oleh

RS Aisyah Serius Tangani Pasien DBD

LINGGAU POS ONLINE, AIR KUTI – Tim Medis Rumah Sakit (RS) Siti Aisyah Lubuklinggau berusaha semaksimal mungkin menangani pasien Demam Berdarah Dengue (DBD).

Menurut Direktur RS Siti Aisyah, dr H Mast Idris Utsman E, Sabtu (30/6), DBD ini disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan sering kali oleh nyamuk Aedes Aegypti. Penyakit ini menjadi wabah di Indonesia sejak tahun 1968. Sampai saat ini, tiap kali musim penghujan tiba, penderita DBD terus meningkat.

Dr Mast Idris menjelaskan, Kementerian Kesehatan RI telah menjelaskan tempat perkembangbiakkan nyamuk Aedes Aegypti berada pada penampungan air, baik yang untuk keperluan sehari-hari maupun yang bukan untuk keperluan sehari-hari.

Air yang menggenang dalam suatu tempat lalu menjadi tempat perkembangbiakkan nyamuk, menyebabkan telur nyamuk menetas, dan setelah 10 sampai 12 hari akan berubah menjadi nyamuk. Bila manusia digigit oleh nyamuk dengan virus dengue, maka setelah 4 sampai 7 hari, gejala-gejala DBD akan mulai timbul.

Kondisi demamnya juga harus diperhatikan. Penyakit DBD biasanya ditandai demam tinggi selama tiga hari. Namun, bukan hanya demam pada tiga hari pertama itu yang harus diwaspadai.

“Masa kritisnya justru di hari keempat dan kelima. Jadi, jangan lengah, jangan merasa sudah aman jika demam terkesan menurun di hari keempat dan kelima. Oleh karena itu, kami sangat serius untuk menangani pasien DBD ini,” jelas dr Mast Idris.

Menurut dia, hal terpenting sebetulnya berupaya untuk memutus mata rantai penularan DBD. Langkah yang lebih efektif yakni PSN (pemberantasan sarang nyamuk). Lingkungan yang bersih dan tak ada peluang bagi nyamuk berkembang biak, maka ia yakin penyakit DBD dapat dikendalikan.

Untuk saat ini, kata dr Mast Idris, memang ada beberapa pasien di RS Siti Aisyah suspek DBD.

“Suspek itu diperkirakan, dari pada kita tidak waspada, lebih baik kita waspada. Biasanya kalau pasien sudah lima hari panas, lalu dingin, lalu suhu panasnya normal. Seluruh penanganan pasien di RS Siti Aisyah ini setiap hari masuk ke meja kerja saya. Jadi saya pantau terus perkembangannya. Laporan penanganan penyakit juga disampaikan ke Dinas Kesehatan Kota Lubuklinggau,” imbuh dia.

Ia menambahkan, munculnya demam tinggi pada kasus DBD sering kali disertai dengan nyeri seluruh tubuh, nyeri otot, sakit di sekitar bola mata, anoreksia, mual dan muntah. Gejala-gejala inilah yang menyebabkan penurunan jumlah sel darah putih dan trombosit yang mengarahkan dokter pada diagnosis DBD.

Untuk mencegah hal negatif lainnya, penderita demam berdarah dianjurkan untuk memperbanyak minum air putih untuk membantu menurunkan suhu tubuh dan mencegah terjadinya dehidrasi. Pasien juga harus terus dipantau karena hal ini rentan untuk memasuki fase kritis.

Kunci utama untuk menurunkan kemungkinan komplikasi atau kematian pada penderita DBD adalah dengan memberikan asupan yang dapat menaikkan jumlah trombosit pada saat memasuki fase kritis. Salah satunya adalah dengan mengonsumsi jambu biji.

Jambu biji mengandung trombinol yang mampu merangsang trombopoietin lebih aktif, sehingga dapat menghasilkan keping darah yang lebih banyak memicu pembentukan platelet atau trombosit darah baru. Karena pasien DBD memerlukan asupan yang mudah dicerna, maka sebaiknya jambu biji diolah dulu menjadi jus. Kandungan air pada jus juga baik untuk mencegah dehidrasi sehingga dapat mempercepat penyembuhan DBD.(02)

Rekomendasi Berita