (4/12) dari rumah adalah bentuk cintanya kepada Z. Karena ia khawatir saat pintu dibuka Z akan pergi minggat dari rumah. Itulah sebabnya ia sempat menghalangi Z untuk pergi, namun Z tetap memaksanya.

“Aku kesal, aku sayang sama dia, tapi dia malah mau lari, itulah sebabnya dari pada lari lebih baik aku bunuh sekalian,” ucapnya.

Ketika ditanya tentang anak kandungnya, Dani dan Krisna, RS menunjukkan raut sedih. Suaranya berubah jadi parau seakan hendak menangis. Mengingat anaknya masih butuh biaya untuk pendidikan dan masih butuh kasih sayang.

“Aku nyesal karena anak aku masih sekolah, satu masih kecil, tidak kuat membicarakannya, aku sayang nian dengan mereka berdua. Maka dari itu anak aku, ku titip dengan keluarga aku. Kalau ibunya (Z, red) saya ikhlas,” tegasnya.

* Keluarga RS Dikenal Tertutup

Selasa (5/12) pukul 13.00 WIB, ketika Linggau Pos kembali datang ke kediaman RS sepi. Rumah yang terletak di Jalan Kebun Karet II, RT 01, Kelurahan Pasar Muara Beliti, Kabupaten Musi Rawas (Mura) itulah saksi bisu pembunuhan yang dilakukan RS terhadap istrinya Z.

Pintu depan dan jendela rumah permanen itu terkunci rapat, begitu juga dengan warga sekitar lokasi.

Ran (37) tetangga RS yang rumahnya berhadapan mengatakan RS dan Z hampir enam tahun tinggal rumah tersebut.

“Dia tinggal bersama dua anaknya. Yang sulung Dani (11) kelas V di SD Muara Beliti dan Krisna masih lima tahun,” kata Ran.

Ran menyebut, anggota keluarga ini bisa dikatakan tertutup dan jarang keluar rumah untuk bergaul dengan warga setempat. Baik RS, Z maupun Dani dan Krisna.

Kegiatan sehari-hari bekerja sebagai buruh pemotong karet milik orang tuanya di Sungai Miang, Desa Durian Remuk, Kecamatan Muara Beliti.

“Keluarganya jarang bergaul, kalau subuh sekitar pukul 05.00 WIB berangkat nyadap karet di Sungai Miang jaraknya sekitar 15 menit. Sekitar pukul 12.00 WIB pulang ke rumah, setelah pulang ke rumah tidak pernah keluar, palingan kalau keluar Z belanja ke warung saya,” jelas Ran.

Sementara Sur (31) istri Ran menambahkan, sebenarnya RS dan Z memang sering ribut.

“ Korban kadang kala pergi dari rumah saya karena ribut. Tetapi kami tidak mengetahui secara jelas mengapa ribut. Korban pergi mungkin takut dikerasi suaminya. Terakhir pada Sabtu malam (2/12) ribut korban minggat dari rumah, tapi besok paginya korban balik ke rumah sendirian tanpa dijemput tersangka,” kata Sur.

Sementara Didik (33) tetangga di belakang rumah RS juga membenarkan, sepengetahuannya RS dan Z sering ribut.

“Memang RS ini pencemburuan atau bahasa kami kemurauan,” jelas Didik.

* Korban Pernah Curhat RS ‘Ringan Tangan’

Awak media juga sempat datang langsung ke Desa Durian Remuk, Kecamatan Muara Beliti tempat peristirahatan terakhir Z. Terungkap fakta baru usai pemakaman jenazah Z.

Keluarga korban, Darmadi mengatakan riak (keributan,red) kecil dalam rumah tangga RS dan Z awalnya dinilai oleh keluarga sebagai hal yang wajar.

“Istri saya dengan Z ini sepupu. Jadi Z pernah Curhat tentang RS bahwa kalau ribut suka memukul. Namun kami menilai itu masih wajar. Dan kami sangat menyesalkan kejadiannya sampai separah ini,” terang Darmadi.

Saat ini, keluarga Z berusaha untuk memberikan pendampingan dan menghidupi Dani dan Krisna, anak Z dari hasil pernikahannya dengan RS.

* Tersangka RS Terancam 15 Tahun Penjara

Sementara itu Kapolres Musi Rawas, AKBP Bayu Dewantoro melalui Kapolsek Muara Beliti, AKP Tri Sopa mengatakan bahwa tersangka sudah ditahan namun untuk sementara motif tersangka melakukan pembunuhan diduga karena tersangka cemburu.

“Sebab, karena beberapa kali korban tidak pulang ke rumah karena ribut dengan tersangka. Selain itu, tersangka memang sayang dan mudah cemburu kepada korban,” kata Tri Sopa.

AKP Tri Sopa menjelaskan, namun puncak terjadinya pembunuhan saat korban dilarang keluar rumah oleh tersangka berebut kunci rumah. Korban tidak memberikan kunci hingga gelap mata tersangka mengambil sebilah pisau dan menusuk berulang kali ke tubuh korban.

Setelah kejadian itu, kami langsung ke lokasi dan melakukan penelusuran di sekitaran rumah tersangka dan korban tepat di belakang rumahnya ada sungai, diduga setelah melakukan aksinya.

“Ditemukan korban sudah tergeletak dengan luka tusuk diduga akibat sebilah pisau diantaranya, di depan tepatnya di dada sebanyak enam tusukan, di belakang bahu enam tusukan, lengan kiri ada tiga tusukan dan leher ada tiga tusukan sedangkan pisau tergeletak di dekat kaki kiri korban,” kata Tri Sopa.

Kapolsek menjelaskan, diduga tersangka, langsung melarikan diri dengan menyeberang sungai tembus di wilayah Desa Suro kemudian tersangka berjalan Jalan Lintas Sumatera (Jalimsum) hingga tiba di simpang tiga Pasar Muara Beliti.

“Rencananya akan menyerahkan diri tapi takut, kemudian berniat untuk pergi ke rumah saudaranya di Pasar Muara Beliti kebetulan ditemui anggota hingga tersangka ditahan tanpa melakukan perlawanan,” jelas Tri Sopa.

Lebih lanjut Kapolsek menjelaskan, untuk sementara tersangka melanggar Undang-Undang (UU) 23 Pasal 44 Ayat 4 tahun 2004 tentang penghapusan kekerasan dalam rumah tangga dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara.

“Untuk diketahui tidak ada indikasi narkoba dari tersangka, jadi murni motifnya cemburu. Mengenai rekontruksi nanti pasti ada,” jelasnya.

Kasat Reskrim, AKP Wahyu Setyo Pranoto menambahkan, sepanjang 2017 sudah terjadi sembilan kasus pembunuhan di wilayah hukum Polres Musi Rawas. (16)

Komentar

Rekomendasi Berita