oleh

Pustakawan dan Pandemi Covid-19

Oleh: Rhoni Rodin

Tanggal 7 Juli 1973 merupakan tonggak sejarah bagi kebangkitan dunia kepustakawan Indonesia, dimana pada tanggal tersebut telah dideklarasikan dan diresmikan sebagai Hari terbentuknya organisasi profesi pustakawan, yang lebih dikenal dengan Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI).

Kehadiran organisasi profesi pustakawan dan pembinaannya telah diakui oleh Undang-Undang Nomor 43 tahun 2007 tentang Perpustakaan. Jauh sebelum 7 Juli 1973 di Ciawi-Bogor, dua organisasi besar yaitu  APADI (Asosiasi Perpustakaan, Arsip dan Dokumentasi Indonesia) dan HPCI (Himpunan Pustakawan Khusus Indonesia) meleburkan diri menjadi Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) hingga sekarang dan setiap tahunnya diperingati sebagai Hari Pustakawan, secara khusus diperingati sebagai hari lahirnya Ikatan Pustakawan Indonesia.

Namun peringatan HUT IPI tidak semeriah dengan peringatan HUT organisasi profesi lainnya seperti PGRI atau IDI. Padahal peran dan fungsinya jauh lebih besar yakni sebagai jantung pendidikan, sebagai peletak dasar pembudayaan kegemaran membaca dan sebagai unsur utama dalam kehidupan yakni kemampuan membaca dan menulis (literasi).

Tanpa jantung, tanpa dasar/ pondasi dan tanpa literasi apakah kita masih menganggap remeh fungsi pustakawan dan perpustakaan.
Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) sekarang sudah berusia 47 tahun. Dari segi umur merupakan masa yang cukup “dewasa”, kokoh, tangguh dan perkasa. Suatu periode yang mampu menghadapi perubahan dinamika zaman.

Tujuan organisasi ini sebagaimana tertuang dalam AD/ART-nya merupakan wadah bagi pustakawan untuk meningkatkan profesionalisme pustakawan Indonesia, mengembangkan ilmu perpustakaan dan informasi, mengabdikan dan mengamalkan tenaga dan keahlian pustakawan untuk bangsa dan negara, dan memajukan serta memberikan perlindungan kepada anggota.

Dalam konteks kekinian, terjadinya pandemi Covid 19 telah membawa dampak besar bagi dunia kepustakawanan. Di era pandemi ini dunia kepustakawanan mulai beralih dari manual ke otomatisasi, dan dari konvensional ke digital. Hadirnya teknologi bidang informasi tentunya sangat membantu pihak perpustakaan untuk mendukung berbagai layanan kepada pemustaka di tengah pandemi ini.

Sebagai contoh, saat ini telah banyak perpustakaan yang telah memperkuat layanan digital dan e-resources.
Pada hakikatnya perpustakaan dari dahulu sampai sekarang tidak berubah fungsi dan peranannya. Perpustakaan adalah lembaga jasa yang memberikan informasi kepada pemakainya.

Kegiatan teknis berupa pengadaan, pengolahan, penyimpanan dan pelestarian, bukan tujuan tetapi sarana untuk dapat memberikan layanan sebagai tujuan akhir. Tugas utama pustakawan adalah peyebaran informasi (dissemination of information), bahkan pemasaran (marketing) hendaknya merupakan bagian yang harus dilakukan perpustakaan.

Buku dan pembacanya belum lagi ibarat ”gula dan semut”. Ketika sebuah perpustakaan didirikan dengan koleksi yang lengkap dan tenaga yang profesional, tidak ada jaminan bahwa pemakai dengan serta-merta datang ke perpustakaan. Pustakawan masih berkewajiban untuk mempromisikan koleksi dan layanan yang disediakan, yaitu kegiatan ”memasyarakatkan perpustakaan”. Pada sisi lain, para stakeholder harus pula ”memperpustakakan masyarakat”.

Stakeholder dalam hal ini termasuk orang tua, guru, dosen, pejabat, ulama dan tokoh masyarakat lainnya.
Pandemi virus corona yang kita hadapi saat ini merupakan bagian dari bencana non alam yang berupa epidemi atau wabah. Epidemi adalah kejadian berjangkitnya suatu penyakit menular dalam masyarakat yang jumlah penderitanya meningkat secara nyata melebihi dari keadaan lazim pada waktu dan daerah tertentu serta dapat menimbulkan malapetaka.

