oleh

Rencana Bukukan Hasil Disertasi

Perjuangan H Tamri Raih Gelar Doktor

19 Desember 2018 jadi momen bersejarah bagi Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Lubuklinggau, H Tamri. Pada hari itu, ia menyandang gelar doktor di Universitas Bengkulu (UNIB). Bagaimana perjuangannya?

Laporan Sulis, Lubuklinggau

‘MENUNTUT ilmu adalah wajib bagi setiap mukmin’ demikian bunyi salah satu hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan Imam Bukhari.

Termotivasi akan hal itu, H Tamri begitu bersemangat untuk melanjutkan studi S3 (Strata Tiga) di UNIB. Saat itu, ia masih menjabat sebagai Kepala Badan Pendidikan dan Pelatihan (Bandiklat) Kota Lubuklinggau.

“Sekitar empat tahun yang lalu, saya masih di Bandiklat. Jadi di Bandiklat itu kan ada yang namanya widyaiswara. Jadi selain memang menunaikan apa yang Rasulullah ajarkan, studi S3 juga persiapan untuk jadi widyaiswara. Bahkan, ada informasi dari teman bahwa kebijakan sedang digodok tentang widyaiswara yang berpeluang jadi profesor. Nah, dapat kabar itu makin semangat saya ambil S3,” tutur Tamri.

Lalu ia memantapkan diri mengambil Jurusan Manajemen Sumber Daya Manusia (SDM) yang linear dengan jurusan yang diambilnya saat S2 Manajemen di Universitas Sriwijaya (Unsri).

Ditengah proses kuliah, ternyata Bandiklat diintegrasikan dengan Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM). Menurut Tamri, kebijakan itu tak menyurutkan niatannya untuk terus belajar.

“Ilmu itu nggak ada yang sia-sia. Sebab, jurusan yang saya ambil juga strategis untuk belajar tentang kepemimpinan,” jelas bapak yang kini telah berusia 52 tahun itu.

Tujuh semester tuntas ditempuhnya. Gelar doktor resmi disandang. Ia amat bersyukur mendapat dukungan tulus dari istri Hj Markona Matusin dan putra-putrinya Fiqy Nurullah, Rahman H, Lukman R, dan Tamara.

“Menempuh studi S3 ini bukan mudah. Ya, namanya antara belajar dan tugas, jelas sempat tergopoh-gopoh. Kalau saat kuliah, saya sempat bingung bagi waktu. Saya kuliah setiap Jumat selepas Magrib sampai malam. Dan Sabtu dari pagi sampai sore. Kesulitannya, sering ketika sudah sampai di Curup, ternyata ada rapat dan tidak boleh diwakilkan. Maka, ya tak ada pilihan. Akhirnya balik lagi ke Lubuklinggau. Itu beberapa kali. Belum lagi saat menyusun disertasi. Luar biasa perjuangannya, terutama melawan kemalasan untuk terus menulis,” tutur dia.

Soal biaya, Tamri mengakui kuliah S3 cukup menguras kantong.

“SPP per semesternya Rp15 juta. Saya berusaha berhemat dari sisi transpor dan akomodasi. Kalau transpor saya kebetulan bersama Pak Jamhari, jadi bisa saling bantu transpor. Lalu penginapan, paling tinggi kami nginap di hotel yang Rp200 ribu per malam. Alhamdulillah, kami ada langganan penginapan dekat kampus. Jadi tak keluar biaya lagi,” imbuhnya.

Lalu bagaimana dengan proses Tamri menyelesaikan disertasinya?

“Hampir setiap malam, saat bangun pukul 03.00 WIB untuk menulis. Karena waktu pukul 03.00 WIB itulah paling encer pikiran, tenang, dan bisa konsentrasi. Saya mengobservasi tentang Spiritual Organitation. Yang intinya, setiap karyawan maupun aparatur butuh tiga dimensi. Pertama otonomi, dua kompetensi dan ketiga dimensi keterkaitan. Jadi setiap ASN, idealnya harus punya 3 dimensi itu,” imbuh Tamri.

Untuk otonomi, kata Tamri, kalau kita bekerja jangan sebatas menunggu perintah dari atasan. Semakin banyak ide, akan semakin baik untuk kemajuan perusahaan dan lembaga tempat kita mengabdi.

“Kalau ada ide, saat pimpinan salah arah bisa mengusulkan. Apalagi di perusahaan swasta, orang yang banyak ide inilah yang biasanya sangat dibutuhkan. Kalau kita nggak punya ide, mudah sekali tergeser melalui seleksi alam. Disamping itu, jika ada aparatur atau karyawan yang punya ide ternyata tak diapresiasi, juga akan mempengaruhi semangat kerjanya,” jelasnya.

Lalu dari sisi kompetensi, ASN maupun karyawan harus punya kemampuan. Hal itu bisa menambah kepercayadiriannya dalam menjalankan tugas.

Terakhir, dimensi keterkaitan.

“Maksudnya, misal ketika perusahaan jatuh, maka dia pun akan merasa jatuh. Kalau ada kawan sedang down, dia siap bantu. Nah, empati ini penting. Untuk membangun semangat kerja,” jelas dia.

Untuk menginspirasi banyak orang agar bisa mengaplikasikan hikmah dari disertasi yang dibuatnya, Tamri berencana membuat buku dari hasil disertasi itu.

“Iya, saya sedang berjuang menuju sana (membuat buku). Insya Allah judulnya itu ‘Hadirkan Spiritualitas di Tempat Kerja’. Tujuannya, untuk membangun sinergi positif di tempat kita mendedikasikan diri, agar bisa sukses bersama,” imbuhnya. (*)

Rekomendasi Berita