oleh

RS AR Bunda Sukses Gelar Seminar Gangguan Kesuburan

Dua Pasien Berhasil Program Bayi Tabung

24-25 FEBRUARI 2018, RS AR Bunda Lubuklinggau menyelenggarakan Seminar Deteksi Dini Gangguan Haid dan Gangguan Kesuburan serta Pengenalan Alat Histerokopi. Khusus Sabtu 24 Februari 2018 peserta dari kalangan umum yang mengikuti. Sementara hari ini, pukul 09.00 WIB kalangan dokter, perawat dan bidan yang mengikuti seminar yang menghadirkan pembicara dr Wahyu Sp.OG itu.

Menurut Ketua Promosi Kesehatan Rumah Sakit (PKRS) RS AR Bunda Chairunnisa, kemarin kegiatan seminar tersebut juga bagian dari promosi kesehatan. Januari 2018 lalu, mereka telah mengedukasi masyarakat Kelurahan Jukung, Kecamatan Lubuklinggau Selatan I tentang bagaimana memanfaatkan sumber daya alam yang ada untuk jadi asupan gizi yang manfaat bagi masyarakat.

Setelah itu RS AR Bunda mengadakan Seminar Deteksi Dini Gangguan Haid dan Gangguan Kesuburan, lalu Maret 2018 mendatang rencananya akan diadakan edukasi bagi masyarakat di sekitar bantaran sungai. Yang diduga banyak menderita gangguan pendengaran.

“Setiap kali melakukan kegiatan promosi kesehatan ini, kami hadirkan ahlinya. Saat di Jukung kami menghadirkan ahli gizi. Jadi masyarakat diajari bagaimana mengelola potensi alam, seperti dengan adanya banyak pisang, bagaimana diolah agar tidak mengurangi kadar gizinya. Lalu seminar Deteksi Dini Gangguan Haid dan Gangguan Kesuburan kami menghadirkan pembicara dr Wahyu Pranata, Sp.OG. Dan insya Allah untuk edukasi di wilayah bantaran sungai nantinya akan menghadirkan dokter spesialis THT. Apa yang kami lakukan ini dalam rangka misi sosial RS AR Bunda juga. Sekaligus memberikan edukasi sesuai dengan masalah kesehatan yang dihadapi masyarakat di lapangan,” jelasnya.

Seperti dalam seminar kemarin, dr Wahyu Pranata, Sp.OG mengawalinya dengan mengenalkan ciri-ciri haid normal. Yakni, rata-rata siklus menstruasi perempuan yang normal adalah 21-35 hari, dengan lama waktu haid yang berlangsung selama tujuh hari .

Dan kata dr Wahyu, Sp.OG tidak semua wanita mengalami siklus haid yang normal. Ada juga yang mengalami Amenorea. Yang maksudnya, siklus haid yang memanjang dari panjang siklus haid klasik (oligomenorea) atau tidak terjadinya perdarahan haid, minimal tiga bulan berturut-turut.

“Amenorea dibagi dalam kategori primer dan sekunder. Kalau primer, keadaan seorang wanita yang belum pernah mengalami menstruasi, padahal sudah memasuki usia akil balig. Hal ini menandakan adanya keterlambatan pertumbuhan seksual. Sementara kategori 2, amenorea sekunder artinya berhenti haid setelah menarche atau pernah mengalami haid tetapi berhenti berturut-turut selama 3 bulan,” jelasnya.

Dr Wahyu juga menjabarkan secara detail tentang Pendarahan Uterus Abnormal (PUA) menyangkut semua kelainan baik jumlah maupun lamanya. PUA adalah kondisi yang menyebabkan perdarahan vagina di saat Anda sedang tidak menstruasi atau haid.

Untuk PUA kategori akut, yakni baru pertama mengalami gangguan pendarahan misal sehari 10 kali, lemas, mau pingsan terus.

“Nah yang ini harus ditangani segera. Tapi kalau PUA kronik, pendarahan awalnya agak banyak, minum obat sendiri sekitar 3 bulan tapi badannya lemes pucat ini biasanya lebih stabil. Atau kategori ketiga, PUA Tengah ini artinya pendarahan di tengah-tengah siklus haid. Setelah pendarahan hilang, haid lagi biasanya begitu,” terang dr Wahyu.

PUA bisa disebabkan adanya polip, ademosiosis, miom, hiperplasia dan gangguan ovulasi.

Dr Wahyujuga membagi ilmunya tentang apa sih ketidaksuburan atau kerap disebut dengan infertilitas.

“Infertilitas itu, ketidakmampuan pasangan untuk memiliki anak meskipun berhubungan seksual dengan benar tanpa kontrasepsi minimal 2-3 kali per minggu selama 1 tahun. Penyebab infertilitas ini ada dua bisa dari sperma dan bisa juga dari gangguan ovulasi. Sehingga, pasien yang mengalami ini, periksanya harus berdua (suami dan istri,red),” pinta dr Wahyu.

Untuk mengikuti terapi infertilitas di AR Bunda biasanya, kalau yang bermasalah pada sperma maka akan diobati. Kadang juga dilakukan induksi ovulasi (untuk menghasilkan telur matang) dengan cara disuntik atau minum obat. Selain itu, bisa juga dengan inseminasi intrauetin (untuk memperpendek perjalanan spermanya) sperma juga gerakannya lebih bagus karena sudah dipisahkan dari maninya. Solusi terakhir, bayi tabung setelah simulasi, diambil telurnya.

“Nah, agar pasien bisa memutuskan keputusan yang tepat untuk terapi infertilitas ini, biasanya dokter juga melakukan USG Trans Vaginal. Kalau dari sini sudah jelas penyebabnya, tidak akan dilanjutkan dengan histerokopi. Tapi kalau tidak bisa mendapatkan penyebabnya, biasanya dokter akan menawarkan ke pasien untuk menggunakan alat selebar 7 milimeter untuk melihat kelainan di dalam rahim. Alat ini namanya histeroskopi,” tuturnya.

Di AR Bunda Lubuklinggau tersedia secara lengkap alat-alat untuk mengecek kondisi di dalam rahim ini. Bahkan dr Wahyu Sp.OG juga bisa menyiapkan proses bayi tabung.

“Jadi saya akan bantu pasien menstimulasi perkembangan telurnya tapi biaya bisa sampai Rp 40 juta. Sampai kini saya sudah kirim 2 pasien 1 hamil 3 bulan satu lagi sedang kontrol sudah positif. Di sini (AR Bunda) kami bantu persiapannya, namun transfer embrionya dilakukan di Jakarta. Karena butuh laboratorium khusus. Khusus Bayi Tabung ini tingkat keberhasilannya bisa sampai 50 %. Karena embrionya sudah disiapkan jadi lebih besar peluang hamilnya. Namun kalau inseminasi tingkat keberhasilannya kecil, 10-20 %. Biayanya pun lebih murah, kisaran Rp 2,5 juta,” terang dr Wahyu.(02)

Rekomendasi Berita