Masifnya persebaran virus ini menyebabkan beberapa negara atau wilayah beberapa waktu yang lalu telah melakukan kegiatan lockdown (karantina wilayah) untuk memutus mata rantai penyebaran virus ini. Khusus di Indonesia belum menerapkan lockdown, hal ini melihat implikasi yang ditimbulkan jika menerapkan kebijakan tersebut.

Sehingga sampai dengan akhir Bulan Mei 2020 Indonesia masih memberlakukan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar). Sekitar Bulan Juni 2020 ada beberapa daerah yang memberlakukan new normal. New normal ini diberlakukan dalam rangka menghidupkan roda ekonomi negara kita. Penerapan new normal dalam hal ini dibarengi protokol kesehatan  yang ketat dalam rangka memutus mata rantai persebaran virus corona.

Perpustakaan dan Pustakawan sebagai garda terdepan dalam menyediakan informasi seharusnya mengambil peran yang konkrit dan riil sehingga perpustakaan dan pustakawan tidak hanya tinggai diam menunggu pengunjung datang atau menunggu redanya pandemi Covid 19 ini. Kreativitas dan inovasi pustakawan dan perpustakaan di tengah pandemi Covid 19 ini sangat dibutuhkan sehingga pemustaka bisa memanfaatkan layanan perpustakaan meski dalam kondisi darurat bencana seperti sekarang ini.

Pustakawan dan Siaga Bencana

Siaga bermakna kesiapan dalam menghadapi bencana yang diimplementasikan dalam bentuk kegiatan persiapan sebagai upaya untuk mengurangi kerusakan akibat bencana (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2012:1297).

Ros Harvey (1993:123) mengemukakan bahwa elemen-elemen dari rencana kesiagaan menghadapi bencana meliputi pencegahan, tanggapan, reaksi, dan pemulihan. Lebih lanjut Matthews dan Feather (2003:31) menyatakan bahwa bencana dalam konteks ilmu perpustakaan merupakan segala bentuk kejadian yang mengancam keamanan manusia dan mengakibatkan kerusakan pada bangunan, koleksi, isi, fasilitas dan layanan yang ada di perpustakaan.
Menyikapi bencana yang mungkin saja terjadi, maka pustakawan dan petugas perpustakaan bertugas membangun kesadaran untuk melestarikan dan memelihara koleksi perpustakaan.

Secara rinci dan detail tugas pustakawan dan petugas perpustakaan adalah 1) Memberikan jaminan bahwa bahan pustaka diberdayakan secara efektif dan efisien sehingga tidak mengalami kerusakan; 2) Pembatasan penggunaan bahan pustaka (koleksi) yang langka dan berharga bagi pemustaka yang memerlukan bahan aslinya (Dureau dan Clements (1990:18).

Berdasarkan penjelasan di atas, inti dari siaga bencana adalah pengetahuan tentang bangunan, identifikasi koleksi, pencegahan bencana, teknik pemulihan, ketersediaan bantuan dari luar, serta keberadaan suatu struktur pengambilan keputusan. Walaupun demikian, manusia (pustakawan dan petugas perpustakaan) merupakan unsur yang sangat berperan penting dalam kesiagaan menghadapi bencana.

Adapun elemen-elemen dari rencana siaga dalam menghadapi bencana menurut Ros Harvey (1993:123), meliputi: pencegahan, tanggapan, reaksi dan pemulihan.

Tahap pertama dalam rencana siaga bencana adalah tahap pencegahan. Pada tahap ini dilakukan identifikasi terhadap penyebab bencana dan juga sebagai usaha untuk meminimalisir risiko yang akan dihadapi perpustakaan.

Siaga dimaknai sebagai kegiatan prosedur atau peralatan yang disiapkan untuk tindakan preventif terhadap bencana, meliputi 1) Memeriksa bangunan atau gedung perpustakaan; 2) Memastikan berfungsinya alat deteksi kebakaran dan pendeteksi pencurian; 3) Membuat back-up atau salinan duplikat seluruh data perpustakaan; 4) Mengasuransikan, premi akan berkurang bila tindakan pencegahan ditingkatkan (Ros Harvey, 1993: 123).

