Puluhan Babi Hutan Mati Mendadak Resahkan Warga

LINGGAUPOS.CO.ID – Puluhan bangkai babi hutan membuat resah warga di kabupaten OKU Selatan. Di antaranya di Desa Damarpura, Tanjung Beringin, Tekana, Bandar Agung, dan Jagaraga, Kecamatan Buana Pemaca serta Desa Sipin, Tanjung Sari, dan Desa Sinar Napalan, Kecamatan Buay Pemaca.

Banyaknya babi hutan yang mati mendadak ini, cukup dikhawatirkan warga. Karena ditakutkan ini berasal virus.

Wayan Tulus Kepala Desa Tanjung Sari, membenarkan perihal peristiwa misterius terhadap fenomena matinya babi secara massal tersebut.

“Ya, Pas saya ke kebun di mana lokasi kebun saya berada di wilayah Kecamatan Buana Pemaca, anak buah saya yang sedang mutil (memetik –red) kopi banyak yang pakai masker karena bau yang begitu menyengat dan mengatakan bahwa di kebun saya, banyak babi yang mati,” ungkap wayan.

“Untuk sementara ini kami hanya bisa mengimbau kepada masyarakat yang lain untuk menghindari mandi di kali serta berburu babi karena kebanyakan babi yang mati secara massal berada di pinggir pinggir kali. Kemudian pula kita belum mengetahui apa penyebab dan seperti apa dampaknya bagi masyarakat,” jelas Wayan Tulus.

Sementara itu, Plt Camat Buana Pemaca Rudi wahono, SPsi, MM membenarkan perihal fenomena misterius tersebut.

Rudi juga menjelaskan untuk kasus kematian babi secara massal ini banyak terdapat di Kecamatan Buana Pemaca yang mana di antaranya meliputi Desa Damarpura, Tanjung Beringin, Tekana, serta Desa Bandar.

“Namun untuk secara klinis jujur kita belum mengetahui apa yang melatarbelakangi penyebab kematian babi secara massal tersebut apakah virus ataukah diracun,” ungkapnya.

“Sekarang ini kami masih menunggu hasil labor. Takutnya toh kalau benar itu disebabkan oleh virus maka akan menjadi dampak bagi masyarakat,” jelasnya.

Terpisah, Kabid Peternakan dan Kesehatan Hewan Julaeka Agustin, STP, MTA mengaku sudah mendapatkan informasi terkait kasus tersebut.

Namun , pihak menjelaskan jika Fenomena mati secara massalnya babi hutan ini sebenarnya bukan hal yang baru umumnya untuk wilayah Sumatera Selatan.

“Sebelumnya pada bulan Januari lalu beberapa Kabupaten di Sumsel yakni Kabupaten Banyuasin sama kasusnya dan setelah dilakukan investigasi sesuai dengan hasil cek laboratorium yang dikeluarkan oleh Balai Veteriner Lampung fenomena ini
disebabkan oleh Virus African Swine Fever (ASF),” ungkapnya.

“Tim kita sudah kelapangan untuk mengambil sample, untuk kita bawa guna cek laboratorium babi. Namun, karena bangkai babi ini sudah membusuk, membuat prosesnya ini sedikit terkendala,” tambahnya. (sumeks.co)

Rekomendasi Berita