oleh

Rumah Tanggaku Hancur

Ini kisah sedihku. Sebut saja aku Putra (50), nama samaran. Seorang Laki-laki yang hidup bersama dengan istri dan tiga anak di Kecamatan Lubuklinggau Selatan II.

Sudah 30 tahun menjalani hidup berumah tangga bersama istriku, dan ketiga anak adapun umur anak pertamaku sudah berusia 20 tahun, kedua 15 tahun dan yang ketiga berusia 9 tahun.

Kehidupanku bersama dengan istri dan anak-anakku sebelumnya berjalan dengan penuh kebahagiaan. Pastinya dilengkapi rasa saling menyayangi dan mencintai. Baik istriku dan anak-anakku.

Tiba-tiba suatu saat muncul permasalahan dalam kehidupan rumah tanggaku, lantaran mertuaku tidak ingin aku bersama istriku, dengan alasan aku pengangguran dan tidak mempunyai pekerjaan.

Hampir setiap hari ada aku menjadi bulan-bulanan mertuaku, mertua ku merasa orang memiliki segalanya sangat membenci keadaanku. Padahal Setiap hari aku selalu menjalankan kewajibanku sebagai suami yang bertanggung jawab terhadap istriku dan anak-anakku tapi itu semua sia-sia.

Walaupun demikian, mertuaku masih membenciku, keluargaku hancur berantakan dan terpecah belah hingga istriku menggugat ceraiku, saya selaku laki-laki menerima atas gugatan itu lantaran kata-kata kasar membuat aku sakit hati. Jujur aku menyesal menikah dengannya, namun apa boleh buat ibarat nasi sudah menjadi bubur.

Setiap hari aku bertahan, tapi semakin hari semua menjadi-jadi perlakuan istri dan mertuaku, namun apa boleh buat walau bagaimanapun aku harus bertahan sebab aku masih memikirkan keluargaku dan anak-anakku.

Semoga dengan perceraian ini keinginan mertuaku tercapai, dan nantinya dapat membahagiakannya. (19)

Komentar

Rekomendasi Berita