Kemudian tahap kedua adalah tahap tanggapan. Pada tahap ini melakukan kegiatan yang diterapkan sebelum keadaan darurat karena bencana menimpa.

Tahapan ini meliputi: 1) Melatih para staf agar siap siaga menghadapi bencana; 2) Mengidentifikasi dan memprioritaskan koleksi langka; 3) Memelihara alat-alat yang digunakan untuk penyelamatan koleksi; 4) Membuat daftar nama dan lembaga penting yang harus dihubungi ketika bencana menimpa; 5) Membuat Standar Operational Procedure (SOP) rencana penanggulangan bencana (Ros Harvey, 1993: 123).

Selanjutnya tahap ketiga adalah tahap reaksi. Tahap ini dilakukan ketika bencana sudah terjadi, dimana tahap ini berhubungan langsung dengan arah kebijakan, meliputi menentukan langkah prosedur yang dilakukan ketika terjadi bencana, memastikan lokasi bencana aman dimasuki, dan memindahkan materi yang rusak.

Tahap terakhir adalah tahap pemulihan. Pada tahap ini yang dilakukan pemulihan terhadap sistem yang terganggu selama bencana. Tahap ini meliputi penetapan dan pelaksanaan program memperbaiki lokasi bencana dan materi yang rusak, teknik penyelamatan terhadap koleksi, serta menganalisis bencana dan perbaikan rencana siaga bencana.

Terlepas dari hal tersebut, dalam menghadapi setiap bencana yang terjadi diperlukan sebuah upaya lahir dan batin. Penting untuk kembali menyadari hukum sebab-akibat sebagaimana yang telah menjadi sunatullah-Nya.

Perlu segala upaya untuk meminimalisir terjadinya bencana, selain upaya lahiriyah seperti menjaga kelestarian dan keseimbangan alam, juga diperlukan upaya batin dengan meningkatkan kualitas ibadah dalam pengertian luas. Perlu juga melakukan langkah-langkah antisipasi kongkrit serta meningkatkan kewaspadaan dan kesiagaan.

Kreativitas Layanan Perpustakaan
Pustakawan dalam menghadapi pandemi Covid 19 dituntut untuk bekerja secara profesional, selalu meningkatkan kemampuan diri dalam bidang teknologi informasi baik melalui seminar, diskusi, pelatihan, maupun workshop.

Perpustakaan wajib memberikan perhatian terhadap hal ini dengan selalu mendorong pustakawan untuk senantiasa meningkatkan profesionalisme dengan meningkatkan berbagai skill bidang pelayanan dan teknologi informasi. Di samping itu perpustakaan juga harus memberikan alokasi dana yang cukup untuk implementasi sistem informasi di perpustakaan.

Menghadapi pandemi Covid 19 mau tak mau pustakawan dan perpustakaan harus memutar otak agar layanan perpustakaan bisa berjalan sebagaimana mestinya, walaupun kondisinya dalam keadaan darurat. Perlu kreativitas dan inovasi pustakawan dalam rangka menjalankan sirkulasi layanan perpustakaan sehingga pemustaka masih bisa memanfaatkan layanan walaupun dalam kondisi pandemi seperti sekarang ini.

Selama ini pengelolaan perpustakaan sering berfokus pada kegiatan rutinitas seperti layanan sirkulasi, penelusuran informasi, dan manajemen informasi. Padahal selain kegiatan rutin tersebut, ada sisi lain yang harus lebih diperhatikan yaitu berbagai faktor bencana yang mungkin akan terjadi, baik yang disebabkan oleh ulah tangan manusia maupun bencana alam yang akan mengancam eksistensi dan kontinuitas sumber-sumber informasi tersebut.

Sehingga Alegbeleye dalam Abdul Wahab Olan Rewaju Issa (2016) menyatakan bahwa bencana yang mengancam perpustakaan merupakan suatu peristiwa yang mempunyai dampak akan terhapusnya secara tiba-tiba semua catatan dan rekaman (rekod) dokumen sehingga tidak bisa diakses dan digunakan lagi. Bencana baik yang bersifat sementara ataupun permanen, akan  membuat informasi yang terkandung dalam suatu dokumen terganggu atau tidak dapat diakses.

