oleh

Puluhan Pengusaha Beras Ngadu ke Jokowi

JAKARTA – Sekitar 28 orang dari Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Persatuan Penggilingan Padi dan Pengusaha Beras Indonesia (Perpadi) Provinsi DKI Jakarta menemui Presiden Joko Widodo (Jokowi), di Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (24/1). Kedatangan mereka membahas soal stok beras di pasaran.

Menjadi pertanyaan. Kenapa langsung mendatangi Presiden Jokowi. Tidak ke Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita atau ke Menteri Pertanian Amran Andi Sulaiman. Ataukah ini jangan-jangan kedua menteri tersebut memang sudah tidak mampu lagi memberikan solusi terhadap yang dihadapi Perpadi terkait perberasan. Mulai dari harga yang tidak stabil, impor beras atau produksi beras yang relatif menurun.

Sayangnya Jokowi tidak mau terlalu terbuka soal kedatangan Perpadi. Mantan Gubernur DKI Jakarta itu hanya ingin mendengar soal situasi beras di pasaran. “Saya tidak ingin berbicara banyak. Saya ingin mendengarkan situasi dan kondisi mengenai perberasan baik di pasar, di Cipinang maupun di daerah-daerah. Dan kedepannya akan seperti apa,” kata Jokowi.

Usai menyampaikan keterangan kepada awak media, suami dari Iriana itu kemudian melakukan pertemuan secara tertutup dengan DPD Perpadi. Dalam pertemuan itu, Jokowi ditemani Sekretaris Kabinet Pramono Anung dan Koordinator Staf Khusus Teten Masduki.

Ketua Perpadi Sutarto Alimoesa mengungkapkan, isi pertemuan dengan Jokowi bahwa menyampaikan pasokan beras sampai 6 bulan ke depan aman. Selain itu, dia juga mengatakan sekarang ini sudah mulai panen sehingga situasi stok beras akan cukup.

“Bapak presiden juga menyampaikan bagaimana membangun sinergi antara pemerintah, pelaku bisnis, dan petani. Itu yang penting,” kata Sutarto.

Sedangkan Ketua DPD Perpadi Jaya, Nellys membantah jika kedatangan Perpadi ke Istana atas keinginan Perpadi. “Kita ini dipanggil (Jokowi). Kita ingin meyakinkan kondisi pasar, jadi ingin mendapat informasi langsung dari Perpadi, bukan yang lain,” kata Nellys kepada Fajar Indonesia Network (FIN), kemarin.

Dalam pertemuan, sambung Nellys, Perpadi menyampaikan bahwa kejadian yang sangat jarang stok beras stabil di awal tahun. Karena biasanya paceklik. “Kita juga memberi masukan ke presiden. Kita ingin kondisi pasar stabil, kondusif. Jadi harga equilibrium,” ucap Nellys.

Saat Jokowi mengecek langsung ketersediaan stok beras di Gedung Bulog Kelapa Gading, Jakart utara, pekan lalu, Jokowi memastikan pasokan beras lebih banyak hingga akhir 2018 yaini 2,1 juta ton. Dibandingkan periode yang sama tahun 2017 pasokan beras Bulog tersisa 700 ribu ton.

Sementara Pemerhati Pertanian, Juli Yulianto menilai sangat wajar bila Perpadi DKI mengadukan ke Jokowi karena ketika tingkat menteri tidak bisa menyelesaikan persoalan perberasan.

“Satu harapannya adalah bagaimana presiden bisa menyelesaikan segera persoalan perberasan,” kata Juli kepada FIN, kemarin.

Juli mengungkapkan, bahwa sejak kasus PT. IBU banyak pelaku industri perberasan tidak bisa bergerak banyak. Apalagi dengan ancaman kasus pengoposan beras. Padahal dalam dunia perberasan mengoplos atau mencampur beras sudah biasa untuk mendapatkan rasa yang sesuai konsumen.

“Saya melihat pemain di perberasan itu banyak. Dari yang kecil sampai besar, dari pedagang besar hingga kecil, dari perusahaan penggilingan besar hingga kecil, jadi jangan mudah untuk menuduh dengan kata-kata mafia. Coba aja ke pasar atau supermarket kini makin banyak merek beras,” tutur Juli.

Menurut Juli, tidak perlu menghubungkan dengan menilai kinerja menteri, apalagi kemudian dihubungkan isu pergantian dengan sisa waktu pemerintah yang tinggal beberapa bulan lagi.

“(Pergantian menteri) bukan menjadi persoalan penting. Justru presiden berharap dukungan menteri-menteri tersebut untuk bisa terpilih lagi. Apalagi Mendag kan dari partai pendukung utama Jokowi,” ujar Juli.
Saran Juli, yang harus dicermaai pemeirntah adalah kebijakan harga eceran tertinggi (HET) beras diberlakukan. Karena pemberlakukan HET banyak pelaku usaha mengoplos menjadi beras premium karena harganya tinggi. Dengan demikian kalangan pedagang bisa mendapatkan keuntungan lebih.

“Akibatnya kini kita bisa lihat justru beras kualitas medium yang seret dan harganya bergejolak. Karena itu kemudian Perum bulog terus menggelontorkan operasi pasar untuk mengisi beras medium di pasar,” papar Juli.

Kata Juli, Data Bulog menyebutkan saat ini sudah sebanyak 544 ribu ton beras yang digelontorkan untuk operasi pasar. Jumlah ini terbesar selama sepuluh tahun terakhir.

“Apa artinya, Bulog harus mengisi kekosongan beras kualitas medium di pasar, karena beras banyak diolah industri beras menjadi kualitas premium yang harganya Rp12.800/kg,” tukas dia.(din/fin)

Rekomendasi Berita