oleh

Ritual Dapat Jodoh, Pria di Musi Rawas Gagahi 2 Anak Kandung

-Kriminal-9.523 dibaca

LINGGAU POS ONLINE – Petugas Sat Reskrim Polres Musi Rawas (Mura), Senin (27/5) menangkap Ardiyanto (48) warga Kecamatan Suka Karya Kabupaten Mura. Pasalnya ia menggagahi dua anak kandungnya, SS (17) dan MI (15) secara berulang-ulang, sejak Agustus 2018.

Kapolres Mura, AKBP Suhendro melalui Kasat Reskrim, AKP Wahyu Setyo Pranoto menjelaskan pihaknya mendapatkan laporan dari korban didampingi perangkat desa.

“Tersangka ditangkap di Desa Rantau Alih, Kecamatan Sukakarya, tersangka bekerja sebagai penyadap karet di sana,” jelas AKP Wahyu Setyo.

Dijelaskannya, kedua korban adalah anak pertama dan kedua.

“Ibu kandungnya sudah meninggal dunia, namun tersangka sudah menikah lagi. Setiap melakukan pemerkosaan itu, ibu tiri korban sedang tidak berada di rumah,” tambah jelas AKP Wahyu Setyo.

Kronologis kasusnya, bermula Agustus 2018, SS curhat dengan tersangka (Ardiyanto, red). Ia berceritanya sudah putus hubungan dengan pacarnya yang anak orang kaya serta anak tunggal.

Ketika curhat itulah, tersangka mengatakan SS harus mengikuti sebuah ritual, agar bisa mendapatkan jodoh yang baik dan kaya. Mendengarkan bisa mendapatkan jodoh yang baik dan kaya, SS pun mau mengikuti ritual itu.

Kemudian disiapkan sebuah ritual di rumah mereka, di dalam kamar korban diminta hanya menggunakan pakaian atasan saja. Sementara tersangka hanya memakai handuk.

Tersangka kepada anaknya mengatakan, apapun yang terjadi bukan dilakukan oleh ayahnya, melainkan oleh Buya.

“Jadi tersangka mengaku kemasukan roh Buya, dan korban harus menuruti semua permintaan,” tambah Wahyu.

Awalnya korban diminta memakan pisang, di dalamnya diduga ada pil KB. Pasalnya ketika korban memakannya terasa pahit, namun tersangka meminta agar terus memakannya.

Setelah itu mulailah tersangka mencabuli anaknya, yang berujung dengan persetubuhan.

Tiga hari kemudian, tersangka berkata kepada anak keduanya MI (15), jika mau mendapatkan jodoh yang baik dan kaya, agar mengikuti ritual yang dilakukan tersangka bersama SS.

MI pun menurut, hingga ia pun menjadi korban perbuatan bejat ayah kandungnya. Seterusnya secara bergantian keduanya digagahi oleh tersangka. Jika SS yang sedang menjalani ritual, maka MI bertugas menjaga pintu kamar dan sebaliknya.

April 2019, perbuatan bejat ini masih dilakukan tersangka kepada kedua anaknya. Namun Mei 2019, yang bertepatan dengan Ramadan, kedua korban tidak lagi mau menjalani ritual mencari jodoh baik dan kaya itu.

Sehingga antara tersangka dan korban tidak tegur sapa.

“Karena itulah, ibu tirinya curiga, mengapa antara bapak dan anak itu tidak tegur sapa,” tambah Kasat Reskrim.

Sang ibu tiripun memanggil anak-anak itu. Ia meminta penjelasan mengapa tidak tegur sapa. Awalnya korban tidak mau bercerita.

“Ibu tirinya mengaku akan bercerai saja, jika tidak dianggap. Akhirnya korban bercerita, kalau mereka berdua sudah berkali-kali digagahi tersangka,” tambah Kasat.

Mendengarkan cerita itu, ibu tiri korban melapor ke perangkat desa. Kemudian ditemani perangkat desa, kedua korban melapor ke Polres Mura.

Ditambahkan Kasat, tersangka Ardiyanto diancam hukuman maksimal 15 tahun penjara, karena melanggar Pasal 81 ayat (2) Undang-Undang (UU) No.17 Tahun 2016 tentang penetapan Perppu No.1 Tahun 2016 tentang perubahan kedua UU No.23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak menjadi UU.

Sementara itu, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kabupaten Mura, Ahmadi Zulkarnain telah menerima laporan terkait kasus pencabulan tersebut.

“Ya, kami sudah menerima laporan. Namun, datanya belum akurat. Jadi belum bisa menjelaskan secara detail,” jelas Ahmadi Zulkarnain, Selasa (28/5).

Pihaknya turut memberikan pendampingan kepada korban, melalui tim Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A). Tentu sudah sesuai dengan Prosedur Operasional Standar (POS), apalagi setiap kasus memiliki solusi yang berbeda.

“Masyarakat dan penegak hukum perlu meningkatkan sinergitas dalam penanganan kasus kekerasan terhadap anak. Masyarakat harus memiliki keberanian melapor, sementara penegak hukum wajib mengawal kasus hingga terbit putusan hukum,” ungkapnya.

Selain itu, pihaknya juga menerima laporan lagi dari warga bahwa ada kasus pemerkosaan yang dilakukan bapak kepada anak tirinya di Kecamatan Jayaloka. Tetapi, hingga saat ini pelakunya belum bisa diamankan, karena sudah melarikan diri.

“Kita akan terima semua laporan terhadap kasus kekerasan terhadap anak, dan akan kita giring sampai ke persidangan nanti,” jelasnya. (end/dlt)

Rekomendasi Berita