oleh

Ratusan Hektare Sawah Tak Bisa Digarap

LINGGAU POS ONLINE, EMPAT LAWANG – Kabar tak mengenakan untuk petani. Ratusan hektare sawah di Desa Tanjungning Simpang, Kecamatan Saling Kabupaten Empat Lawang, sejak setahun terakhir, tidak lagi dapat digarap.

Pasalnya saluran utama (sekunder) pada irigasi Sungai Saling, yang selama ini mengaliri persawahan di Daerah Irigasi (DI) Sungai Saling itu, sudah rusak parah.

Tidak itu saja, rusaknya saluran irigasi itu, telah membuat kerugian bagi puluhan petani, karena mengalami gagal panen akibat sawah miliknya tidak mendapat pasokan air yang cukup, pada musim tanam terakhir ini.

“Sudah satu tahun terakhir ini, sawah yang paling ujung menerima aliran air irigasi sudah tidak lagi digarap. Lihat saja kondisinya saat ini sudah jadi semak belukar,” ungkap salah seorang petani setempat, Jok, Rabu (27/12).

Lanjut dia, jika sawah yang berada lebih dekat dengan wilayah pemukiman desa tidak lagi bisa digarap sejak dua tahun terakhir, di lokasi yang lebih ke arah bendungan, semuanya gagal panen, jika pun ada yang panen, hasilnya jauh dari harapan.

“Kalau normalnya jika sebelum ada kerusakan saluran irigasi, bisa mencapai 24 karung. Tapi kini hanya 7 karung dan beras yang dihasilkan pun, rasanya pahit, karena sawah kekurangan air,” jelasnya.

Senada yang disampaikan Jok, salah seorang petani yang lain, Rom mengaku jika sawahnya tidak ada satu tangkai pun padi yang berhasil dia panen akibat kekurangan air karena adanya kerusakan pada irigasi.

“Kami ini sistem sewa. Pemilik sawah tahunya terima sekian karung per musim, jadi kerugian pada gagal panen ini, semuanya risiko kami sebagai penggarap sawah,” katanya.

Tidak hanya mengalami kerugian, keluarganya juga terancam kehilangan mata pencaharian, karena sawah sudah tidak bisa lagi digarap.

“Lahan yang sawah yang ada ini, tidak mungkin kami alih fungsikan menanam jagung misalnya, karena bukan punya kami. Kami selama ini hanya menggarap,” cetusnya.

Dia pun sangat mengharapkan jika kedepannya saluran utama irigasi dapat segera diperbaiki, sebab dikatakannya ada sekitar 300 Kepala Keluarga (KK) yang bergantung hidup di lahan persawahan ini. Bahkan kata dia, jika nantinya para petani harus bergotong-royong memperbaiki saluran irigasi, banyak petani termasuk dirinya siap membantu.

“Kami yang nyawah di sini, kalau tidak sabar, mungkin sudah saling bacok lantaran berebut air untuk mengaliri sawah. Kondisi kerusakan parah pada saluran irigasi ini, terjadi setidaknya empat musim terakhir,” akunya. (04)

Komentar

Rekomendasi Berita