oleh

Remaja yang Karungi Mayat Temannya, Menangis Saat Divonis

LINGGAU POS ONLINE, LUBUKLINGGAU – DA (14) menangis setelah divonis sembilan tahun penjara oleh majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Lubuklinggau, Selasa (23/7) pukul 13.00 WIB.

Menurut majelis hakim yang diketuai Syahreza Papelma SH dengan Hakim Anggota Dian Triastuty SH dan Yopy Wijaya SH dengan Panitera Pengganti (PP) Marlinawati, warga Kelurahan Pasar Muara Beliti Kecamatan Muara Beliti Kabupaten Musi Rawas (Mura) ini melanggar Pasal 339 jo Pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP Jo Undang-Undang (UU) 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Anak.

DA dinyatakan terbukti bersama teman-temannya yang buron, merenggut nyawa Kelpinda (15). Selain itu, DA juga akan menjalani hukuman di Lembaga Pembinaan Kasus Anak (LPKA) Klas I Pakjo Palembang.

“Hal-hal yang memberatkan terpidana, belum ada perdamaian dengan pihak korban dan prilaku terpidana meresahkan masyarakat. Sedangkan hal-hal yang meringankan, terpidana mengakui kesalahannya, dan menyesali perbuatannya,” jelas Hakim Syahreza saat dalam persidangan.

Vonis yang dijatuhkan majelis hakim, lebih ringan satu tahun dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Nanda Handika SH, yang menuntut 10 tahun penjara.

Usai, pembacaan putusan, majelis hakim menanyakan kepada terdakwa apakah menerima atau banding. Untuk menjawabnya, majelis hakim mempersilakan DA bermusyawarah dengan pengacaranya,  Gery Cristover SH dari Posbakum.

Terpantau oleh Linggau Pos, terpidana meminta pendapat kepada pengacaranya, kemudian tampak kuasa hukumnya memberikan arahan dan masukan. Setelah itu, terpidana dengan nada berat, menerima putusan yang diberikan.

“Saya terima putusan yang dijatuhkan, saya menyesal,” tutur DA sambil menangis di hadapan majelis.

Kemudian majelis pun menanyakan kepada kuasa hukum terpidana, kuasa hukumnya pun menerima putusan itu. Begitupun dengan Jaksa Penuntut Umum (JPU), Nanda Handika SH menerima vonis hakim.

Usai persidangan, Ketua Majelis Hakim Syahreza Papelma SH saat ditanya Linggau Pos mengatakan, dalam menjatuhkan vonis, majelis telah banyak mempertimbangkan putusan yang akan dijatuhkan, mengingat terdakwa masih bawah umur, dan terdakwa mengakui kesalahannya. Sedangkan  yang memberatkan, hingga saat ini didapat informasi dari pihak keluarga dan terdakwanya, belum ada perdamaian.

Sementara itu Tim Kuasa Hukum dari Posbakum, Darmansyah SH menjelaskan, bahwa majelis hakim sudah memberikan vonis seadil-adilnya.

Namun diakui Darmansyah, hukuman sembilan tahun untuk seorang anak, ini termasuk berat. Namun kemungkinan ada pendapat lain yang membuat majelis hakim memberikan putusan seberat itu terhadap terpidana DA.

“Diketahui atas prilakunya di luar tindakan seorang anak. Maka majelis hakim memberikan putusan untuk memberikan efek jera terhadap terpidana,” jelasnya.

Sedangkan JPU, Nanda Handika SH mengaku menerima putusan yang diberikan, karena putusan yang dijatuhkan hanya berbeda satu tahun dengan tuntutan yang diberikan kepada terpidana.

“Ini bukan untuk menghukum tapi untuk memberikan efek jera bagi terpidana dan untuk mendidik. Ia akan ditahan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Pakjo Palembang, untuk rehab agar terpidana berubah menjadi orang yang lebih baik. Menurut saya putusan yang dijatuhkan oleh majelis hakim sudah sangat adil,” jelas JPU.

Bahkan JPU Nanda berharap agar ketiga pelaku utamanya yang kini masih buron untuk segera di tangkap.

“Saya berharap DA berubah menjadi orang yang lebih berguna dan baik untuk kedepannya,” harapnya.

Sementara itu data dihimpun Linggau Pos, DA ditahan oleh penyidik Polres Musi Rawas (Mura) mulai 16 April 2019. Kemudian 27 April 2019 terdakwa dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri Lubuklinggau dan persidangan dimulai 15 Juli 2019.

Kronologis kasusnya, bermula pada Sabtu (15/6), terdakwa DA beserta dengan rekannya HZ, PI dan DL (buron), merencanakan akan melakukan aksi pencurian sepeda motor milik korban.

HZ yang memunculkan ide tersebut. Minggu (16/6) sekitar 08.00 WIB, tersangka DA mengajak korban dari Jayaloka ke lokasi pembunuhan (tempat cucian mobil) di Desa Muara Beliti, Kecamatan Muara Beliti, Kabupaten Mura.

Di lokasi HZ, PI dan DL sudah nongkrong. Kemudian korban pamit hendak membeli rokok.

Saat korban pergi, HZ marah kepada DA sambil berkata “Ngapo kau dak ke sini malam tadi, rencana kito tu laju dak jadi. Malam besok kan ado pesta, ado bola gelinding, duit kito dak ado. Kalo kau dak ke sini malam agek, kau tulah bahayonyo bagian kau aman, terimo bersih bagian kau Rp1 juta, bisa kau beli handphone samo pakaian”.

Kemudian tiba-tiba datanglah korban dan HZ pun tidak melanjutkan pembicaraan.

Pada pukul 20.00 WIB pada hari yang sama, DA, DL dan korban berangkat dari Muara Beliti berangkat ke Jayaloka.

Kemudian pukul 24.00 WIB, korban mengajak DA dan DL untuk makan dan minum di rumah orang tuanya.

Senin (17/6) sekitar pukul 01.30 WIB, korban yang bersama dengan terdakwa dan DL dari Jayaloka menuju ke Beliti (tempat kejadian perkara).

Sekitar pukul 02.30 WIB, korban yang saat itu hendak buang air kecil langsung menuju ke sungai.

Karena saat itu kondisi gelap, korban menggunakan lampu senter. Namun senter yang di pegang korban jatuh, dan korban duduk sambil meraba-raba mencari lampu senter.

Bersamaan itu, dari arah belakang HZ langsung memukul korban dengan menggunakan sebatang kayu bulat hingga tengkurap pingsan di tepi sungai. HZ melanjutkan kembali dengan, memukul tiga kali di tengkuk korban menggunakan kayu bulat.

Kemudian, disusul dengan terdakwa juga ikut memukul korban tiga kali menggunakan kayu pada bahu. Tersangka PI kemudian membalikkan tubuh korban dan menusuknya 15 kali, lalu tersangka PI dan HZ memasukkan korban Kelpinda ke dalam karung.

Saat korban dimasukkan ke dalam karung, tersangka DL masih menyempatkan memukul korban yang berada di dalam karung menggunakan batu sebanyak lima kali.

Kemudian tersangka PI langsung mencari kunci motor korban, hingga ditemukan oleh DL.

Setelah itu, korban yang dibungkus dalam karung langsung dibawa ke tengah Sungai Kelingi dan dihanyutkan.

Kemudian, HZ, DL, dan PI mengendarai sepeda motor korban. Saat itu terdakwa DA bertanya kepada ketiga tersangka, dijawab oleh PI bahwa mereka akan ke Empat Lawang, dan meninggalkan terdakwa. (yan/dlt)

Rekomendasi Berita