oleh

Puskesmas Selangit Kehilangan Bidan Teladan

Perjuangan Bidan Yosi Selamatkan Nyawa Pasien

Senin 25 Juni 2018 lalu, Bidan Yosi mendapat tindakan operasi pertama paha kanan dan betis kiri. Senin 2 Juli 2018 nanti, ia kembali menjalani operasi tahap II paha kiri dengan tangan kiri. Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Kabupaten Musi Rawas (Mura) menggalang dana untuk membantu Bidan Desa Lubuk Ngin Baru itu. Berikut bagian terakhir dari tulisan mengenai kisah pilu yang dialami bidan Yosi pasca kejadian Kecelakaan Lalu Lintas (Lakalantas).

Laporan Sulis – Riena, Lubuk Ngin Baru

PASCA Lakalantas 22 Juni 2018 pukul 03.30 WIB, Bidan Yosi dibawa ke Rumah Sakit (RS) DR Sobirin. Namun, karena kondisi dua kakinya patah, tim dari Puskesmas Selangit langsung menyiapkan ambulance untuk membawa Bidan Yosi hari itu (22/6) juga ke Palembang, tepatnya pukul 12.00 WIB.

Bidan Yosi didampingi rekannya Bidan Tanti dan Bidan Kristian. Di dalam ambulance yang mengantar Bidan Yosi juga siaga Perawat Heri dan Kepala Puskesmas Selangit, Muhamad Uzer.

Kabar tentang Lakalantas yang dialami Bidan Yosi baru sampai kepada Mardiana, pasien yang diselamatkannya Senin (25/6).

Ketika dibincangi tim kami di kediamannya, Desa Lubuk Ngin Lama, Mardiana didampingi Yamin (25) tengah menunggui putra pertamanya, Muhammad Apriansyah yang sedang terlelap.

Di rumah sederhana berdinding papan itu, juga terdapat ibu dari Mardiana, yakni Mariyam.

“Aku baru tahu kalau Yuk Yosi kecelakaan kemarin (25/6),” tutur perempuan 21 tahun ini. Ia kaget sekaligus sedih. Terlebih sang kakak ketiga, Heri yang mengantarkannya ke RS DR Sobirin, juga meninggal dalam lakalantas tersebut.

Mardiana mengenang bagaimana Alm. Dadangsyah dan Bidan Yosi begitu besar keinginannya untuk menyelamatkan Mardiana dan bayinya.

“Aku waktu hamil ceknya dengan Bidan Yosi. Cuman memang dak pernah USG (Ultrasonography). Niatnya, mendekati waktu kelahiran baru di-USG. Karena aku tinggal agak jauh dari sini, nunggu kandang ayam,” jelasnya sembari memandang putranya yang lahir dengan berat 3,3 Kg.

Yamin menambahkan, malam itu ia benar-benar kalut, saat tahu posisi anak pertamanya ini sungsang.

“Aku jelasi dengan Yuk Yosi men katek duit. Cuman Yuk Yosi jamin tanggung jawab. Dia memang dikenal baik. Dak peretungan men untuk nyelamati pasien. Dari kejadian ini, kami cuman bisa berdoa, semoga Kak Dadang dengan Kak Heri bisa ditempatke di Surganya Allah SWT. Kami berterima kasih nian dengan mereka, khususnya Yuk Yosi,” tutur pria 25 tahun itu dengan logat bahasa daerah.

Untuk lebih tahu tentang sepak terjang Bidan Yosi, kami juga sempat membincangi Ketua IBI Ranting Selangit, Humaida, Selasa (26/6) di Puskesmas Selangit.

Didampingi Kepala Puskesmas Selangit Muhammad Uzer, Bidan Koordinator Siti Parmi, Staf Program KB Lisnawati, dan Kepala TU Puskesmas Selangit Maryani, Humaida masih tampak bersedih.

“Seharusnya hari ini (26/6) kami akan mengadakan halal bi halal. Tapi kami tunda. Karena ada bagian dari keluarga kami (Ade Yosi,red) sedang berkabung. Dia juga sedang sakit. Halal bi halal kami tunda pekan depan mungkin, sembari membacakan Yasiin untuk Alm. Dadangsyah (suami Bidan Yosi),” tutur Humaidah.

