oleh

Radio Bencana Terbentur Stasiun TV

JAKARTA – Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kominfo) segera menguji coba radio bencana di berbagai daerah mitigasi, Februari 2019 ini. Gelombang yang akan dipakai yakni frekuensi radio 700 megahertz (MHz).

Sayangnya, frekuensi 700 MHz menjadi frekuensi rebutan pemilik provider dan televisi karena memiliki cakupan lebih luas dan stabil dari gelombang manapun. Butuh waktu panjang bagi Kominfo menggunakan frekuensi 700 MHz. Pasalnya, sejumlah stasiun televisi analog masih menggunakan ini.

Menteri Komunikasi dan Informasi (Kominfo) Rudiantara mengaku, banyak pengusaha televisi yang tak rela rela begitu saja untuk melepas frekuensi tersebut ke gelombang radio bencana. Meski demikian, pihaknya meyakini gelombang ini harus steril dari tayangan komersil.”Kita masih mendorong agar gelombang ini steril, apalagi cakupannya yang luas mampu membantu tim untuk melakukan mitigasi,” terangnya.

Rudiantara mengatakan, Hanya saja untuk memindahkan pemain d TV analog tersebut tidaklah mudah. Kominfo butuh kerja keras melakukan pendekatan khusus kepada para pengusaha televisi agar mau hijrah ke frekuensi lain atau layanan digital.

“Di Eropa, frekuensi 700 MHz baru untuk 4G, kita belum kisaran di sana. Di Asia pun, frekuensi ini belum populer,” terangnya.

Dikatakanya, frekuensi 700 MHz tersebut akan digunakan untuk Public Protection and Disaster Relief (PPDR). Pemanfaatan tersebut tidak menunggu selesainya pengesahan revisi Undang-Undang (UU) Penyiaran.”Kita sudah dapat dukungan DPR untuk melakukan uji coba aplikasi kebencanaan,” ujarnya.

Penggunaan frekuensi ini merupakan standar dari berbagai negara di belahan dunia lain. Dijelaskannya frekuensi ini akan menjadi sistem peringatan dini, penyebaran informasi kebencanaan, serta sistem-sistem pendukung lainnya.

“Seperti jika ada gempa patahan di Sumatera, namanya patahan kan tidak berhenti di Indonesia saja, melainkan terus ke negara lain. Nah, lewat radio ini negara lain akan mengetahui lebih dini, katanya.

Rudi mengatakan bahwa dukungan politik untuk kepentingan ini sudah didapatkan dari Komisi 1, Rudi juga menyebut rencanannya akan dialokasikan 20 Megahertz dari digital deviden.”Masih kami dorong dan terus kita dorong,” tandasnya.

Sebelumnya, Kepala Global System for Mobile Communications Association (GSMA) Wilayah Asia-Pasifik Julian Gorman mengatakan, saat ini, Indonesia tinggal selangkah lagi untuk menjadi raksasa ekonomi digital di kawasan Asia Tenggara. Dengan langkah-langkah kebijakan yang tepat untuk mendorong investasi dalam pengembangan dan digitalisasi seluler, Indonesia berpotensi melampaui pasar lain dalam hal pertumbuhan ekonomi.

“Untuk 10 tahun ke depan, perubahan teknologi seluler ini akan memberikan manfaat sosio-ekonomi yang akan berdampak langsung pada kesejahteraan jutaan orang,” kata Julian, dalam ulasan dan keterangannya.

Menurut dia, sektor industri seluler di Indonesia telah mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang pesat sejak awal abad ini. Hal ini ditopang oleh adopsi ponsel pintar (smartphone) yang meningkat massif di daerah perkotaan dan pedesaan seiring dengan pertumbuhan kelas menengah dan populasi muda yang semakin paham teknologi.

Namun, GSMA juga menyadari bahwa keterbatasan akses internet masih tetap menjadi tantangan utama Indonesia dalam upaya meningkatkan partisipasi digital masyarakat, khususnya bagi mereka yang tinggal di daerah perdesaan dan perbatasan negara.

“Hal itu bisa berubah dengan dirilisnya pita spektrum 700 MHz untuk penggunaan layanan seluler. Menurut laporan yang dirilis oleh GSMA Intelligence, ada potensi untuk meningkatkan pelanggan internet mobile dari 102 juta tahun 2017 (penetrasi 39%) menjadi 185 juta (penetrasi 65%) pada 2025,” tandasnya. (fin/tgr)

BISNIS VS KEMANUSIAAN

1. Global System for Mobile Communications Association (GSMA), sebuah asosiasi wadah operator telekomunikasi di seluruh dunia, memproyeksikan frekuensi 700 Mhz merupakan frekuensi emas rebutan para penyedia jasa telekomunikasi.

2/ Jika ditilik dari manfaat ekonominya, alokasi frekuensi ini akan menghasilkan kurang lebih US 11 miliar dollar, atau sekitar Rp 161 triliun untuk perekonomian Indonesia pada periode 2020-2030. Nilainya setara dengan tambahan produk domestik bruto (PDB) 1%.

3. Jika frekuensi ini direalisasikan, transaksi e-commerce sebanyak US 130 miliar dollar bisa dicapai dari transaksi ekonomi digital di Indonesia pada 2030. kontribusinya pun sekitar 11% terhadap produk domestik bruto (gross domestic product I GDP) Indonesia.

4. Belajar dari bencana tsunami di Palu dan Banten, Kominfo pun berubah haluan. Menkominfo Rudiantara akan melakukan uji coba penggunaan frekuensi 700 megahertz (mHz) untuk manajemen kebencanaan pada 2019. Uji coba ini akan menggunakan frekuensi 700 MHz untuk Public Protection and Disaster Relief (PPDR).

5. Rudiantara mengatakan saat ini frekuensi 700 MHz di pulau Jawa memang sudah banyak digunakan oleh stasiun televisi. Oleh karena itu, Rudiantara mengatakan akan melakukan uji coba di luar Jawa seperti di Papua, Sumatera, dan Kalimantan.

(SUMBER DIOLAH)

Rekomendasi Berita