oleh

Pulang dari Kebun, Ibu Saksikan Suami Gagahi Putrinya

LINGGAUPOS.CO.ID – Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri (Kejari) Lubuklinggau menuntut Terdakwa Hermansyah (32) dengan hukuman 15 tahun penjara, denda Rp 1 miliar, subsider enam bulan penjara. Tuntutan itu dibacakan JPU Pengadilan Negeri (PN) Lubuklinggau dalam sidang tertutup di Pengadilan Negeri (PN) Lubuklinggau, Senin  (19/4/2021) sekira pukul 11.00 WIB.

Sidang secara tertutup ini, diketuai Majelis Hakim Yopy Wijaya dibantu Hakim Anggota Tri Lestari dan Syahreza Papelma dengan Panitera Pengganti (PP) Wahyudi. Sementara  terdakwa didampingi penasehat hukum dari Posbakum PN Lubuklinggau Riki, SH.

Terdakwa yang merupakan warga Kecamatan STL Ulu Terawas, Kabupaten Musi Rawas (Mura) ini disidangkan karena menyetubuhi Melati (anak tiri terdakwa, red).

JPU Kejari Lubuklinggau, Yuniar dalam tuntutannya mengungkapkan, berdasarkan fakta persidangan terdakwa secara sah melanggar Pasal 81 ayat (3) JO  paal 76 d UU  Republik Indonesia (RI) NO. 35 Tahun 2014 tentang  perlindungan anak. Maka terdakwa dituntut dengan hukuman 15 tahun kurungan penjara, denda Rp 1 milyar, dengan subsider enam bulan penjara.

Yuniar  menegaskan, hal yang memberatkan, karena perbuatan terdakwa merusak masa depan korban, dan terdakwa merupakan ayah tiri korban, sedangkan yang meringankan, terdakwa berterus terang dan sopan dalam persidangan dan terdakwa belum pernah dihukum.

Ketua Majelis Hakim, Yopy Wijaya lalu bertanya kepada terdakwa atas tuntutan tersebut.

Terdakwa secara lisan memohon keringanan. Terdakwa mengaku memiliki keluarga, menyesal, sekaligus berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.

Sementara JPU saat ditanya Hakim tetap pada tuntutan.

Atas permohonan lisan terdakwa, Ketua Majelis Hakim akan memikirkan dan akan melanjutkan sidang Senin (26/4/2021) dengan agenda putusan.

Kronologis kejadian yang menjerat terdakwa, Juni 2020 sekira pukul 06.30 WIB ia tidur di rumah. Sementara ibunya, korban menyadap karet. Hanya saja di rumah itu ada terdakwa.

Hari itu pula, kata Melati, ayah tirinya itu membekap mulutnya, dan memaksanya melayani nafsu berahi. Jika tak dilayani, terdakwa mengancam akan membunuh korban. Semula korban berusaha melawan dan menolak. Karena kalah tenaga dan takut dengan ancaman terdakwa, akhirnya Melati pasrah.

Usai melampiaskan nafsunya, terdakwa  kembali mengancam akan membunuh korban, apabila korban menceritakan perbuatannya itu kepada ibunya (istri terdakwa, red) atau keluarga ayah kandung korban dan orang lain.

Setelah berhasil melakukan aksi pertamanya, maka setiap ada kesempatan terdakwa melakukan perbuatan yang sama terhadap korban, dengan ancaman akan membinasakan korban kalau tidak menuruti kemauannya. Sehingga perbuatan itu dilakukannya hingga empat kali, dan kejadian itu dilakukan korban setiap istrinya sedang pergi ke kebun untuk menyadap karet.

Sementara itu ibu korban  menyatakan  kasus ini terungkap Rabu (30/12/2020) pukul 17.00 WIB. Saat itu ia pulang dari kebun. Betapa terkejutnya sang ibu, melihat suaminya sedang berhubungan layaknya suami istri dengan anaknya dalam kamar korban.

Begitu perbuatannya diketahui istrinya, terdakwa langsung lari ke kebun. Karena tidak terima, ibu korban langsung melaporkan perbuatan suaminya ke Polres Mura setelah itu diringkus unit PPA Satreskrim Polres Mura.(*)

Sumber: Harian Pagi Linggau Pos

Rekomendasi Berita