Ia yakin, banyak orang prihatin dan ikut sedih dengan apa yang dialami Bidan Yosi dan sang suami. Sebab, selama ini Bidan Yosi dikenal sangat bertanggung jawab dengan tugasnya.

“Di Kecamatan Selangit ini, ada 12 bidan desa. Tiga orang statusnya PNS, delapan orang statusnya Tenaga Kerja Sukarela (TKS) dan empat orang termasuk Bidan Yosi statusnya Tenaga Kerja Sukarela Tetap (TKST). Bidan Yosi ini baru 15 Februari 2018 lalu jadi bidan TKST. Sebelumnya delapan tahun mengabdi sebagai bidan TKS, tanpa digaji sepeserpun. Namun profesionalismenya tidak diragukan lagi,” jelas Humaida.

Selama Bidan Yosi dalam pemulihan di RS Muhammadiyah Palembang, Humaidah mengatakan tugas-tugasnya di Polindes Sayang Ibu dan Anak di-handel oleh sepupu yang juga rekan kerjanya, Bidan Kristian.

Pada perbincangan singkat itu, Muhammad Uzer menambahkan, malam sebelum kejadian, sebenarnya ia telah mendapat mimpi yang mengejutkan.

“Saya mimpi ada orang jebol ruang kebidanan Puskesmas Selangit malam itu. Seperti banyak anggota Polisi mengecek ruangan itu. Kebetulan saat kejadian, handphone saya sedang dipegang anak. Saya tahu baru pagi, saat rekan-rekan di Puskesmas Selangit mengabari saya ke rumah di Majapahit, lalu saya langsung ke RS DR Sobirin,” tutur M. Uzer.

Menurut Uzer, selama ini setiap bidan desa di Kecamatan Selangit memang konsisten menghindari Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB). Saking aktifnya, kata M Uzer, ada 10 Ibu Hamil (Bumil) yang setiap bulan kunjungan ke Polindes yang dikelola Bidan Yosi. Bahkan, untuk ibu yang dibantu persalinannya rata-rata per bulan 5-7 orang.

“Selama 8 tahun ini, di Desa Lubuk Ngin Baru itu zero AKI dan AKB,” tegas dia.

Dengan mata sendu, Uzer mengaku kehilangan bidan teladan. Ia dan rekan kerja di Puskesmas Selangit berdoa untuk kesembuhan Bidan Yosi.

“Saya salut dengan dia. Dalam kondisi tidak bisa apa-apa di ranjang rumah sakit. Dia masih ingat untuk jadwal menyuntik pasien yang menderita Tuberkulosis (TBC). Dari situ saja, kelihatan betul tanggung jawabnya untuk pasien,” imbuh M Uzer.

Ungkapan sama juga disampaikan Bidan Kristian, saat kami bincangi di Polindes Sayang Ibu dan Anak, Desa Lubuk Ngin Baru. Kristian menyebut, putri ketujuh dari Ibrahim itu dikenal cekatan.

“Kondisi yang dialami Yosi malam itu (22/6) memang genting. Demi keselamatan pasien memang jalan terbaiknya langsung dirujuk ke RS DR Sobirin. Dia dan suami, alm Dadangsyah kerap mengevakuasi pasien langsung ke rumah sakit. Ini bukan kali pertama,” tutur Bidan Kristian.

Sementara Ketua IBI Kabupaten Musi Rawas, Hj Suwarti mengakui pengabdian yang dilakukan Bidan Yosi untuk menyelamatkan pasiennya patut diapresiasi. Duka yang dialami Bidan Yosi, merupakan tantangan dan hambatan yang sering dihadapi Bidan Desa saat menjalankan tugas dan tanggung jawabnya.

“IBI Mura berinisiatif untuk menggalang dana, guna mengurangi biaya operasi Bidan Yosi yang mencapai Rp 50 juta. Penggalangan dana dalam waktu dekat akan kita laksanakan ke seluruh pengurus IBI se-Kabupaten Musi Rawas. Dengan harapan, mampu mengurangi biaya pengobatannya,” jelas ibu yang juga menjabat Wakil Bupati Mura ini.

Ia bersama pengurus IBI Kabupaten Mura, akan tetap menyemangati Bidan Yosi yang kini dalam proses pemulihan di RS Muhammadiyah Palembang. (Habis)

Rekomendasi Berita