oleh

Ribuan Anak Putus Sekolah

Kabid PLS Disdik Mura, Ngatino
“Jadi ketika sudah terdaftar jadi peserta didik maupun peserta kursus di salah satu lembaga pendidikan formal maupun nonformal, mereka bisa dapat Bantuan Operasional dari Kemdikbud. Namun kalau tidak terdaftar, ya tidak dapat bantuan PIP”

Include Program PIP

LINGGAU POS ONLINE, MUSI RAWAS –1.600 Anak di Kabupaten Musi Rawas (Mura) putus sekolah. Data ini dikumpulkan dari Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) dan Kepala PAUD masing-masing desa. Merujuk pada Kartu Keluarga (KK). Maka 1.600 lebih anak putus sekolah yang terdata ini memiliki Nomor Induk Kependudukan (NIK).

“Jadi data ini valid, sudah dikirimkan ke Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud),” tutur Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Musi Rawas, H Sukamto melalui Kabid Pendidikan Luar Sekolah (PLS), Ngatino, Jumat (29/12).

Ia menerangkan, 1.600 anak ini nantinya akan diarahkan untuk kembali sekolah masuk pendidikan formal (SD, SMP, SMA sederajat) maupun kursus dan mengikuti program kesetaraan. Masalah pembiayaan akan ditopang dengan Program Indonesia Pintar (PIP).

“Jadi ketika sudah terdaftar jadi peserta didik maupun peserta kursus di salah satu lembaga pendidikan formal maupun nonformal, mereka bisa dapat Bantuan Operasional dari Kemdikbud. Namun kalau tidak terdaftar, ya tidak dapat bantuan PIP,” jelas Ngatino.

Penyalurannya dilakukan melalui PIP. Sehingga tidak ada alasan lagi bagi anak Indonesia tidak sekolah lantaran tidak ada biaya. Sebab pemerintah sudah mem-back up. Program ini baru akan dilaksanakan Tahun Ajaran 2018/2019 mendatang.

“Kalau di Musi Rawas, merata seluruh kecamatan ada yang putus sekolah. Paling banyak memang di Desa Pasenan, tepatnya di Dusun Sri Pengantin. Jadi sekalipun terpencil, tetap masuk dalam pendataan kami,” jelas Ngatino.

Liana (45) merupakan salah satu orang tua yang juga didata tiga anaknya putus sekolah.

“Bukan sengaja. Tapi mereka nak bantu kami ke kebun,” jelas warga Kecamatan Muara Lakitan ini.

Sebagai petani karet, waktunya dihabiskan untuk menyadap karet di kebun. Liana dan suaminya, Piri (50) menyadari apa yang mereka lakukan berdampak pada menurunnya semangat anak dalam belajar.

“Yang Jon (20) ini sekolah sampai kelas 2 SMP. Idak lanjut lagi. Kandar (17) juga dak lulus SMP. Yang paling kecik Loren (lulus SD). Kami nak nyekolah mereka. Hanya mereka ngomong mending ke kebun dengan kami,” jelas Liana.

Liana menjelaskan, ia sangat ingin melihat anak-anaknya bisa sekolah dan kerja bukan sebagai penyadap karet. Tapi, secara finansial Liana dan Piri juga bukan orang berpunya.

“Jadilah mereka bantu. Kalau dang mecat (panen). Cuman kadang sedih jugo kalau jingok kawan-kawan mereka hidup lemak galo. Sementara mereka bantu kami di tengah hutan. Kalau ado kesempatan sekolah, dak apolah mereka lanjut. Biar idupnyo dak saro cak kami,” tutur Liana.(05)

Komentar

Rekomendasi Berita