oleh

Saat Hujan, Pindah ke Pembakaran Mayat

Putra Pejuang Kemerdekaan Tinggal di Gubug Reot

Sejak dua tahun lalu, Sahrin (51), sang istri Yusmara dan lima anaknya berdiam di gubug reot Jalan Kali Serayu, RT 1, Kelurahan Megang, Kecamatan Lubuklinggau Utara II. Kondisi kediamannya sempat diposting ke media sosial. Kemiskinan yang tergambar dari kondisi kehidupannya, menyita perhatian publik.

Laporan Andi Wiji, Lubuklinggau

KEMARIN, pukul 17.00 WIB, kami datang ke kediaman Sahrin. Untuk menuju rumahnya, harus melalui Jalan Kali Serayu, masuk ke gang menuju kuburan Cina, dan belok ke kanan lebih kurang 100 meter, tepatnya sebelah kiri jalan, akan menemukan rumah Sahrin di kaki Bukit Sulap.

Gubug yang ditinggali Sahrin berukuran 2×4 meter, berdinding kayu yang dilapisi kayu lagi, dengan atap seng bekas. Sementara lantainya, masih tanah.

Saat kami datang, mereka sedang makan bersama. Kedatangan ini membuat mereka langsung menghentikan momen bersantap itu. Terang saja, kami langsung minta maaf.

Kami sempat meminta Sahrin melanjutkan makan, namun dengan ramah ia justru mengajak ngobrol dan menanyakan maksud kedatangan.

Mengenakan celana pendek dan kaos singlet, ia mulai membuka pembicaraan.

“Sebelumnya kami tinggal di Kelurahan Jogoboyo dengan bentuk rumah yang hampir sama. Kalau hujan deras, saya bersama istri juga anak-anak, Aan (13), Adis (12) Ujang (10) Doni (7) dan Rido (5) pindah ke tempat pembakaran mayat di pekuburan Cina,” tutur Sahrin.

Ia mengungkapkan, bahwa dirinya merupakan putra dari pejuang kemerdekaan Indonesia. Ayahnya ikut bergerilya melawan PKI.

“Anak saya sebenarnya tujuh. Yang dua Idris (26) dan Yanti (22) sudah menikah,” jelas Sahrin.

Sahrin saat menceritakan kisah hidupnya, tidak ada menunjukkan raut yang sedih. Ia begitu mensyukuri dan menjalani walau dengan kondisi tinggal di dekat kuburan Cina.

“Saya sangat bersyukur kepada Allah SWT, beberapa hari ini, banyak sekali orang yang datang, yakni dari Dinas Sosial, dari Polres Lubuklinggau dan lain-lain, artinya masih banyak orang yang peduli dengan kehidupan kami, keluarga saya nyaris tidak ada yang peduli,” ungkap Sahrin.

Kemudian, saat Dinsos tiba, mereka menjanjikan akan membantu rumah dan bantuan hidup setiap bulan.

“Untuk saat ini tak banyak yang saya harapkan, kalau untuk saya tidak ada harapan apa, melainkan anak-anak, bagaimana bisa mendapatkan tempat tinggal dan pendidikan untuk anak-anak, agar penjadi orang yang pintar. Karena selama ini mereka putus sekolah. Saya mengharapkan adanya usaha masa depan, biar beban sedikit ringan,” harap Sahrin yang kesehariannya buruh nyadap karet ini.

Pria yang berasal dari Jambi ini mengatakan bahwa selama ini, tidak mendapatkan bantuan berupa sosial, seperti bantuan Program Keluarga Harapan (PKH).

“Untuk bantuan beras (Rastra, red) biasanya dapat, namun semenjak periode RT saat ini menjabat, kami tidak pernah mendapatkannya lagi,” keluh Sahrin.(*)

Rekomendasi Berita