oleh

Ratusan Lapak Mubazir

LINGGAU POS – Pemerintah Kota (Pemkot) Lubuklinggau salah satu pemerintah daerah yang beruntung pasalnya setiap tahun kota “Sebiduk Semare” ini mendapat bantuan revitalisasi pasar. Bahkan bantuan penambahan pasar, meskipun pasar yang ada saat ini belum dikelola secara maksimal.

Seperti di Pasar Bukit Sulap (PBS) ada puluhan lapak yang dibangun Pemkot Lubuklinggau sejak lima tahun terakhir masih belum dimanfaatkan. Padahal, lapak-lapak tersebut telah dibagikan kepada pedagang tapi tidak digunakan, dengan alasan sarana penunjang.

Selanjutnya, Pasar Ikan Simpang Periuk ada ratusan lapak yang tidak dimanfaatkan dan ditunggu pemiliknya dengan alasan sepi pembeli.

Namun, lagi-lagi Pemkot Lubuklinggau akan melakukan penambahan dan revitalisasi di Pasar Ikan Simpang Periuk.

Pasar Satelit, tiga tahun lalu sudah mendapatkan bantuan pembangunan belasan kios bantuan dari Kementerian Perdagangan dan Perindustrian RI.

Dari belasan kios tersebut hanya tiga atau empat saja yang dimanfaatkan, namun tahun ini Pemkot Lubuklinggau kembali mendapatkan bantuan penambahan kios di Pasar Satelit.

Tahun 2018, Pemkot Lubuklinggau mendapatkan bantuan pembangunan dan pengaktifan pasar di beberapa kecamatan seperti Pasar Jangkrik di Kecamatan Lubuklinggau Barat I dan beberapa pasar di kecamatan lainnya, namun semua tidak optimal.

Sementara wacana Pemkot Lubuklinggau untuk mengembangkan dan mengatasi semrawutnya Pasar Inpres masih belum bisa diatasi dengan alasan terkendala kepemilikan lahan PT KAI.

Berdasar hasil investigasi Linggau Pos ke Pasar Ikan Simpang Periuk, seorang pedagang Marni (44) mengatakan sebagian besar pedagang, hanya bertahan mengisi lapak semingguan.

“Ada yang nunggu. Pernah uji coba. Tapi paling lama 1 minggu. Kalau saya, sudah sejak 2017 jualan di sini. Jadi dari 300-an lapak ini, hanya 66 lapak yang terpakai,” tutur Marni.

Kebanyakan dari mereka berhenti berdagang karena pendapatannya yang minim. Hasil jualan tidak berbalik modal.

“Kami yang bertahan ini, karena sudah punya pelanggan,” jelas Marni.

Untung hasil jualan, hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan harian. Bahkan, kata Marni, Pasar Simpang Periuk ramai saat jelang Idul Fitri dan Minggu pagi saja. Untuk hari-hari biasa, semakin siang, pasar semakin tak ada pengunjung. Bahkan, saking sepinya tak sedikit pedagang pindah ke Pasar Moneng Sepati, di Kelurahan Moneng Sepati, Kecamatan Lubuklinggau Selatan II.

Hal sama juga terlihat di Pasar Jangkrik di Kelurahan Tanjung Indah, Kecamatan Lubuklinggau yang sepi aktivitas.

Lurah Tanjung Indah, Mustaredi mengatakan Pasar Jangkrik atau pasar rakyat yang beralamat di Kelurahan Tanjung Indah, Kecamatan Lubuklinggau Barat I dibangun oleh Pemkot Lubuklinggau tahun 2006 yang langsung diresmikan oleh Walikota Lubuklinggau pada masa H Riduan Effendi.

Sejak Pasar Jangkrik tersebut diresmikan selama 3 bulan orang berjualan dan pembeli sempat ramai. Namun perlahan-lahan sepi dan ditinggalkan. Kemudian di zaman pemerintahan yang di pimpin oleh Walikota Lubuklinggau H SN Prana Putra Sohe tahun 2018, Pasar Jangkrik diservis kembali dengan merehab yang mejanya yang sebelumnya dari papan dan sudah diperbaiki menjadi beton.

Kemudian Pemkot Lubuklinggau melalui Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kota Lubuklinggau meminta pedagang memanfaatkan 64 lapak untuk dipakai jualan gratis. Khususnya untuk pedagang yang berasal dari Kecamatan Lubuklinggau Barat I.

Awal tahun 2019. Pasar Jangkrik buka kembali sempat 6 bulan para pedagang dan pembeli ramai. Namun selepas hari Raya Idul Fitri pembelinya kembali sepi sampai sekarang.

Ketua RT 05, Karsono mengungkapkan Pasar Jangkrik sengaja dibangun oleh pemerintah untuk meningkatkan perekonomian masyarakat.

“Pas pertama buka para pedagang berjualan sempat berebutan lapak dan setelah mulai aktivitas berjualan mereka perlahan-lahan mundur dan tanpa melapor kembali ke pemerintah setempat sehingga sekarang tinggal 4 pedagang lagi yang ditempati,” jelasnya.

Vakumnya aktivitas perekonomian di Pasar Jangkrik disebabkan sepi pembeli. Saat ini pemerintah setempat menunggu instruksi Pemkot Lubuklinggau.

Salah satu pedagang Mad Dol saat di temui Pasang Jangkrik mengungkapkan sejak awal buka ia memilih jualan bahan pokok. Ia tak menyangka, kini ada 60 lapak di pasar itu kosong. Tidak ada yang memakai untuk berjualan.

“Alhamdulillah sampai sekarang masih ada juga yang membeli walaupun sedikit. Waktu pertama masih banyak penjual hanya diminta upah lapak kebersihan, keamanan selama seminggu sekali hanya Rp5.000,” imbuhnya. (nia/cw5/adi/yan)

JUDUL : Ratusan Lapak Terbengkalai

Rekomendasi Berita