oleh

Rencana Pengaturan Tarif Naik-Turun Bikin Grab dan Go-Jek Terancam

JAKARTA – Pemerintah melalui Kementerian Perhubungan (Kemenhub), sedang mempersiapkan peraturan baru untuk menetapkan tarif pengemudi dan pengendara pada layanan naik kendaraan seperti Grab dan Go-Jek. Namun dapat dikhawatirkan, peraturan tersebut menciptakan potensi hambatan untuk ekspansi perusahaan.

Peraturan tersebut akan memenuhi tuntutan pengemudi untuk pengawasan yang lebih tinggi dan tingkat yang lebih tinggi. Tetapi, ada kekhawatiran kenaikan biaya bagi perusahaan dapat menghambat perkembangan mereka, untuk mendominasi pasar naik-naik di ekonomi terbesar di Asia Tenggara itu.

Grab yang berbasis di Singapura dan Go-Jek yang tumbuh di dalam negeri, telah dikunci dalam perang harga di Indonesia. Hal itu, bagian dari perjuangan yang lebih luas untuk membawa perbankan, e-commerce, naik kendaraan, pengiriman makanan dan layanan lainnya ke setiap sudut Asia Tenggara.

Namun sejak 2018, pengemudi ojek yang bekerja untuk Grab dan Go-Jek di Jakarta telah mengadakan aksi unjuk rasa menuntut tarif yang lebih tinggi dan kondisi yang lebih baik.

Direktur Jenderal Transportasi Darat Kementerian Perhubungan, Budi Setyadi mengatakan, pihaknya berencana untuk menerapkan tarif minimum dan maksimum untuk naik mobil dan sepeda motor yang akan lebih tinggi dari tarif Go-Jek dan Grab saat ini, dan memberlakukan batasan pada pemotongan harga promosi.

“Ini untuk keselamatan dan perlindungan pengemudi,” kata Budi di Jakarta, Jumat (11/1)

Direktur Transportasi Umum Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Ahmad Yani mengatakan, ketergantungan pada pembayaran yang didorong oleh insentif dan tarif tetap yang rendah per kilometer adalah risiko keselamatan, karena hal itu menyebabkan pengemudi bekerja terlalu keras.

Yani mengatakan, Grab membayar Rp1.200 per km (0,6 mil) dengan fokus pada bonus, sementara tarif Go-Jek adalah Rp1.400 rupiah per km. Menurutnya, kisaran tarif tetap untuk sepeda motor masih sedang diselesaikan, tetapi akan dilaksanakan mulai Maret.

“Tarif tetap untuk mobil yang naik kendaraan akan mulai pada bulan Juni dan ditetapkan pada Rp3.500 – Rp6.000 rupiah per km di pulau Jawa, Sumatra, dan Bali. Sedangkan para pengemudi mendorong, kenaikan tarif standar dari Rp3.000 menjadi Rp4.000 per km,” jelasnya.

Sementara itu, melansir dari laman Channel NewsAsia, perusahaan-perusahaan mengatakan, bahwa mereka menyambut aturan baru, meskipun mereka belum melihat rincian peraturan sepeda motor.

“Grab percaya bahwa pemerintah akan mengembangkan kerangka peraturan terbaik dan berharap semua pemangku kepentingan akan dilibatkan dalam proses ini,” kata Kepala Urusan Publik Grab, Tri Sukma Anreianno.

Sedangkan juru bicara Go-Jek mengatakan, “Kami mendukung semangat pemerintah untuk mendorong mitra pengemudi kami dan berharap peraturan ini akan berdampak positif pada keberlanjutan pendapatan pengemudi dan persaingan bisnis yang adil,” katanya

Namun, kedua pejabat transportasi mengatakan perusahaan mengaku khawatir, tentang peraturan yang tertunda karena mereka telah menghabiskan banyak pada subsidi pengemudi, untuk memangkas tarif pelanggan mereka dan membangun bisnis mereka.

“Grab dan Go-Jek telah mengatakan kepada saya, bahwa mereka lebih suka tidak ada peraturan. Karena persaingan di antara mereka takut apa yang bisa terjadi jika mereka tidak mengikuti satu sama lain,” kata Yani.

Sementara para pengemudi Grab dan Go-Jek menyambut prospek tarif standar. “Saya sudah bekerja untuk Grab sejak 2015. Sebelumnya, saya bisa mendapatkan Rp300.000 – Rp400.000 per hari. Sekarang, saya hanya bisa mendapatkan Rp150.000,” kata sopir sepeda motor Grab Hermansyah.

Pengemudi lain, yang telah bekerja untuk kedua perusahaan mengatakan, tidak ada yang memberikan banyak perlindungan, menyebabkan pengemudi menanggung biaya operasional. Dia meminta untuk tidak diidentifikasi karena dia memiliki peran dalam mengorganisir protes.

Pengamat Perkotaan dan Transportasi Yayat Suprityatna mengatakan, tarif tetap akan menjadi tantangan bagi model bisnis yang bergantung pada harga penumpang yang murah untuk pertumbuhan dan dapat merusak inovasi.

“Tarif murah telah menjadi cara utama perusahaan untuk menarik pelanggan,” kata Yayat (der/fin)

Rekomendasi Berita