oleh

RS AR Bunda Lubuklinggau Terakreditasi Paripurna

Owner RS AR Bunda Lubuklinggau dr H Rahman, Sp.OG, Direktur RS AR Bunda dr Sarah dan manajemen serta tenaga medis RS AR Bunda foto bersama.

28-30 NOVEMBER 2017, Tim Surveior Komite Akreditasi Rumah Sakit (KARS) mengunjungi RS AR Bunda Lubuklinggau. Kedatangan Surveior KARS ini untuk melakukan visitasi akreditasi rumah sakit yang terletak di pusat kota, Jalan Garuda, Kelurahan Bandung Kiri, Kecamatan Lubuklinggau Barat II tersebut.

Proses pengakreditasian ini menggunakan Standar Nasional Akreditasi versi 2012. Seperti diketahui standar akreditasi yang digunakan KARS sekarang adalah standar akreditasi versi 2012 yang merupakan terjemahan dari standar akreditasi JCI Edisi 4.

Selama tiga hari tersebut  Tim Surveior KARS yakni, dr Rosmini Nurdin, MARS, dr Rijanto Agoeng Basoeki, Sp.OG, dan Nelwati, S.Kp, M.Kep mengecek 15 Pokja di RS AR Bunda. Masing-masing pokja dinilai secara rinci per elemen.

Visitasi Tim Surveior KARS ini juga disaksikan Owner RS AR Bunda Lubuklinggau sekaligus Ketua Yayasan AR Bunda, dr H Abdul Rachman, Sp.OG, MM, Direktur RS AR Bunda dr Sarah, dr Wahyu Pranata, Sp.OG dan seluruh manajemen rumah sakit tersebut.
Dan 14 Desember 2017 lalu, RS AR Bunda dinyatakan sebagai rumah sakit yang terakreditasi paripurna.

“Kami benar-benar bersyukur atas pencapaian ini. Harapan kami, dengan status Akreditasi Paripurna, RS AR Bunda Lubuklinggau bisa memberikan pelayanan terbaik dan berkualitas,” tutur dr Sarah kepada Linggau Pos, Senin (18/12).

Ia juga berharap, rumah sakit yang berdiri sejak 19 September 2013 ini bisa menjadi rumah sakit pilihan masyarakat. Bukan hanya warga Kota Lubuklinggau, Musi Rawas dan Muratara. Namun juga destinasi berobat untuk masyarakat Provinsi Sumatera Selatan.

“Kami rumah sakit sebenarnya baru kemarin diberi keringanan untuk mengambil program khusus, dengan penilaian 4 pokja, dan alhamdulillah lulus tahun 2016. Namun karena ingin meningkatkan pelayanan dan meningkatkan kualitas rumah sakit, kami memutuskan untuk mengambil survei reguler. Dan perlu diketahui, progres tahun 2016 tersebut sebenarnya masih berlaku sampai tahun 2019, namun Alhamdulillah ternyata kami bisa terakreditasi paripurna tahun ini,” jelas dr Sarah lagi.

Menurutnya, pencapaian ini tidak terlepas dari kerja keras karyawan, Pokja, manajemen dan pemilik yang bersama-sama ingin memajukan RS AR Bunda dan memberi pelayanan yang terbaik untuk pasien.

“Karena insya Allah dengan elemen-elemen penilaian yang ada dalam akreditasi ini kami juga dapat memperbaiki segala aspek pelayanan, sehingga dapat meningkatkan mutu pelayanan dan keselamatan pasien,” imbuhnya.

Perlu diketahui, RS AR Bunda memiliki 12 poli, yakni poli penyakit dalam, poli kandungan, poli THT, poli mata, poli bedah, poli saraf, poli anak, poli kulit dan kelamin, poli umum, poli gigi, poli fertilitas dan poli rehabilitasi medik.

RS AR Bunda juga memiliki layanan pemeriksaan unggulan, seperti laboratorium  yang lengkap, USG 5 dimensi kebidanan, USG 4 dimensi penyakit dalam, CT Scan, rontgen, panoramic digital, EEG (Scan Gelombang Otak), OAE (pemeriksaan Pendengaran Bayi), CTG (Scan Kondisi Janin dalam kandungan) dan ENT-SET (Endoscopy THT).

Baru-baru ini, RS AR Bunda juga kembali mengaktifkan Poli Rehabilitasi Medik. Diantara layanan unggulannya, terdapat ruang sensori integrasi dan ruang Snozelen.

RS AR Bunda pun memberikan layanan khusus obstetri dan ginekologi. Seperti inseminasi untuk membantu masyarakat memperoleh keturunan. Di rumah sakit ini juga ada layanan persiapan bayi tabung, senam hamil, pijat bayi, ILA (melahirkan tanpa nyeri), USG 5 Dimensi dan ruang persalinan VIP.

RS ini juga menyediakan layanan cuci darah (hemodialisa). Dan kini juga sudah hadir layanan endoskopi dan histeroskopi.

RS yang dikenal memiliki SDM cekatan dan mumpuni itu tak hanya disibukkan dengan memperbaiki dan meningkatkan kualitas layanan. Namun juga giat melakukan aksi sosial. Diantaranya, Operasi Katarak dan Sunatan massal. Termasuk pemberian bantuan Sembako untuk warga sekitar RS AR Bunda Lubuklinggau rutin dilakukan dua kali dalam setahun. (05)

Komentar

Rekomendasi Berita