Bencana memang tidak bisa dihindari akan tetapi bisa diprediksi, diantisipasi dan diminimalisir oleh manusia. Bencana yang ditimbulkan oleh alam berupa gempa bumi, banjir, gunung meletus, kebakaran, serangga, hewan pengerat, dan jamur, dapat mengancam koleksi perpustakaan.

Sedangkan bencana yang disebabkan oleh manusia dapat mengancam koleksi perpustakaan berupa kebakaran, pencurian, dan berbagai jenis tindakan vandalisme (Haryanto, 2016).

Sebagaimana diketahui bahwa tujuan dan fungsi perpustakaan adalah mengumpulkan, menata, melestarikan dan menyediakan bahan pustaka dalam berbagai format. Dalam hal ini setiap perpustakaan mempunyai tugas untuk melestarikan koleksinya.

Oleh karena itu, pustakawan dan petugas perpustakaan juga bertugas membangun kesadaran untuk melestarikan dan memelihara koleksinya.

Maka yang menjadi tugas pustakawan dan petugas perpustakaan dalam hal ini adalah 1) Memberikan jaminan bahwa bahan pustaka diberdayakan secara efektif dan efisien sehingga tidak mengalami kerusakan; 2) Pembatasan penggunaan bahan pustaka (koleksi) yang langka dan berharga bagi pemustaka yang memerlukan bahan aslinya (Dureau dan Clements (1990:18).

Penguatan Layanan E-Resources dan Digital Library

Saat ini perpustakaan tidak bisa lagi dikelola secara konvensional, sebagaimana diungkapkan oleh Sekretais Jenderal Kementerian Ristekdikti Ainun (2018), bahwa perpustakaan sekarang ini harus bertransformasi (merubah bentuk dan beradaptasi) mengikuti perkembangan teknologi agar dapat menjawab tantangan zaman dan kebutuhan masyarakat pengguna (pemustaka), terutama menghadapi era pandemi Covid 19 seperti sekarang ini.

Perpustakaan sekarang dan ke depan tidak lagi hanya menjadi tempat berkumpul untuk membaca buku ataupun mencari informasi, namun lebih dari sekedar itu perpustakaan dapat menjadi working space tempat munculnya inovasi-inovasi baru, ide-ide brilliant dan pengembangan kreativitas.

Perpustakaan juga dapat menjadi suatu virtual office yang menjadi wadah bagi generasi muda untuk menambah wawasan dan mengembangkan kreativitas dan inovasi-inovasi yang konstrukif dan mencerahkan untuk kemaslahatan bangsa dan negara.

Layanan perpustakaan di era pandemi Covid 19 mengalami “kelumpuhan”. Kendati di era new normal, akan tetapi jumlah pengunjung dibatasi yang bisa mengakses layanan di dalam perpustakaan secara langsung. Di sinilah letak peran pentingnya layanan e-resources dan digital library. Dengan ke dua layanan ini pemustaka tidak perlu datang ke perpustakaan secara fisik.

Akan tetapi mereka bisa mengakses koleksi-koleksi elektronik dan digital secara online. Hal ini sesuai dengan yang diungkapkan oleh Diao bahwa perpustakaan harus mengoleksi dan menyediakan akses ke informasi dan pengetahuan serta sumber-sumbernya yang tersebar dalam multi-format (termasuk tacit)  (Diao 2003).

Menghadapi pandemi seperti sekarang ini atau apa pun bencana yang akan terjadi hendaknya pihak perpustakaan dan pustakawan sudah mempunyai antisipasi sehingga ketika bencana terjadi maka bisa diatasi secara baik dan terukur.

Harapan kita bersama tentunya semoga dengan terjadinya pandemi Covid 19 dan hari ulang Tahun Ikatan Pustakawan Indonesia ini, maka pustakawan dapat memetik pejaran dan hikmah bagaimana upayanya agar selalu tetap eksis dalam kondisi apapun, dan dapat pula meningkatkan kompetensi dan skill mereka sehingga ketika bencana terjadi maka pustakawan dapat meminimalisir dampak yang ditimbulkan bencana, serta dapat memberikan layanan kepada pemustaka.
*) Pengurus Daerah Ikatan Pustakawan Indonesia (PD-IPI) Propinsi Bengkulu. Peserta Short Course DELSMA ke Jerman. Tenaga Pengajar Prodi Ilmu Perpustakaan IAIN Curup.

Rekomendasi Berita